Time Machine

Okey guys… gue cuma bisa ngasih oneshoot dulu.
Warning!!! Yang mau baca ini tolong siapin lilin. Ini tema-nya “gelap”. *lah
Dan buat para readers yang hatinya lembut jangan coba-coba ya. Hahahaha…
.
.
.
Aku membuka mataku…

Kau menatapku dalam diam..

Tatapanmu  sarat akan kesedihan, air mata mengalir dari sudut matamu, terisak dan sesekali tersedak karena air mata, tanganmu mengelus leher jenjangmu yang terlihat memerah.

Kau…. Siapakah dirimu?

Aku menatapmu, kau terlihat sangat cantik saat ketakutan. Kau seperti sebuah boneka porcelen yang baru saja rusak.

Tanganku bergetar dan air mataku mengalir. Apa…. Apa yang telah kulakukan?

Siapa aku?

Apa yang telah kita lakukan?

Kali ini aku menatap mata indahmu, kau terlihat begitu ketakutan.

-15 Oktober 2015-

Aku tengah mengelus lembut rambut pirangmu, kau mengernyit namun tak jua berniat membuka matamu. Kau terlihat begitu cantik meski dalam keadaan terlelap.  Mataku tertuju pada bibir merah mudamu yang terlihat begitu menggoda.

“A-Amber…” kau bergumam begitu merasakan pergerakan tempat tidur saat aku berusaha untuk mengecup bibirmu.
Ahhh… Amber… Namaku adalah Amber..

-16 Oktober 2015-

Kau terlihat cantik seperti biasanya. Mata indahmu kini dibingkai dengan sebuah kacamata besar. Kau terlihat begitu serius mengerjakan sesuatu  dengan sebuah pensil dan selembar kertas putih di atas meja.

Aneh… Aku merasakan perasaan aneh yang entah datang dari mana. Aku merasa semua ini… Semua ini tidaklah nyata. Aku menoleh ke arah jam yang bertengger di dinding, 10.00. Suara detakan jarum jam terdengar semakin keras, terlalu keras sehingga membuat kepalaku sakit. Dan kemudian aku tersadar, jam tangan yang tengah kukenakan berputar ke arah yang salah. Jam tanganku berputar ke arah sebaliknya. 9.59.

“Kemarilah~ Aku ingin kau mengapresiasikan karya terbaruku. Suatu hari nanti aku akan menjadi seorang pelukis terkenal dan orang-orang akan mengenalmu sebagai sumber inspirasi utama pelukis terkenal bernama Jung Krystal ini.” Ucapmu diselingi dengan gelak tawa seperti seorang gadis kecil.

Krystal…

My Krystal…

Aku menghela nafas lega dan berjalan ke arahmu. Dan aku baru menyadari jika tanganku dipenuhi lebam. Rasa nyeri begitu terasa saat aku mencoba untuk mengangkat lenganku. Menghiraukan rasa nyeri yang terasa di kedua lengan dan leherku lalu berjalan ke arahmu.
Kau memperlihatkan hasil karyamu itu sambil tersenyum dengan bangga padaku. Garis hitam yang ada di kertas itu perlahan menghilang dan membuat kertas itu kembali berwarna putih. waktu telah menghapusnya sebelum aku sempat melihatnya. waktu benar-benar berputar terbalik.

“Oh… Gambarmu…. Bagus, Krystal. Apa yang kau gambar?” aku bertanya dengan canggung, aku benar-benar tak tau apa yang harus kukatakan.

“Hmm… Abstrak… Kau tau jika aku suka sekali dengan lukisan abstrak.  Itu adalah representasi dari cinta kita. Semua warna dan bentuk yang aku lukis… semua itu… mengungkapkan bagaimana aku melihat kisah cinta kita!” kau tersenyum lebar saat mengatakan itu.

Kosong….

Lembaran yang kau pegang adalah lembaran kosong…

-20 Oktober 2015-

Kau tengah duduk di depanku, di sebuah café. Aku tak tau apa nama café ini. aku tak mengingatnya. Aku menatapmu yang mulai menyesap segelas kopi sambil menangis dalam diam. Beberapa pelayan yang lewat terlihat berjalan dengan gerakan lambat dan sesekali bergerak ke arah yang terbalik. Aku melihat air yang ada di dalam gelas mengalir ke atas, kembali kedalam sebuah botol. Benda yang terjatuh kembali ke tempatnya semula.

“Apa kau menangis, Krystal?” akhirnya aku memutuskan untuk bertanya.

Kau menatapku dengan penuh kebencian, kepedihan, dan kesedihan. Aku tahu… Aku tahu jika aku telah melakukan sesuatu yang sangat buruk padamu.

“Apa kau bercanda? Kau—“

Kau menghela nafas dan membuang wajahmu ke arah lain. Nada bicaramu dan tatapan matamu membuat jantungku terasa begitu sakit. Aku mencoba untuk mengelus pipimu namun tangan halusmu menepis tanganku dan tangismu semakin menjadi.

“Kumohon.. Maafkan aku.. Aku mencintaimu, Krystal.” Ucapku dengan senyum yang  dipaksakan. Aku bahkan tak begitu yakin jika aku benar-benar mencintaimu. Aku kira hubungan kita baik-baik saja. Sepertinya.. Hubungan kita tidak dalam keadaan baik-baik saja.

“Kau mencintaiku? Kau mencintaiku?!”

Ucapmu sambil menundukkan kepalamu dan tersenyum pahit. Aku mengernyit namun berusaha agar tetap tenang. Tiba-tiba saja kau berdiri dan mengambil gelas yang ada di atas meja. Kau melemparkannya begitu saja ke lantai.  Kau menatapku seakan-akan ingin membunuhku.

“Kau dan semua bualanmu. Kau bilang kau mencintaiku. Tapi nyatanya kau sama sekali tidak mencintaiku!”
Aku berdiri ketika aku sadar jika orang-orang di sekitar kita tengah menatap ke arah kita.

“Krys.. Tolong… Tolong katakan padaku apa yang terjadi?” ucapku, aku terus berfikir untuk menemukan cara agar kau bisa tenang. Namun aku tidak cukup berani untuk menyentuhmu lagi. karena aku yakin kau pasti akan menepisku lagi.

“Aku terus bertanya dimana kau semalam dan kau terus saja berbohong! Kau BRENGSEK!”

Kumohon…  Jangan panggil aku begitu.

“Tapi aku—“

“Kau apa?! Kau itu hanyalah seorang manusia menjijikkan yang menyembunyikan jiwa kotormu itu di balik senyumanmu yang menawan. Tidak ada yang mengenalmu lebih dalam selain AKU. KAU memang BRENGSEK!”

Jangan…  Hentikan…

“Krys.. Aku bersumpah jika aku sama sekali tidak berbohong padamu.”

“kini kau mengatakan kebohongan lagi. Apakah begitu sulit mengatakan dimana kau semalam? Kau memang brengsek.”

Hentikan..

“Aku tak bisa mengatakannya padamu karena aku memang tidak mengingatnya! Aku tak tahu dimana aku semalam! Kau tidak bisa menyalahkanku begitu saja! Aku… Aku kehilangan ingatanku.”

“Lihat… kau berbohong lagi. Kau memang tidak lebih dari seorang pembohong yang bre—“

“BERHENTI MEMANGGILKU BRENGSEK!”

Aku berteriak,  dengan paksa aku meraih pundakmu dan mengguncangkan tubuhmu dengan kasar. Tubuhku terasa begitu panas. Dan rasa nyeri pada kedua lenganku mulai terasa kembali. Lagi.. aku menghiraukan rasa nyeri itu. aku kembali menatap matamu. Tatapan matamu seperti orang yang siap menyakiti bahkan membunuh.

Brengsek… Brengsek… Kata-kata itu terus berputar di dalam kepalaku, kulitku terasa seperti terbakar. Kau.. Kau seharusnya jangan memanggilku seperti itu. Jantungku berdetak dengan cepat seperti akan meledak kapan saja. Amarahku semakin menjadi. Aku ingin mendorong tubuhmu dengan keras agar kau memohon ampunan dariku. Aku tahu kau juga ingin melakukan hal yang sama. Tapi kau.. kau tak akan melakukan itu di depan publik. Kau ingin membuatku menjadi satu-satunya orang jahat disini.  Kau lah yang mengenakan topeng. Kaulah yang brengsek.

Kau menatapku, sesekali terbatuk dan tubuhmu bergetar hebat dengan nafasmu yang memburu. Kau seperti gadis kecil yang lemah dan dipaksa untuk menuruti perintah ayahnya.

Aku melepaskanmu lalu memandangi kedua telapak tanganku.

Aku tahu.. Aku tahu semua ini telah terjadi. Ini adalah kenyataan, semua kejadian yang aku lalui dan masa lalu kita yang sesungguhnya bercampur menjadi satu. Aku bisa merasakannya. Amber yang hampir menyakitimu hari itu, aku bisa merasakan kemarahannya. Tapi disaat bersamaan, aku.. aku tak bisa mengingat jika aku adalah orang itu.
Apakah aku ini? Aku ini adalah Iblis….

Krystal…

My Sweet Krystal..

-17 Oktober 2015-

Matahari bersinar begitu cerah. Sinarnya menyusup dari dedaunan pohon. Hari ini adalah hari yang cerah. Kita tengah berjalan, berpegangan tangan dalam diam. Semua teriakanmu, air matamu, dorongan untuk menyakitimu masih terekam dalam ingatanku. Adegan terakhir yang kita lalui masih menggangguku. Semakin membuatku bingung. Namun berada di dekatmu terasa begitu hangat. Aku yakin jika hari-hari kita tak selalu dipenuhi dengan kekerasan.

“Krystal…” ucapku dengan suara yang bergetar.

“Hm?” jawabmu dengan wajah terkejut.

“Oh.. tidak apa-apa.” Aku menampilkan sebuah senyuman lebar, aku meyakinkan diriku sendiri jika kini kita adalah “diri” kita yang sebenarnya.

Kau membalas senyumanku dengan senyuman yang begitu manis.
Aku memandang ke arah sekitar kita, aku merasa jika aku pernah datang ke tempat ini bersamamu, namun aku sama sekali tidak ingat kapan kita ke tempat ini.

Aku mengelus pelan bagian belakang leherku. Setiap kali aku menggerakkan kepalaku aku merasa nyeri di bagian itu. Aku tahu jika pernah terdapat lebam pada bagian leherku ini.  semakin dalam aku mencoba mengungkap masa laluku, semakin banyak luka dan lebam yang ada di tubuhku. Aku.. Aku mendengar suara mu. “Kau akan baik-baik saja, my love.
“Apa yang kau fikirkan?” kau bertanya secara tiba-tiba, membuatku tersadar dari lamunanku.

“Uh… Aku sedang memikirkan…  pertemuan pertama kita.”

Aku tak bisa mengingat apa pun yang terjadi di hari itu tapi aku tahu kau pasti akan menceritakannya, menceritakan kisah tentang kita, atau apapun itu. aku membutuhkan itu, aku membutuhkannya untuk mengingat sesuatu. Aku.. Aku membutuhkanmu, Krystal.

“Oh..” ucapmu diselingi gelak tawa. “Aku tak pernah berfikir jika aku akan jatuh cinta dengan cara seperti itu..” Kau memandangi langit biru dan tersenyum hangat. “Aku benar-benar berterima kasih padanya, dialah yang mengenalkan kita berdua. Aku tengah mengenakan dress putih kesukaanku dan aku sama sekali tidak mengenal orang lain selain dia di pesta itu. dan dia mengenalkanmu padaku dan–.”

-18 Oktober 2015-

Aku membuka mataku..

Gelap…

Aku ingin berteriak..

Setiap kali aku akan menemukan hal baru, aku selalu ditolak dan dilemparkan ke tempat lain.

Aku mengerjapkan mataku.. sekali… dua kali..

Dimana aku? Aku terbaring di sebuah tempat tidur. Tempat tidur yang sama saat pertama kali aku membuka mataku. Aku menggerakkan kepalaku yang terasa pegal dan itu hanya membuat rasa nyeri di leherku semakin terasa. Rasa sakit pada lenganku pun semakin terasa. Aku menoleh ke arah jam dinding, 01.00. Aku melompat dari tempat tidur, aku bisa mendengar suara gelak tawamu. Kau pasti ada di ruang tengah.

“Semua ini sudah terjadi. Aku datang dari masa depan dan kita tengah berada di masa lalu.” Bisikku sambil menarik nafas dalam.

Perlahan aku berjalan menuju ruang tengah dimana kau berada.

“Aku dan Krystal tinggal bersama, kami saling mencintai. Benar-benar saling mencintai. Dia selalu ada disampingku tapi aku selalu merasa jika ini bukanlah tempatku. Kami bertemu di sebuah pesta yang diadakan oleh seorang teman dan dia mengenakan gaun putih kesukaannya saat itu.” Aku meletakkan jari-jariku pada gagang pintu.

“Mungkin.. Aku ini adalah orang yang kasar dan berbahaya.”

Aku mengulang kalimat-kalimat itu di dalam kepalaku, mengulangnya seperti tengah membaca mantra. aku mencoba untuk tidak kehilangan akal sehatku.  Ada beberapa potongan puzzle yang belum aku temukan jadi aku harus mengambil alih situasi dan mempelajari segala sesuatu yang terjadi.  Semakin aku mendapatkan kemajuan dalam mempelajari ini semakin cepat adegan-adegan itu berputar.  Adegan pertama saat aku membuka mataku, adegan saat aku mengelus kepalamu di tempat tidur bertahan hingga sehari, adegan di café dan adegan terakhir saat di taman hanya bertahan beberapa menit.

Perlahan aku berjalan menyusuri koridor menuju ruang tengah, aku melihatmu. Kau tengah duduk di sofa sambil menonton televisi , tangan kananmu menggenggam sebuah handphone putih.

“… Aku tahu itu sangat menyenangkan, tapi aku ini wanita yang sibuk. Aku tak bisa setiap hari pergi ke bioskop untuk menonton film! Aku harus pergi bekerja! Tidak seperti dirimu yang pemalas.”

Hening…

“Oh.. tidak.. Dia tengah tertidur. Tak masalah… Baiklah… Hari sabtu besok aku akan sendirian, tidak .. tidak usah khawatir.”

Aku tak begitu yakin apa yang harus aku lakukan. Percakapanmu di telepon itu bisa diartikan dengan banyak kemungkinan. Aku tak ingin mengambil resiko dengan kalimatmu yang tidak lengkap dan membingungkan itu. aku melangkah mundur, mungkin aku tak seharusnya berada di sini, mungkin aku seharusnya masih tertidur di kamar. Namun tanpa kusadari, tubuhku bergerak dengan sendirinya, melangkah mendekatimu. Aku mengerti jika Amber yang dulu mengambil alih tubuh ini. Mungkin ia datang untuk menghentikanku dalam mengubah masa lalu. Semakin dekat langkahku darimu, kakiku mulai terasa sakit. “Berdirilah, Amber! Berdirilah meskipun lututmu itu terluka!” Aku dapat mendengar suaramu di dalam kepalaku.

“Sepertinya Amber sudah bangun.” Ucapku, aku tengah berdiri dibelakangmu, menatapmu dengan tajam.

Kau terkejut dan hampir saja melempar handphone putih mu saat kau menoleh.

“OH! OH TUHAN! Kau mengagetkanku, Amb.. Kufikir.. Kufikir kau sedang tidur.” Ucapmu sambil mengelus dadamu dan mematikan sambungan telepon itu, meletakkan handphone putih itu di atas sofa. Suasana disini terasa begitu panas.

“Siapa yang menelpon? Mengapa kau menutupnya begitu saja saat aku datang?”

Suaraku… terdengar begitu menyeramkan. Amber yang dulu kini tengah mengambil alih lidahku.

“Teman… Hanya seorang teman.. Ia mengajakku bertemu hari sabtu ini, bukankah kau akan mengunjungi kedua orang tuamu hari sabtu?”

“Oh.. Benarkah? Hanya seorang teman? Kau pembohong! Katakan padaku, Krys!”  ucapku setengah berteriak. Aku mengambil handphone putih yang tergeletak di atas sofa lalu melemparkannya ke dinding. Jantungku berdetak dengan lambat. Sebuah seringai licik menghiasi wajahku.

“WHAT THE HELL?!” kau berteriak dan menghampiri handphone-mu yang kini sudah menjadi kepingan. “Apa kau sudah gila? Dia hanya temanku! Kau memang sudah gila! KAU-“ aku tidak mendengarkan kalimat selanjutnya yang akan kau katakan dan aku mencengkeram pundakmu, mendorongmu ke tembok. Dan aku terus saja tersenyum.

Pertengkaran ini berbeda dengan pertengkaran saat di café itu. aku.. aku dalam keadaan tenang, aku sama sekali tidak merasa marah namun dorongan untuk menyakitimu semakin besar, semakin gelap. Mungkin karena sekarang ini kita tidaklah di depan publik. Sekarang hanya ada kita berdua.

“Pukul aku! Pukul aku! Jika jari-jarimu patah, aku tak bisa lagi mengobatimu.” Jawabmu dengan suara yang pelan. Kau terlihat sama sekali tidak ketakutan. Tidak bergetar dan tidak menangis. Kau hanya menatapku, menungguku untuk melakukan sesuatu. Kau… Kau terlihat seperti bukanlah dirimu. Kau terlihat begitu berbeda.

“Tidak! Aku tidak akan memukulmu. Aku begitu menyukai wajahmu dan aku takkan bisa memukulmu.”  Ucapku sambil mengelus lembut pipimu.

Aneh… Aku memutuskan untuk tidak memukulmu karena kalimat terakhir yang kau ucapkan.

Amber yang dulu, disamping dorongannya untuk menyakitimu, sikap kasarnya, dan kekuatannya, disamping semua itu ia takut akan sesuatu. Dan aku tak tau apa itu.

-19 Oktober 2015-

Aku membuka mataku dan secercah cahaya yang masuk dari sela jendela menarik perhatianku. Aku terbangun di atas sebuah tempat tidur. Bukan tempat tidur milik kita, Krys. Ini.. bahkan bukanlah kamar kita. Aku menoleh ke arah samping. Auchh.. leherku terasa begitu sakit. Rasa sakitnya berlipat ganda.
Matanya masih tertutup rapat. Ia masih terlelap. Tapi… dia bukanlah dirimu, Krys.

Aku mengelus pipinya, ia merasa terganggu dan mulai membuka matanya.

“Hey”. Ucapnya dengan suara yang terdengar serak. Ia tersenyum malu dan memelukku dengan erat. Aku bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak dengan cepat.

Ia mengelus pundakku dengan lembut. Sentuhannya membuat tubuhku terasa panas. Aku tersadar jika kami tidaklah mengenakan sehelai benang pun kecuali selimut putih yang menutupi tubuh kami.

Seorang penghianat..

Aku adalah seorang penghianat?

Apakah karena gadis ini kau menangis saat di cafe itu, Krys?

Aku berharap kau ada di sini, Krys. Aku takut. . Takut akan diriku sendiri.
Aku adalah seorang pemarah, pembohong dan seorang penghianat. Aku benar-benar menjijikkan.

“Bagaimana tidurmu?” Tanyaku dengan canggung. Aku harus tau siapa gadis ini.

“Hmm..  nyenyak. Thanks to you. You wore me out.” Ucapnya dengan senyum yang menggoda. Ia semakin mengeratkan pelukannya padaku. “Kau harus datang ke sini lebih sering lagi. I miss you so much. ” bibir merah mudanya mengecup bibirku dengan lembut.

“Siapa aku untukmu? Apa kau anggap aku sebagai orang jahat? Aku..  penghianat?” Bisikku pelan setelah mendorongnya untuk menghentikan ciuman kami.

Ia masih berusaha untuk terus menciumku. She’s pretty aggressive.

“Hm… ya.” Ucapnya. “Kau adalah yang paling jahat.”

I’m The Worst...

Aku menghianatimu, Krystal. Aku menghianatimu demi gadis ini.
Aku mendorong gadis ini lalu duduk di pinggir tempat tidur, aku mencengkeram kepalaku dengan keras. Aku… aku tersesat. Kini aku tau orang seperti apa aku dulu. Aku benar-benar ingin bangun dari mimpi buruk ini.

Aku ingin kembali ke masa dimana aku seharusnya berada. Aku tak sanggup lagi. Aku benar-benar hancur. Jika ini terus berlanjut mungkin aku akan benar-benar menjadi gila.

“Ada apa?” Ia bertanya dengan nada terkejut.

Aku menghiraukannya dan lebih memilih memandangi jendela.
Aku mengerjapkan mataku dan berusaha untuk menahan air mataku.

“Kau membuatku khawatir. Apa kau baik-baik saja?” Tangan mungilnya melingkar pada pinggangku, ia merebahkan kepalanya pada pundakku. Sesekali mengecup bahu dan pipiku.

Aku harus tetap fokus. Aku harus mencari cara bagaimana aku bisa mengetahui namanya tanpa dicurigai.
Ia terus memelukku dengan erat dan tanpa sengaja menyentuh lenganku. Auchh… Lenganku benar-benar terasa sakit. Lebih dari sebelumnya. Kini leher dan lututku pun semakin terasa sakit.
Aku merintih kesakitan.

“Ow.. maaf.. aku benar-benar minta maaf, Amber!”

Lenganku penuh dengan lebam. Bahkan warna kulit pada lenganku sudah berubah menjadi keunguan. Aku merasakan sensasi aneh pada tulang rusukku. Sesuatu pasti terjadi pada tulang rusukku.

No.. don’t worry… I’m okay. I’m okay..

Ia mengecup pipiku.

“Aku selalu berfikir. Apa kau benar-benar manusia? Kurasa kau adalah malaikat. Siapa kau sebenarnya?”

Aku… aku memanglah seorang penghinat. Lihat saja bagaimana aku begitu lancar merayu gadis ini.
kulihat pipinya merona.

“Amber!”

“Bagaimana kau memperkenalkan dirimu jika suatu saat nanti kita menikah?”

Ia terkikik.

“Victoria Liu.”

-14 Oktober 2015-

Aku kembali membuka mataku. Victoria. Gadis itu sudah tak ada di sini lagi. Namun aku masih bisa merasakan hangat tubuhnya dan juga bisikkan lembutnya.

Aku memandangi sekitarku. Dan aku tersadar jika aku kembali ke ruang tengah rumah kita, Krys. Tapi kau tak ada di sini. Aku sendirian.
Hujan… aku bisa mendengar suara hujan. Aku berlari ke arah jendela. Apa yang kulihat kali ini sangatlah tidak masuk akal. Rintik air hujan yang seharusnya jatuh ke bumi kini terbang ke atas, kembali ke awan hitam.

Namun, ada yang lebih menarik perhatianku. Sebuah payung berwarna biru. Apakah itu kau? Aku membuka jendela dan menghiraukan rasa sakit yang kurasa bahkan hanya ketika menggerakkan tanganku.

“KRYSTAL!”

Tak ada jawaban. Aku terus menatap payung biru itu hingga seorang gadis datang dan ikut berteduh dibawah payung itu. Aku berlari menuruni tangga, hampir terjatuh karena lututku yang sakit terasa semakin melemah.

Aku keluar dari dalam rumah dengan nafas yang memburu. Kini di depanku berdiri dua orang yang langsung dapat kukenali.

Krystal..

Victoria..

Rintik hujan semakin membuat tubuhku basah.

“Krystal!” Aku berteriak lagi. Aku berdiri di depan kalian. Tapi kalian berdua terlalu sibuk dengan dunia kalian sendiri. Victoria memeluk pinggangmu dengan mesra.

Aku tak mengerti apa yang tengah terjadi……

Ia mengecup bibirmu.

Hatiku benar-benar terbakar…

Terbakar dan hancur berantakan…

“Kemana Amber?” Victoria bertanya dengan senyum licik di wajahnya.

“Aku sudah bilang. Ia pergi ke sebuah pesta bersama rekan kerjanya. Kau tak perlu khawatir.”

“Aku tahu. Aku hanya ingin memastikan. Kita tak boleh terlalu lama di sini. Di sini tidak aman. Kita harus segera pergi dari tempat ini. Film-nya memang baru akan dimulai satu jam  lagi. Tapi aku tau kau menyukai hujan. Jadi mari kita berjalan santai dan menikmati momen yang romantis ini.” Jawab Victoria yang kini bermain dengan ujung rambut pirangmu.

Hantu… aku adalah hantu.. kalian berdua tak bisa melihatku. Aku tau itu dan tanpa sadar aku kembali menitikan air mata.  Seorang teman yang mengenalkan kita adalah gadis itu, Victoria. SEKARANG AKU MENGINGAT SEMUA YANG TERJADI PADA HARI KITA BERTEMU. Aku tak tahan lagi. Aku ingin mati saja.  Seluruh tubuhku terasa begitu sakit. Tubuhku penuh dengan luka dan lebam. Bahkan tangan kiriku tak bisa lagi kugerakkan.

Ini benar-benar gila. Aku bukanlah bagian dari kejadian ini. Aku Tak seharusnya ada di sini, melihat kejadian demi kejadian dalam hidupmu yang tak seharusnya kulihat. Aku terjebak dalam mesin waktu yang rusak. Aku tak seharusnya berada di sini. Kalian berdua berjalan dan sesekali tertawa bersama. Dan aku hanyalah hantu yang mengikuti kalian. Aku menunduk. Nafasku terasa begitu berat, bergetar karena menahan rasa sakit. Aku berharap aku bisa menghilang.

“Hey..  Apa yang terjadi pada mata kananmu?” Tanya Victoria sambil menggenggam erat tanganmu.

“Amber..” ucapmu dengan nada sendu. ” Aku dan Amber bertengkar kemarin dan kau tau….”

“Oh tuhan! Mengapa kau tak mengatakannya sejak awal,  Krys?! Harusnya kau menelponku saat itu. Kau tidak bisa tinggal bersamanya lebih lama lagi. Kau tak bisa tinggal bersama seorang monster! Aku akan menjagamu! Dia itu berbahaya, Krys.  Terakhir kali adalah tanganmu dan sekarang matamu.  Aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku bersyukur aku tak pernah berhubungan dengannya lagi. Aku tau jika dia adalah teman yang buruk. Tapi aku tak menyangka jika ia juga kekasih yang buruk untukmu.”

Hening… aku memandangi mata kananmu. Matamu lebam. Berwarna biru seperti lengan kiriku.

Apa yang telah kulakukan padamu, Krys?

“Apa kau masih mencintainya?” Ucap Victoria diselingi dengan helaan nafas dalam.

Aku.. aku sangat ingin membunuhnya, Victoria. Gadis menjijikkan itu. Aku ingin membunuhnya! Dia hanya bermain-main dengan kita. Ia bercinta dengan kita berdua. Menyebarkan benih keraguan pada hati kita. Menyelinap kedalam fikiran kita bahkan kamar kita. dan sekarang ia berpura-pura mencintaimu? Meyakinkanmu untuk meninggalkanku?

“Aku memang masih mencintainya. Dia memang membuatku ketakutan tapi aku mencintainya. Apa aku ini bodoh?” Jawabmu yang terdengar begitu melankolis. “Tapi aku sudah membuat keputusan. Kumohon.. kau harus mendukungku… dalam waktu 30 hari.. aku akan meninggalkannya. Aku janji!”.

Gelap

-14  November 2015-
Di dalam kamar mandi rumah kita. Aku tengah memandangi pantulan diriku sendiri di depan sebuah kaca.

Hening..
.
.
.
.
Aku harus segera membuka jendela dan melompat. Itulah satu-satunya yang terlintas di fikiran ku agar aku bisa keluar dari mesin waktu ini. Aku tak bisa mencapai jendela. Aku berjalan ke arah jendela namun jendela itu seperti berjalan meninggalkanku. Victoria… aku tak bisa berhenti memikirkannya. Gadis licik itu.. Dialah iblis yang sebenarnya.
Dia mempermaikan kita berdua, memanipulasi kita, dan membawa kita pada situasi yang kacau, yang dipenuhi kekerasan, darah dan air mata.

Aku terus menyakitimu, Krystal. Akulah yang membuat matamu lebam. Namun kau terus saja memaafkanku. Setiap kali aku memukulmu, kau selalu memaafkanku. Aku mencintaimu, Krystal. Namun aku tak cukup mampu menyayangi dan menjagamu. Victoria benar. Aku memang kekasih yang buruk. I’m the worst.

Aku menggerakkan kepalaku sepelan mungkin. Aku tak ingin membuat lukaku semakin parah..

Aku menahan nafasku.

Aku benar-benar ketakutan.

Sesuatu tengah terjadi namun aku tak mengerti apa. Panik. Aku memerhatikan sekelilingku. Bertanya-tanya tentang apa yang harus ku lakukan.

Mesin waktu ini benar-benar rusak.

Aku menangis.. namun aku tak tau mengapa aku menangis.

Aku memandangi pintu dan bertanya pada diriku sendiri, haruskah aku membuka pintu itu? Krystal… apakah kau tengah menggambar di ruang tengah? Berciuman dengan Victoria? Atau menangis di dalam cafe? Aku tak ingin mengetahuinya. Amber yang dulu.. Amber yang tengah dikuasai amarah, Amber yang mengerikan, aku bisa merasakannya sekarang. Ia berada dalam tubuh ini. Bergetar ketakutan.. Dia takut akan sesuatu yang akan menghampirinya.

Tok tok tok

“Kau takkan bisa lari dariku~”

Sebuah suara yang terdengar seperti suaramu. Ah.  Itu memanglah suaramu. Aku tak mengerti apa maksud perkataanmu namun jantungku berdetak dengan cepat. Kudengar kau membuka pintu yang terkunci. Mengapa aku mengunci pintu kamar mandi ini? Kau muncul dengan senyum yang lebar.

I… Found… You~~~” ucapmu dengan riang. “Apa Kau fikir bisa lari begitu saja dariku, my love?
Senyummu menghilang dan aku melihat wajahmu yang terlihat seperti seseorang yang siap membunuh. Kau bukanlah dirimu lagi! Lebam di matamu sudah menghilang. Kini kau berubah menjadi Krystal yang membuatku ketakutan.

“JANGAN PERNAH BERANI MEMBOHONGIKU, AMBER!”

kau berteriak, menamparku dengan keras. Aku mundur beberapa langkah dan menyentuh pipiku yang sudah berubah menjadi merah. Sakit…. “JANGAN BERBOHONG!”  kau berteriak lagi.

Dan kau mendorongku.

Aku terjatuh…

Dalam gerakan lambat aku terjatuh.
Aku bisa melihat dinding putih berputar di sekitarku. Aku melihatmu.. matamu penuh dengan kegilaan. Kepalaku menghantam wastafel,  dan semuanya berubah menjadi hitam beberapa saat. Tubuhku jatuh dan menghantam bathtub. Aku berteriak kesakitan, memegangi lengan kiriku. Aku terbaring di atas lantai tak berdaya.

“Kau tak perlu menangis. Kau akan sembuh dalam beberapa minggu.” Ucapmu yang kini memandangku. Kalimat ini… akhirnya aku mengerti.. akhirnya aku tahu dari mana semua luka dan lebam pada tubuhku. Krystal.. lenganku.  Leherku. Lututku. Tulang rusukku.  Kaulah yang membuat semua luka ini.

Darah mengalir di sekitar lenganku. Aku terkejut. Dan saat melihat darah yang semakin banyak aku semakin panik. “Apa yang telah kulakukan?” Ucapku disela tangis. “Mengapa kau berbuat seperti ini padaku?”  Aku ketakutan. Aku takut padamu.

“Tidak ada..” ucapmu dengan suara yang bergetar, kau menutup mulutmu seperti tengah menahan tangis. “Kau tak melakukan hal yang salah, Amber..” ucapmu lagi, kau menangis dalam diam. Kau membuang wajahmu dariku. Kau menatap pantulan dirimu pada cermin lalu menarik nafas dalam.

“Apa kau tau jika cermin bisa memperlihatkan sebagian dari jiwa kita? Sebenarnya kau tidak pantas diperlakukan seperti ini, my love. Aku.. aku hanya bersikap seperti seharusnya iblis bersikap.”

Hal terakhir yang kulihat adalah… kau memukul mata kananmu dengan tanganmu sendiri.

***
Aku menarik nafas…

Aku membuka mataku…

Kita saling memandang….

Siapa aku? Siapa kau? Siapa kita? Iblis.. yang menghancurkan diri kita sendiri yang sebelumnya begitu saling mencintai.

Krystal…

Orang sepertimu tak pantas berada di surga. Kau bahkan tak pantas untuk hidup di dunia.

Tanganmu mencekik leherku. Tatapan matamu adalah tatapan seorang pembunuh. Aku tak bisa lagi bernafas.
Ahh.. “dalam waktu 30 hari aku akan meninggalkannya.” Jadi inilah maksud perkataanmu pada Victoria.

Bukankah orang bilang jika kau bisa melihat semua kejadian penting dalam hidupmu ketika kau akan mati? Mesin waktu ini… akhirnya aku tau mengapa aku terjebak di dalamnya.
.
.
.
.
END

Wkwkwkwkw… gue lagi nyoba gaya nulis baru. Gimana menurut kalian? Btw, Ini terinspirasi dari MV 4 walls. Pertama kali gue liat MV itu gue langsung kepikiran musti bikin ff kayak gitu. Hahahah.. Cuma bedanya ini lebih “gelap” temanya.
Oh iya… GOMENASAI!!! MIANHEEE!!!  I’M SORRY!! MAAF!!!  GUE BELUM BISA APDET FF YANG CHAPTERED!!! GUE SIBUK BANGET! BENERAN DEH!
See you later~~~

With love,
@llamaunyu
:*

THE FADING MEMORIES

Ini spesial buat yang kangen KryBer… :3

.

.

.

.

.

Apa yang paling penting bagi manusia di dunia ini?

Nafas?

Cinta?

Makanan?

Apa kau tahu apa yang membuatmu tetap hidup tanpa Makanan, Cinta bahkan walaupun kau tak lagi memiliki Nafas adalah…

Kenangan…

Tanpa kenangan, kau sama saja tak pernah hidup..

*

*

*

Amber duduk di pojok kelas sambil mendengarkan musik dari headset berwarna biru kesukaannya. Kelas itu memang sudah kosong, hanya ada dirinya sendiri di sana. Ia memandang langit melalui jendela di sampingnya.

“Sepertinya langit masih ingin menangis lebih lama.” Ia bangkit dari kursinya lalu berjalan meninggalkan ruangan kosong itu.

Kebetulan saja hari ini ia membawa sebuah payung. Payung yang berwarna senada dengan rambutnya yang merah. Apartemennya tak terlalu jauh dari sekolahnya. Ia hanya perlu berjalan kaki selama 15 menit untuk sampai ke sana.

Ia mengeratkan syal birunya lalu membuka payungnya dan mulai berjalan di tengah guyuran hujan yang masih turun dengan derasnya. Setelah melalui belokan pertama dari sekolahnya, ia melihat seseorang tengah berdiri tanpa sebuah payung yang membuatnya basah kuyup. Perlahan Amber berjalan mendekat ke arah sosok itu berdiri.

Tingginya tak terlalu jauh dengan Amber. Gadis itu setinggi telinganya. Rambut pirangnya tergerai dan sekarang sudah basah karena air hujan. Kulit putihnya terlihat begitu pucat. Bibirnya terlihat membiru. Sudah berapa lama gadis ini berdiri di sini? Satu hal yang menyita perhatian Amber adalah seragam yang ia kenakan. Seragam gadis berambut pirang itu sama persis sepertinya. Apa mereka pernah saling mengenal sebelumnya? Amber merasa begitu familiar dengan gadis ini, namun ia tak mengingat siapa gadis ini. Jantungnya berdetak tak karuan.

“Hei…” Amber masih mengamati gadis itu dengan seksama. “Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak merasa kedinginan? Kau sudah basah kuyup.”

Tak ada jawaban. Gadis itu bahkan tak menatap Amber. Ia hanya sibuk memeluk tubuhnya sendiri.

Amber mengernyit, ia hendak beranjak dari tempat itu dan meninggalkan gadis misterius itu. Namun ia berhenti lalu berbalik ke arah gadis itu.

“Ini… Kurasa kau lebih membutuhkannya!” Amber memberikan payung merahnya sambil sedikit berteriak saat mengatakan kalimat itu, guyuran hujan membuatnya harus mengeraskan suaranya.

Gadis berambut pirang itu awalnya merasa ragu-ragu, namun dengan cepat Amber memindahtangankan payungnya lalu ia berlari di tengah guyuran hujan. Meninggalkan gadis itu dengan tatapan penuh tanya.

“Terima kasih, Amber.” dengan suara yang serak, gadis berambut pirang itu berteriak.

Apa mereka pernah saling mengenal?

Mendengar teriakan gadis itu, ia memutuskan untuk berhenti sejenak lalu membalikkan badannya. “Apa kau mengenalku…?”

“…”

Tak ada jawaban.

Gadis itu sudah tidak ada di tempatnya semula.

***

Pagi ini Amber terlihat begitu menyedihkan. Rambut pendeknya yang berwarna merah terlihat begitu berantakan. Sesekali ia akan bersin dan sedikit terbatuk di sela-sela kelas yang tengah berlangsung. Kemarin ia menerobos hujan dan inilah hasilnya.

“Hey, Amb.. Apa kau baik-baik saja?” bisik gadis berambut hitam panjang di sampingnya.

Amber mengangguk lirih.

“Kau terlihat tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mau kuantar ke ruang kesehatan?”

Kali ini Amber menggeleng lemah.

***

Setelah jam pelajaran berakhir, Amber memutuskan untuk mencari sedikit udara segar. Ia berjalan menuju taman belakang sekolah. Taman itu merupakan tempat yang tepat untuk mengirup udara segar.

“Apa ia tengah tertidur?”

Dari kejauhan ia melihat sesosok gadis yang tengah berbaring di bawah pohon oak.

“Ia benar-benar tertidur.”

Amber berlutut di depan gadis itu. Memandangi wajah tidurnya yang terlihat begitu damai.

“Hei…” ucap Amber pelan sambil menyentuh pundak gadis itu.

Tidak ada respon.

Tangan Amber beralih kepada rambut pirang gadis itu. mengelus pelan puncak kepalanya.

“Geez… Apa yang aku lakukan?” Amber menarik tangannya. “Mengapa aku bersikap seperti seorang ‘stalker’?

Matanya sekali lagi tertuju pada wajah gadis berambut pirang itu. Sebulir kristal mengalir dari sudut kelopak matanya yang masih tertutup.

Amber terdiam. Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan di sini? Ia tertidur lalu menangis dalam tidurnya? Amber menghapus air mata gadis di depannya.

Kali ini kelopak mata itu terbuka, bibir itu mengeluarkan suara tertahan lagi terkejut. Amber juga terhenyak sejenak mendapati gadis itu kini sudah membuka matanya. Ia tertangkap basah saat menghapus air mata gadis itu.

“Apa yang kau lakukan?” ia menyingkirkan tangan Amber dari wajahnya. Sementara Amber hanya bisa menghela nafas panjang.

“Tidak baik tidur di bawah pohon.”

“A-apa urusanmu?”

“Kurasa kau juga sedang sakit. Tubuhmu dingin sekali.”

“Kubilang, apa urusanmu?”

“Kuantar ke ruang kesehatan yah?” Amber menautkan jari-jarinya dengan jari-jari gadis pirang itu.

Amber merasakan sebuah penolakan. Gadis pirang itu menahan tangannya.

“Aku baik-baik saja.”

Amber menghiraukan perkataan gadis pirang itu dan menariknya dengan sedikit paksaan.

***

Amber menghela nafas panjang. Gadis pirang itu benar-benar keras kepala. Setelah sekian lama berdebat, akhirnya gadis pirang itu bersedia untuk ikut ke ruang kesehatan. Itupun setelah beberapa kali ia mencoba untuk melarikan diri.

“Sudah kubilang, biarkan saja aku—“

“Diamlah, kau butuh istirahat!”

Gadis pirang itu terdiam, merasa tidak akan menang dalam perdebatan tersebut, ia memutuskan untuk berbaring di tempat tidur.

“Payung itu… Terima kasih.” Setelah terdiam beberapa saat, gadis pirang itu memecahkan keheningan yang sempat tercipta di sana. “Dan sekarang aku sudah merepotkanmu lagi…”

“Siapa suruh kau berdiri di tengah guyuran hujan seperti itu?”Amber berpangku tangan sambil bersandar di kursi yang ia duduki.

“I-itu…”

“Um.. Sebelumnya kau meneriaki namaku. Apa kita saling mengenal?” Amber menyela ucapan gadis pirang itu.

Gadis berambut pirang itu terlihat begitu terkejut.

“Siapa namamu?”

Tak ada jawaban.

“Baiklah, jika kau tidak—“

“Krystal…”

***

Detik demi detik berlalu begitu cepat. Amber masih menemani Krystal di ruang kesehatan. Ia melewatkan pelajaran keduanya hari itu demi gadis yang baru saja ia kenal. Ia sempat berfikir, mengapa ia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya? Mungkin karena sebelumnya ia tidak begitu memperhatikan sekitarnya. Sejak kejadian 6 bulan yang lalu Ia lebih suka menyendiri daripada berkumpul bersama orang-orang yang memanggil dirinya teman namun ia sama sekali tidak mengenal mereka semua.

Kini Ia tengah duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. Matanya terus mengamati gadis berambut pirang itu. gadis pirang itu terlihat begitu terlelap dalam tidurnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis ini?” batin Amber.

Amber berdiri lalu menuju jendela. Ia memandangi awan kelabu yang kini menyelimuti langit yang terlihat sebentar lagi akan menangis.

“Aku tidak membawa payung. Lalu bagaimana aku akan pulang? Menerobos seperti kemarin?” gumam gadis boyish itu.

Ia menghela nafas dalam.

“Sepertinya akan turun hujan lagi.” Amber membalikkan badannya dan mendapati Krystal yang kini sudah duduk di pinggir ranjang.

“Kau sudah bangun?”

Amber berjalan mendekati Krystal.

“Apa kau bolos?”

“Yeah…”

“Mengapa kau begitu baik padaku?”

Amber terdiam. Iapun tak begitu yakin apa alasannya bersikap baik pada gadis ini.

“Entahlah…”

“Apa kau merindukan seseorang, Amb?” ucap Krystal sambil menatap manik hitam Amber.

“A-apa maksudmu?”

“Aku bisa melihatnya,”

Dalam tetesan hujan, Amber merindukan seseorang. Rasa rindunya tidak pernah berbentuk. Ia memang tengah merindukan seseorang, namun ia tak pernah tahu siapa yang ia rindukan. Hatinya terasa kosong, seakan sebagian dirinya hilang.

“Apa kau sudah mengingatku?.”

Amber mengerutkan dahinya.

“Apa kita saling mengenal…..?”

Krystal memalingkan wajahnya. Tangannya terkepal, pundaknya bergetar.

Melihat Krystal yang bersikap aneh, Amber berjalan mendekati Krystal. Ia berhenti tepat di depan gadis bersurai pirang itu lalu memeluknya.

Krystal mendorong pelan tubuh Amber, manik hitamnya menatap Amber dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.

Lagi…

Keheningan tercipta di ruangan itu..

Perlahan, Amber menempatkan telapak tangannya di pipi Krystal. Lembut… pipinya begitu lembut. Namun, terasa begitu dingin.

Dingin?

Tubuhnya terasa begitu dingin, namun gadis itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia merasa kedinginan.

***

Sudah beberapa hari setelah insiden di ruang kesehatan, dan sejak keesokan harinya Amber tidak pernah melihat gadis berambut pirang itu lagi. Amber baru saja mengenal gadis itu, untuk apa ia begitu mengkhawatirkannya? Amber ingin sekali bersikap acuh dan tidak peduli. Namun ia tidak bisa, sejak hari itu gadis pirang itu mulai mengisi otak Amber. Entah sihir apa yang gadis pirang itu berikan padanya.

Ia merasa resah, namun ia tidak begitu yakin dengan apa yang membuatnya merasa resah. Ia bimbang, namun ia tidak mengerti apa yang membuatnya merasa bimbang. Yang ia yakini hanyalah satu hal. Semua perasaan aneh ini berasal dari gadis yang baru beberapa hari lalu ia temui. Krystal… Sebuah nama yang indah. Sebuah nama yang akhir-akhir ini memenuhi kepalanya.

Sudah cukup. Ia mulai merasa lelah dengan semua perasaan aneh yang ia rasakan. Ia memutuskan untuk mencari tahu perasaan apakah itu. kini ia berdiri di depan ruang guru, melangkah dengan ragu.

“Ah, Amber? Ada perlu apa? Tidak biasanya melihatmu ke sini.” ucap Seorang wanita paruh baya yang mengenakan kemeja putih yang dibalut blazer biru muda dan rok yang senada.

“Yoon Songsaengnim.. Bisakah aku melihat data siswi bernama Krystal?”

Wanita yang ia panggil Yoon Songsaengnim itu mengerutkan dahinya sejenak.

“Kau tahu kan jika data siswi di sini tidak bisa diperlihatkan ke sembarang orang, Amb.”

Amber terdiam..

“Bolehkah aku tahu alamatnya saja?”

***

Amber terkejut, gadis itu ternyata tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya. Mereka hanya berbeda lantai.

“Mengapa aku tidak pernah melihatnya di sini?”

Perlahan ia berjalan mendekati pintu apartemen gadis misterius itu. Dengan ragu, ia menekan bel.

Tak ada balasan dari dalam.

Ia menekan bel sekali lagi.

Dan masih tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu apartemen itu.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

Amber menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang wanita paruh baya yang tengah membawa tas belanjanya.

“Aku…”

“Apartemen ini sudah kosong semenjak 6 bulan yang lalu.”

Apa?

“Tapi beberapa hari yang lalu aku baru saja bertemu dengannya.”

Wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya.

“Gadis yang sebelumnya tinggal di apartemen ini mengalami kecelakaan 6 bulan yang lalu. Dan ku dengar ia masih berada di rumah sakit.”

Tapi beberapa hari yang lalu aku baru saja bertemu dengannya.

“Ummm… Bibi, apa kau tahu dimana gadis itu dirawat?”

Wanita itu terdiam sejenak, terlihat tengah berfikir dan berusaha mengingat sesuatu .“Seoul International Hospital.”

“uh… Khamsahamnida.” Amber membungkukkan badannya kemudian bergegas pergi.

***

Amber menghentak-hentakkan kakinya tak sabar. Ia duduk di salah satu kursi di dekat meja resepsionis, Ia sudah menunggu selama 15 menit namun perawat yang ia mintai informasi belum juga datang.

Hilir mudik para pasien dan beberapa lelaki berpakaian serba putih membuat Amber merasa pusing. Ia memang benci rumah sakit.

Ia melirik jam tangannya lalu berdecak.

Seorang perawat ber-name tag Lee Soonkyu berjalan ke arah dimana Amber berada. “Maaf telah membuatmu menunggu lama.”

Amber memberikan senyuman yang dipaksakan. “Oh.. Tak masalah. Aku mengerti jika kau sibuk. Maaf.” Amber berdiri membuat perawat itu terlihat sangat pendek.

“Butuh waktu yang cukup lama untuk menemukan nama pasien yang kau tanyakan. Awalnya aku tak menemukan nama Jung Krystal namun setelah aku cari lebih detail ternyata pasien ini memiliki “dua” nama. Jung Soojung atau Jung Krystal. Dan kulihat ia memang berasal dari sekolahmu. Oh… dan ia berada di lantai 9 lebih tepatnya di kamar nomor 124.”

Entah mengapa jantung Amber berdetak tak karuan. Ia merasa begitu gelisah.

“um… Terima kasih. Dan maaf sudah merepotkanmu, Soonkyu noona.”

***

Amber menyandarkan tubuhnya pada dinding elevator yang ia naiki. Mencoba mengatur nafasnya, dadanya terasa sesak. Kepalanya terasa begitu berat.

“Aku mencintaimu, Amb.”

Kini ia mendengar sebuah suara dari kepalanya. Sepertinya ia mengenal suara itu.

“Aku mencintaimu, Amb.”

Suara itu terdengar semakin keras. Ia mencengkeram kepalanya, mencoba meredakan sakit kepala yang kian terasa.

TING!

Pintu elevator yang ia naiki terbuka, dengan langkah terhuyung Amber berusaha keluar dari dalam lift. Kepalanya masih terasa sakit, membuatnya sesekali terjatuh. Beberapa perawat yang lewat menghampirinya.

“Apa kau baik-baik saja?” Seorang perawat ber-name tag Victoria membantu Amber berdiri.

Amber tersenyum kecil. Lalu berjalan meninggalkan perawat itu tanpa sempat mengucapkan terima kasih.

Ia berhenti tepat di depan pintu bernomor 124.

Sakit kepalanya tiba-tiba saja menghilang. Nafasnya pun kini sudah kembali seperti semula.

Dengan ragu, ia membuka pintu kamar 124 itu. Jantungnya berdetak kencang.

Seorang gadis bersurai pirang terbaring lemah di dalam kamar itu. Terlihat banyak sekali alat-alat kedokteran yang Amber tak begitu tahu sebutannya tertempel pada tubuh gadis itu.

“Tidak mungkin….”

Ia mulai kehilangan keseimbangannya lagi, membuat dirinya jatuh berlutut.

Jika gadis ini adalah Jung Krystal yang sebenarnya, lalu siapa gadis yang ia temui beberapa hari yang lalu?

.

.

.

.

.

.

.

.

Bingung?

Sama….. Gue juga bingung bikin apaan ini… hahahaha….

Sebenernya draft ini udah lama banget ada di netbook.. sejak jaman Red Light… Gue suka banget rambut merahnya Amber…❤

Trus.. Buat FF Blood and Love chapter 1 sebenernya udah ada,,, Cuma nanti aja ya postnya kalo banyak yang kepo… hihihi… :3

BTW… Happy Birthday Princess Soojung~~~

-llamaunyu-

Blood and Love

PROLOG

Malam semakin larut, angin malam terasa begitu menusuk hingga ke tulang. Butiran-butiran putih yang turun semakin banyak kini telah menutupi tanah hingga sulit untuk diketahui mana yang merupakan jalan dan mana yang bukan. Ramalan cuaca mengatakan bahwa malam itu memang akan terjadi badai salju, hal itulah yang membuat masyarakat enggan untuk keluar rumah.

Dingin…

Seorang gadis kecil berambut pirang merapatkan jaket dan syalnya lalu menggosok-gosokkan telapak tangannya untuk mengurangi rasa dingin yang hampir membuatnya membeku. Entah apa yang dilakukan oleh gadis kecil itu di sana.  Di malam hari yang akan terjadi badai salju. Sendirian?

“Gadis kecil, apa yang kau lakukan di sini? Apa kau tersesat?” gadis kecil itu menoleh ke arah sumber suara, ia mendapati seorang pria paruh baya yang mengenakan jas cokelat serta syal berwarna senada tengah berdiri di depannya.
Gadis itu terdiam, ia sama sekali tidak merasakan kedatangan pria tersebut. Darimana pria itu datang? Dan sejak kapan ia ada di depannya?
Gadis kecil itu semakin menggigil, ia merasakan udara di sekitarnya semakin dingin. Dingin yang berbeda. Dingin yang bercampur dengan aura mencekam.

“Bolehkah aku..” suara pria itu terdengar semakin mengerikan. Matanya terlihat berwarna merah seperti.. “Menghisap darahmu?” ..Darah..

Sesuatu yang menghisap darah dan kehidupan manusia.

Makhluk buas yang  memiliki bentuk menyerupai manusia.

Tubuh mungil gadis itu terjatuh di atas tumpukan salju.
“Ti-tidak..” pria itu mencengkeram keras bahu sang gadis kecil saat ia hendak berlari.

Crashhhh

Darah menyembur. Pria paruh baya itu terjatuh dengan leher yang terkoyak. Di sampingnya terlihat seorang gadis bersyal putih dengan kulit yang juga terlihat sangat putih, putih pucat lebih tepatnya.  Surai cokelatnya berkibar seirama dengan syal putihnya yang terkena terpaan angin.

“Kau adalah aib untuk semua vampire di dunia ini!” Tangan kiri gadis berkulit putih pucat itu berlumuran darah dan wajahnya pun terkena cipratan cairan amis itu. matanya.. matanya berwarna merah sama seperti pria paruh baya yang kini terbaring tak bergerak.

Vampire

Manusia tidak boleh berada di dekat Vampire.

Secara tiba-tiba, tubuh pria paruh baya itu hancur, membentuk butiran-butiran berwarna biru muda yang berkilau lalu hilang tertiup angin.

“Apa kau baik-baik saja?” gadis berkulit putih pucat mengulurkan tangan kirinya yang berlumuran darah kepada sang gadis kecil yang sedari tadi hanya terdiam.

Jika manusia mendekati para vampire

Perlahan namun pasti, gadis kecil itu menyambut uluran tangan dari sang gadis berkulit putih pucat.

Kalian akan terperangkap oleh mata merah itu.

.
.
.

Oke guys… Jadi ceritanya gue ngilang lama dan dateng2 bawa prolog ff baru… gapapa kan? Hahahaha. .
Ada yg bisa nebak siapa aja cast di ff ini? LOL..
How? Lumayan menarik untuk dilanjut gak nih? Hahaha..

-llamaunyu-

Morning (YoonHyun version)

Hai guys~~~ sorry.. belom bisa apdet yang lain… buat sekarang gue kasih yang ini aja ya… gue bikin semalem pas gak bisa tidur.. maklum aja kalo agak gaje soalnya gue ngetik di henpon.. hahaha.. gue bahkan gak tau ini ada berapa kata.. oke deh.. ..
Here~~~
.
.
.

Title     : Morning
Author : Llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo
.
.
.

Mentari pagi baru saja menampakkan dirinya, meskipun masih terlihat malu-malu namun perlahan sinarnya mulai menghangatkan. Jika berbicara tentang kebanyakan orang mungkin mereka akan merasa enggan untuk meninggalkan tempat tidurnya yang terasa begitu nyaman, sambil menarik kembali selimut mereka akan berusaha untuk kembali terlelap. Namun Seo Juhyun bukanlah termasuk ke dalam kategori kebanyakan orang tersebut, gadis pecinta keroro itu sudah terbiasa bangun sebelum mentari bersinar. Ia akan menyempatkan dirinya untuk membaca beberapa buku sejarah atau bahkan politik sebelum memulai aktifitasnya sebagai salah seorang member girlgroup kenamaan Korea Selatan “Girls’ Generation“.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, kini Seohyun tengah membaca buku di ruang tamu sambil ditemani segelas susu cokelat panas.
Seohyun segera menutup buku yg tengah ia baca setelah mendengar handphone-nya berdering. Ia tersenyum sebelum menggeser icon telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
Good mor--”
“Hyunnie, aku terluka.”
Belum sempat Seohyun menyelesaikan ucapan salam-nya, suara manja sang penelpon memotong ucapannya.
“Aku terluka karena aku baru saja terjatuh—”
“Tunggu aku, eonni. Aku akan segera ke sana.”
Tanpa membuang waktu lagi, Seohyun mematikan sambungan telepon itu lalu meletakkan buku sejarah yang sejak tadi ia baca di rak buku dan dengan gerakan tergesa ia mengambil kunci mobilnya.
***
Setelah menempuh 30 menit perjalanan (rekor tercepatnya selama mengemudi ke tempat itu) ia segera mengeluarkan kunci cadangan dan dengan tergesa ia memasuki apartemen milik Yoona.
Ia berhenti di ruang tamu dan melihat Yoona yg tengah bersantai sambil menonton televisi.
“Oh Hyunnie, cepat sekali. Kemarilah!”
Dengan santai Yoona mengisyaratkan Seohyun untuk ikut duduk bersamanya.
Eonni…. bukankah kau bilang kau sedang terluka? Apa yang terluka?”
“Aku terluka karena aku terjatuh…” dengan senyum kekanakan Yoona menjawab.
“dan aku terjatuh karenamu. Aku jatuh cinta padamu lagi, Hyunnie. Eheheheheh.”
Seohyun terdiam…. Jadi ini hanyalah sebuah lelucon? Ia sudah terburu-buru datang hingga ia lupa memakai sabuk pengaman dan hampir saja dikenai sanksi oleh polisi karena menerobos lampu merah. Untung saja polisi tersebut adalah salah satu fans-nya, sehingga ia bisa lolos dengan syarat ia harus memberikan polisi tersebut tanda tangannya dan juga foto bersamanya. Dan kini semua itu tidak ada gunanya?!
Alisnya mengkerut.
“Aku akan pulang sekarang!”
Dengan kesal Ia berbalik dan hendak membuka pintu, namun sepasang tangan kurus melingkar di pinggang rampingnya.
“Hey… Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir….” ucap Yoona lembut.
Seohyun terdiam. Ia merasa kesal kepada Yoona, leluconnya kali ini memang sudah sangat keterlaluan.
“Aku tidak suka dengan leluconmu, eonni.”
“Siapa bilang aku tengah membuat lelucon? Aku benar-benar sedang terluka, Hyunnie.”
“Tapi kau—”
“Setiap detik tanpamu terasa begitu sepi dan membuat hatiku terasa sakit.”
Yoona mengeratkan pelukannya sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher jenjang Seohyun. Membuat gadis pecinta keroro itu bergidik merasakan hembusan nafas Yoona.
“Jadi, maukah kau selalu menemaniku? Selalu ada di sampingku selamanya dan mengobati rasa rinduku yang tiap detiknya terus bertambah besar hingga rasanya begitu sesak jika tanpa hadirnya dirimu?!”
Yoona melepaskan pelukan mereka, perlahan ia membalikkan tubuh Seohyun agar menghadapnya.
Yoona menatap dalam mata indah Seohyun lalu tersenyum sebelum mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah muda dari saku celananya.
Seohyun terpaku melihat benda berbentuk lingkaran kecil berwarna keemasan. Semua kekesalannya tadi hilang begitu saja.
Would you be mine?”
But I’m already yours.
“Oh.. right… then… Will you marry me?”
“Isn’t it obvious? Of course… I’ll say yes.
Here.. let me put it on.” Yoona menarik pelan tangan kiri Seohyun dan memakaikan cincin bertuliskan namanya pada jari manis Seohyun.
“Dan ini untukku.” Yoona hendak memakai sendiri cincin bertuliskan nama Seohyun pada jarinya, namun Seohyun segera menghentikannya.
“Bukankan aku yang seharusnya memakaikan itu pada jarimu?”
“Hehehe.. aku lupa.” Yoona menampilkan senyum kekanakannya.
Dork…”
I love you too.”
“Aku tidak bilang–”
dengan cepat Yoona memotong ucapan Seohyun dengan mengecup lembut bibir Seohyun.

What a beautiful morning…..
.
.
.
.
.
.

-EXTRA-

Setelah melewati pagi yang cukup melelahkan karena ulah kekasih tercintanya. Kini Seohyun tengah duduk santai di ruang tamu apartemen Yoona dengan Yoona yang berbaring dan merebahkan kepalanya di pangkuannya.
“Apa kau tidak merasa lelah, eonni?”
“Eh? Tidak…” Yoona merasa bingung dengan pertanyaan Seohyun.  Sepanjang pagi ini yang ia lakukan hanyalah berbaring di pangkuan Seohyun. Ia sama sekali tidak merasa lelah.
“Kufikir kau merasa lelah. Karena kau terus saja berlari di dalam fikiranku.”
blush
Counter attack!!! Good job Seo Juhyun!!!

.
.
.
END

Hahahahaha…
Gue kangen YoonHyun… 😂😂😂 jadi iseng2 bikin beginian deh..
How do you think???

-llamaunyu-

Girls Before Flower (Chapter 7)

Author : Llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo
Title : Girls Before Flower
Genre : Shojou Ai (Girl x Girl), Comedy, Romance
Cast : Krystal Jung, Amber J. Liu as Lee EunYoung, Choi Sulli, Kwon Yuri, Im Yoon Ah, Jessica Jung, Park Luna, Seo JooHyun

Hope you like it and…
Happy reading.. ^,^

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY
Don’t Like Don’t Read
Typo dan EYD bertebaran

Chapter 7

-Krystal POV-
“Bodoh… Dia memang bodoh.” Aku mendekatinya yang masih duduk di tengah guyuran hujan. “Hey, bodoh. Apa yang kau lakukan disini?”
Ia menoleh ke arahku.
“Kau ini benar-benar bodoh. Apa yang membuatmu begitu yakin jika aku akan datang kesini?”
“Aku tahu kau pasti datang.” Ia tersenyum dengan wajah yang terlihat pucat. Sudah berapa lama ia ada disini?
“Aku tak ingat jika aku mengatakan akan datang kesini.”
“Tapi kau sudah ada disini sekarang.” Ia berdiri dari kursi dan ikut berteduh dibawah payungku. “Kajja, aku kedinginan.” Ia menarik lenganku.
Siapa yang menyuruhnya menungguku? Toh aku tak pernah berjanji akan datang. Dasar bodoh.
“Kau tidak membawa mobil?”
“Tentu saja aku membawa mobil.” Ia meniup lalu menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.
“Lalu kenapa kau tidak menunggu di mobil saja? Kau akan mati kedinginan jika saja aku benar-benar tidak datang!”
“Kau tidak akan melihatku jika aku menunggumu di dalam mobil!”
Ah sudahlah.. tak ada gunanya berdebat dengannya. Aku hanya bisa menghela nafas.
Setelah kami sampai di tempat ia memarkirkan mobilnya, ia langsung memasuki mobilnya tanpa membukakan pintu untukku. Cih, sudah kuduga. Dia memang bukan tipe yang romantis. Apa barusan aku menyebut kata Romantis? Tidak… tidak… untuk apa aku kecewa karena dia tidak bersikap romantis kepadaku?
Ia memandangku dengan heran. Ia mengisyaratkan agar aku segera masuk ke dalam mobilnya.

-End of Krystal’s POV-
***
“Kenapa kita kesini?”
“Ini adalah galeri pribadi milikku.” Yoona membuka payung putihnya lalu keluar dari mobilnya. “Ayo!” Yoona membukakan pintu mobil untuk Seohyun dan mengajaknya ke dalam galeri itu.
Dengan patuh Seohyun menuruti Yoona.
Galeri itu memang tidak terlalu besar, namun cukup terlihat mewah. Beberapa lukisan terpajang di hampir seluruh sisi Galeri itu.
“Kau mengoleksi semua ini?” ujar Seohyun yang masih mengamati setiap lukisan yang terpajang dengan seksama.
Yoona tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.
“Mengoleksi? Akulah yang membuat semua ini.”
Pernyataan Yoona membuat Seohyun terkejut.
“Apa aku kurang meyakinkan? Butuh bukti akan kemampuanku? Duduk lah di sana. aku akan melukismu.”
***
Yuri masih memeluk Jessica dari belakang. Ia menghirup aroma Strawberry dari gadis yang tengah ia peluk itu. membuatnya mabuk akan aroma itu. aroma yang membuatnya semakin ingin terus menghirupnya. Sementara itu gadis yang ada di pelukannya itu sedang bergelut dengan dirinya sendiri di dalam fikirannya. Ia ingin melepaskan dirinya dari Yuri tapi tubuhnya berhianat. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak dan masih bergeming dalam pelukan Yuri. Untuk beberapa saat mereka berdua tak bergerak dari posisi itu.
“Jadi bagaimana, Miss?”
Jessica masih bergeming. Ia benar-benar merasa bingung.
“Ingatlah, Jessica Jung. Dia ini adalah seorang player. Jangan terjatuh ke dalam jebakannya.” Batin Jessica.
Setelah menarik nafas cukup dalam, Akhirnya Jessica melepaskan pelukan Yuri lalu berbalik menatap tajam gadis tanned di depannya.
“Aku tidak bisa, nona Kwon!” ucap Jessica dingin. “Berhentilah melakukan hal-hal konyol!”
Yuri menggenggam kedua tangan Jessica lalu menatapnya. “Berikan aku kesempatan, Miss!”
“Kesempatan?”
“Ya, berikan aku kesempatan satu minggu. Jika kau tidak jatuh cinta kepadaku selama satu minggu, aku akan menyerah.” Ucap Yuri penuh percaya diri. Ia sangat yakin jika gadis di depannya ini akan tunduk kepadanya seperti gadis lainnya yang pernah ia kencani.
“Aku tidak akan memberikanmu kesempatan apapun, nona Kwon. Jadi, bisakah aku pergi sekarang?”
Jessica melepaskan tangannya dari genggaman Yuri. ia berbalik dan meninggalkan Yuri yang masih terdiam begitu saja.
Yuri tersadar dari lamunannya. Seorang Kwon Yuri untuk pertama kalinya tidak bisa dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski ini adalah sebuah pukulan yang benar-benar melukai citra-nya sebagai seorang player nomor satu di SM International School tetapi ia masih menampilkan senyum andalannya. Bukan karena ia menjunjung tinggi motto “Hadapi semua dengan senyuman”. Tetapi lebih kepada ia seperti telah menemukan sesuatu yang begitu menarik. Lebih menarik daripada mengencani seorang Kim Tae Hee.
***
“A-apa yang kau lakukan?” Ucap Krystal dengan wajah yang memerah karena melihat Amber tengah membuka kancing-kancing kemeja biru muda-nya.
Amber hanya menyeringai lalu membuka kemejanya, menyisakannya hanya dengan kaus dalam berwarna putih.
“Jika kau berbuat macam-macam. Aku akan berteriak.” Ucap Krystal memperingatkan, tangannya menyilang di depan dadanya.
“Apa yang kau fikirkan, nona Jung? aku hanya akan mengganti bajuku yang basah.” Ucap Amber sambil terkikik.
Mendengar jawaban dari gadis tampan itu, wajah Krystal semakin memerah. Apa yang ia fikirkan? Ia benar-benar merasa malu sekarang.
“Aaa… Aku tau… Kau pasti berfikiran yang tidak-tidak.” Amber mendekatkan wajahnya pada Krystal. “Apa kau ingin melakukan ‘itu’? ucap Amber dengan nada menggoda.
Dengan cepat Krystal mendorong wajah Amber menjauh. “Pervert!”
“Hey… lihat siapa yang bicara. Bukankah kau yang membayangkan hal aneh?”
Krystal membuka pintu mobil Amber, membuka payungnya lalu menutup pintu mobil itu dengan keras. “Dasar Bodoh!”
Amber tertawa keras melihat tingkah Krystal. Ia membuka kaca mobilnya.
“Kau mau kemana? Apa kau mau lari dari tanggung jawab?” goda Amber.
Krystal memutar bola matanya. “Aku akan membelikanmu minuman hangat. Kau tunggu saja di sini.”
***
Amber telah mengganti pakaiannya yang basah. Ia mengenakan kemeja merah muda dipadu dengan celana Jeans berwarna hitam.
“Kemana perginya gadis itu?” gumam Amber sambil memandangi jendela mobilnya dan melihat hujan yang sudah mulai reda.
Seorang gadis menghampiri mobilnya sambil membawa dua gelas kopi yang asapnya masih mengepul.
“Hey.. Ini untukmu.” Krystal memberikan segelas kopi lewat jendela mobil yang terbuka kepada Amber.
Krystal yang kini sudah berada di dalam mobil dapat melihat Amber yang tengah memandangi gelas kopinya.
“Oh, Kau beli dimana?”
“Di pinggir jalan sana.”
“Kopi pinggir jalan? Yang benar saja.” Ucap Amber sambil tersenyum aneh.
Krystal menyesap Kopi-nya. “Jika kau tidak mau, kau bisa membuangnya.”
“Aku akan memuseumkan ini.” batin Amber masih sambil tersenyum aneh.
Krystal kembali menyesap Kopi-nya lalu menatap Amber yang sejak tadi hanya terus memandangi gelas kopi di tangannya sambil tersenyum aneh.
“Mengapa kau tersenyum seperti itu? it’s kinda creepy you know.”
“Aku hanya tidak menyangka jika aku akan meminum kopi yang dijajakan di kaki lima seperti ini.”
Krystal menghela nafas dalam. “As expected from a heiress of big company.” Batin Krystal.
“Minumlah… Aku tidak memasukkan racun ke dalamnya.” Amber terkekeh saat mendengar itu dari Krystal.
“Ah, benar juga. Aku tak memikirkan kemungkinan itu.” Amber memicingkan matanya pada Krystal.
“Seharusnya tadi kumasukkan saja racun sianida di kopi itu.”
“hooo… Ternyata pikiranmu itu seperti seorang Psikiater saja.”
Krystal mengerutkan dahinya. “Psikiater? Apa maksudnya Psikopat?”
***
Seperti pagi-pagi sebelumnya anggota The Roses berjalan di koridor sekolah dengan dikelilingi oleh para gadis-gadis yang berteriak histeris melihat mereka.
“Achhooo…”
“Apa kau terkena flu? Tidak biasanya seorang Lee Eun Young terkena flu.” Yoona menatap Amber yang wajahnya terlihat agak pucat.
“Jika kau sakit harusnya kau tidak perlu masuk sekolah, Youngie.” Yuri menepuk pelan pundak Amber.
“Diamlah kalian… Aku tidak apa-apa.”
Amber melihat Krystal dari arah yang berlawanan dengannya.
“Nona Jung!!!” Amber berteriak cukup keras, mengundang tanya dari beberapa siswi yang mengerubungi The Roses. “Kemarilah!”
Krystal meruntuki kebodohan gadis tampan itu. “Great. Now the entire school must be hate me!”
Dengan langkah yang ragu, Krystal berjalan menuju The Roses. Semua siswi yang ada di sana mulai berisik dan menatap Krystal dengan tatapan tidak suka.
“Hei… Nona Jung, lihat apa yang telah kau perbuat padaku. Sejak semalam aku terus menerus bersin.” Amber menarik Krystal agar berdiri lebih dekat dengannya. Membuat semua orang terkejut.
“Uh, That’s not my fault. Siapa suruh kau menungguku di bawah guyuran hujan?!” Krystal hendak melepaskan genggaman Amber namun ia tak bisa melawannya.
Tanpa menghiraukan protes dari Krystal, Amber menarik Krystal semakin dekat dengannya hingga pundak mereka bersentuhan.
“Dengar.. Aku akan mengumumkan sesuatu.”
Semua siswi yang sedari tadi saling berbisikpun terdiam.
“Mulai hari ini, nona Jung Soojung adalah kekasihku. Siapapun yang ingin berurusan dengannya itu berarti harus melewatiku terlebih dahulu. Apa kalian mengerti?”
Yoona dan Yuri saling menatap. “Apa dia sudah gila?”
***
Sungguh, Krystal merasa risih dengan kebaikan-kebaikan palsu yang diberikan oleh teman-teman sekelasnya. Setelah mendengar pengumuman dari Amber, seluruh teman sekelasnya berlomba-lomba untuk bersikap baik padanya. Sekarang ia lebih memilih masa-masa dimana mereka semua memusuhinya. Terasa lebih damai.
Kini ia tengah berdiri di depan pintu dimana The Roses sering melewatkan waktu bersama. Sebuah ruangan yang mereka sebut “Glass of Garden”.
Ia membuka pintu dengan cukup keras, membuat Yoona dan Yuri yang tengah meminum soda tersedak bersama.
“Ya!! Nona Jung, kau membuat kami kaget saja!”
Tanpa mendengarkan Yoona yang memarahinya, ia berjalan mendekati Amber yang sepertinya belum menyadari kedatangannya. Amber tengah memainkan sebuah video game, wajahnya terlihat begitu serius.
“Lee Eun Young!”
Amber bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar TV di depannya, jari-jari tangannya terus bergerak dengan lincahnya.
“LEE EUN YOUNG!!!”
Dan Krystal masih belum mendapatkan perhatian dari orang yang dipanggilnya.
Merasa kesal, Krystal segera mencabut kabel TV di pojok ruangan.
“YA!!! What are you doing?! Sebentar lagi aku bisa menyelesaikan stage terakhir dan kau mengacaukan semuanya!”
Amber membanting stik game yang sedari tadi ia pegang.
“Kau… Apa yang sebenarnya ada di dalam otakmu?!” Krystal menjambak rambut pendek Amber dengan gemas membuat orang yang bersangkutan merasa kesakitan.
“Ya!! Noona, help me!!!” rengek Amber sambil mencoba melepaskan tangan Krystal dari rambut pendeknya.
Yuri dan Yoona hanya menahan tawanya.
“Solve your own problem, bro. sorry we can’t help you…” Yoona tersenyum mengejek.
“Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu? Mengapa kau bilang pada semua orang jika aku ini kekasihmu?” ucap Krystal setelah melepaskan Amber.
“Kau masih saja menjadi gadis berisik dan cerewet, nona Jung!”
Krystal menoleh ke arah sumber suara, ia terdiam.
“Sulli?” gumam Krystal, matanya membulat melihat Sulli yang kini berdiri di pojok ruangan sambil merangkul dua gadis yang mengenakan pakaian minim.
Ia terkejut.. Terkejut karena Sulli berada di sana, tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah kelakuan gadis jangkung itu. Sejak kapan dia menjadi gadis seperti itu? Jika ia melihat Kwon Yuri bersama sepuluh wanita ia tak akan terkejut. Tapi ini adalah seorang Choi Sulli. Choi Sulli yang ia kenal bukanlah gadis player seperti ini.
Ia merasa kecewa.
Ada apa dengan Sulli? Mengapa ia menjadi seperti ini? Dan kemana Luna eonni? Bukankah Sulli pergi ke Perancis untuk menyusul Luna eonni?
“Sejak pulang dari Paris, ia menjadi lebih ‘hidup’.”
Perkataan Yuri menyadarkan Krystal.
“Sekarang ia tahu bagaimana caranya menikmati hidup.”
Krystal mengerutkan alisnya. Kini ia bahkan lupa alasannya datang ke tempat itu. Ia melupakan Amber yang kini masih mengelus kepalanya sendiri.
“Kapan kau pulang?” ujar Krystal dengan suara pelan.
“Kemarin…”
Krystal melihat tangan kiri Sulli menjelajahi tubuh bagian belakang gadis dirangkulannya. Ia akui, ia sama sekali tidak menyukai Sulli yang sekarang ini.
Suasana di sana semakin terasa canggung. Krystal berbalik, dan berjalan menuju pintu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membanting pintu bercat cokelat itu.
“Mengapa dia hobi sekali membanting pintu?” ujar Yoona sambil terkikik.
***
Krystal’s POV
Sejak kejadian tadi, aku terus memikirkan Sulli. Ada apa dengannya? Mengapa ia berubah menjadi seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi di Paris? Aku memang belum lama mengenalnya, tapi aku bisa mengatakan bahwa dia bukanlah orang seperti itu. Bukankah ia bilang jika ia mencintai Luna eonni? Lalu mengapa ia malah ‘bermain’ bersama kedua gadis tak jelas itu? Apa semua anggota The Roses’ itu seperti itu? Apa mereka semua adalah sekumpulan Players?
“..Jung..”
“Soojung..”
Aku menoleh, dan kudapati Joohyun eonni tengah menatapku.
“Ada apa? Aku sudah memanggilmu sebanyak 4 kali tapi kau tidak menoleh. Apa kau sedang sakit?”
Ah… Aku melamun sudah terlalu lama hingga menggangu pekerjaanku.
“Mianhae, eonni.” Aku membungkuk dan tersenyum canggung. “Aku hanya memikirkan sesuatu, maafkan aku.”
“Tolong antarkan pesanan ini ke meja 10.” Ia memberikan ku nampan berisi 2 potong Cheese cake dan 2 cangkir cokelat panas.
Setelah mengantarkan pesanan tersebut, aku melangkah santai menuju meja kasir. Namun sebelum aku sampai di meja kasir, aku merasakan tarikan pelan pada tangan kiriku, aku menoleh dan mendapati wajah cantik Yoona sunbae. wajahnya terlihat begitu khawatir.
“Sunbae?”
Ia menarikku keluar dari toko roti.
“Ada apa ini? Mengapa kau datang kemari dan tiba-tiba menarikku?” ujarku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Sigh… Dia terlihat kurus tapi mengapa tenaganya besar sekali?! Aku tak bisa melepasakan genggaman tangannya.
“Kakakmu mengalami kecelakaan!”
Apa…. Apa yang baru saja ia katakan?
Kakakku? Sica eonni?
“A-apa maksudmu?”
Ia tak menjawabku, ia terus menarikku hingga kami sampai di depan mobil Audi Putih yang terparkir di depan toko roti. Ia membuka pintu mobil lalu memaksaku duduk di kursi belakang.
Kulihat ia tidak langsung duduk di kursi pengemudi, ia berjalan memasuki toko roti lagi. Kali ini ia menarik Joohyun eonni bersamanya. Joohyun eonni terlihat begitu kebingungan.
Ada apa ini?
.
.
.
.
.
.
T B C
HAHAHAHAHA…. I’M BACKKKKK…
MISS MEEEE?????😄
Apa kabar nih readers???? Maap ya baru bisa apdet… I’m kinda distracted…. With my new job and…. New Idol… wkwkwk… iya.. gue kedistrak sama AKB48 dan sister2nyaaa…😄
Bukannya gak cinta lagi sama F(x) ato Soshi.. Cuma gue lagi suka Jejepangan lagi nih…😄 *malah curhat*
Okeh… Kira2 masih inget sama ff2 gue gak? Dan kira2 ff apa yang paling lo tunggu2? *nggak ada* *kriiikkkk*😄
Okeh deh… sekian dulu ya… see ya~~~~
-llamaunyu-

Morning

Hai….

Gue kasih ini aja dulu yak!

.

.

.

Author : Llamaunyu1809  a.k.a  Lee Eun Soo

Title     : Morning

.

.

.

Jessica sangat benci jika harus terbangun di pagi hari. Sejak kecil hingga kini ia memang bukanlah seorang “morning person”. Entah karena ia terlalu malas atau karena ia begitu menyukai tidur. (catatan : Jessica selalu tidur selama 9 jam tiap malam).

Tapi pagi ini, ketika ia membuka matanya ia tidak merasakan perasaan kesal seperti biasanya saat ia harus bangun pagi. Itu semua karena pemandangan pertama yang menyapanya saat menoleh ke samping kanannya adalah wajah tidur Kwon Yuri yang terlihat begitu damai. Tak ada kata yang mampu ia ungkapkan, hatinya terasa begitu hangat dan penuh dengan kebahagiaan.

Jessica terus memandangi seobang-nya dengan penuh perasaan kagum, bagaimana seseorang masih bisa terlihat cantik sekaligus tampan dengan rambut hitam panjangnya yang berantakan. Ia benar-benar beruntung bisa mendapatkan makhluk hitam tampan ini. Tidak sia-sia ia mengejarnya, menjatuhkan harga dirinya demi gadis di sampingnya ini. Semua pengorbanannya sudah terbalas, ia bahkan tak menyangka jika mereka akan benar-benar menikah saat ia bilang pada Kwon Yuri jika ia ingin menikah dan sebulan kemudian pernikahan itu terjadi. Ia tidak ingin terdengar terlalu klise, tapi ia benar-benar berpikir jika Kwon Yuri adalah malaikat yang jatuh dari langit untuk menjaganya dan memberikannya cinta.

My Blackpearl Angel…

Ia masih mengamati setiap inci wajah Kwon Yuri, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, dan bibir merah mudanya yang terlhat begitu menggoda. Bibirnya yang ia yakin akan terasa lebih manis daripada permen dan lebih lembut dari pada marshmallows.

Ia ingin sekali mengecup bibir milik Kwon Yuri itu, namun ia merasa sedikit ragu. Tentu saja itu bukan karena mereka belum pernah berciuman sebelumnya.  Tapi ia merasa tidak tega membangunkan gadis hitam itu, mengingat “aktifitas” yang mereka lakukan semalam. Ia tidak mau menjadi gadis egois seperti dulu, hidupnya banyak mengalami perubahan semenjak ia dan Kwon Yuri bersama. Jessica bukan lagi gadis arogan dan sombong, ia tidak pernah memaksakan kehendaknya lagi.  Sekarang ia adalah seorang Direktur muda yang bijaksana.  Selalu menyapa pegawainya setiap pagi, tersenyum sepanjang hari dan jarang sekali membentak pegawainya tanpa alasan.  Seluruh pegawai Jung Enterprise berhutang banyak pada Kwon Yuri yang telah merubah nenek sihir menjadi putri salju.

Jessica terus memperpendek jarak wajah mereka. Jantungnya berdetak begitu cepat, mengapa ia selalu merasa seperti ini meskipun mereka sudah cukup lama bersama? Kwon Yuri tak pernah gagal membuat jantungnya berdetak lebih cepat, bahkan meskipun makhluk hitam itu tengah tertidur seperti ini. Mungkin setelah ini ia benar-benar harus melakukan medical check-up terhadap kesehatan jantungnya.

Saat jarak wajah mereka semakin dekat,  wajahnya terasa semakin hangat dan detak jantungnya semakin tidak karuan.

Chuuu

Alih-alih mendaratkan kecupan di bibir, ia hanya mendaratkan sebuah kecupan singkat pada kening Kwon Yuri.

“She must feel  really exhausted.. I shouldn’t interfere her peaceful sleep.”

Ia mengelus lembut puncak kepala Kwon Yuri, membenarkan beberapa anak rambutnya lalu sekali lagi mengecup kening seobang-nya.

What a beautiful morning….

.

.

.

Hihihi… dan….. Gue malah bikin beginian… kasian dr kemaren nih wepe isinya sad story mulu…  ini emang pendek.. karena ini Cuma DRABBLE….  Dan sepertinya gue bakal menghiasi wepe ini dengan drabble-drabble kayak gini… sambil nunggu GBF gitu~~~

How do you think?

-llamaunyu-

Mask of Smile

Sorry… Belum bisa post GBF… hihihi…

And I’m back with another sad story (AGAIN)…. Hahahah…

Nikmati aja dulu yang galau2 ini…

.

.

.

Author : Llamaunyu1809  a.k.a  Lee Eun Soo

Title     : Mask of Smile

Genre  : Angst

Cast    : Choi Sulli, Krystal Jung, Amber J. Liu, Bae Suzy

.

.

.

Kau begitu dekat namun begitu sulit kugapai..

Pelukanmu terasa hangat namun juga terasa menyakitkan di waktu yang bersamaan..

Kau… Yang begitu kucintai…

Kau… Yang tak akan pernah bisa kumiliki…

.

.

.

“Jinri-ah!”

Aku mendengar suara indahnya memanggilku dari kejauhan. Perlahan ia menghampiriku, memelukku dengan cukup erat. Namun sebelum aku sempat membalas pelukan hangat darinya, ia melepaskanku.

Aku merasa kecewa, namun aku tetap memperlihatkan senyumku untuknya.

“Sepulang sekolah nanti, apa kau mau menemaniku makan parfait?” aku masih bisa merasakan kehangatan dari tangannya yang masih menggenggam tanganku. Terasa begitu hangat…

“Kufikir kau akan pergi bersama Amber hyung.”

“Si bodoh itu.. Ia mendapatkan nilai jelek dalam beberapa mata kuliah di Ujian Akhir Semester kemarin. Dia harus melakukan ujian ulang dan mengikuti pelajaran tambahan.” Bibirnya mengerucut, membuatku ingin mengecupnya. Andai saja aku bisa…

Aku… Aku hanya pengganti dirinya. Saat orang itu tak bisa bersamanya. Karena aku hanya seorang sahabat, sahabat yang harus selalu ada disaat ia membutuhkanku.

Itulah alasanku untuk mengubur perasaan ini. Aku tak akan pernah bisa menjadi lebih dari sekedar sahabatnya. Dan aku yakin jika ia mengetahui persaanku ini, maka aku takkan bisa lagi menjadi sahabatnya.

***

Seperti hari-hari sebelumnya, aku menemaninya membaca buku-buku Manajemen yang begitu tebal di perpustakaan kampus. Aku hanya bisa memandangi wajah cantiknya dari samping, mengapa ia terasa begitu jauh untuk kugapai meski kini ia berada di sampingku?

Ia masih sibuk membaca buku, dan seperti biasa ia tidak akan menyadariku yang masih memandanginya. Aku lebih memilih memandangi wajahnya seharian daripada harus membaca buku tebal itu. Ia lebih menarik perhatianku, bagaimana raut wajahnya berganti di setiap paragraf yang ia baca. Ketika materi yang ia baca tidak terlalu jelas dan membuatnya bingung, ia akan mengerutkan dahinya lalu bibirnya akan mengerucut. Ia sangat lucu.

“Soojung-ahhh…” kulihat seorang gadis tampan datang dan langsung menghambur memeluknya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Soojung dengan begitu posesif.

“Aku lelah, Soojung-ah! Pelajaran tambahan itu benar-benar membuatku gila!” gadis tampan itu begitu manja padanya dan Soojung dengan senang hati memanjakannya.

Taukah mereka jika kemesraan mereka perlahan membunuhku? Aku ingin menangis namun wajahku hanya bisa tersenyum.

“Itu karena kau bodoh! Hingga kau harus mendapatkan pelajaran tambahan!” Soojung memukul pelan puncak kepalanya sambil terkikik. Mereka memang terlihat begitu serasi. “Ayo pulang dan aku akan mengajarimu.”

Gadis tampan itu melingkarkan tangannya di pundak Soojung, dan mereka berjalan begitu saja tanpa menghiraukanku. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka. Soojung bahkan melupakan janjinya padaku untuk makan parfait bersama.

“Hei, Choi JinRi ayo pulang bersama!” entah datang darimana, tiba-tiba saja Suzy menarik tanganku dan kami berjalan mendahului mereka.

***

Hening… Sepanjang perjalanan di koridor kampus Suzy terus saja terdiam.

Aku memutuskan untuk menghilangkan keheningan ini. “Hey, ada apa? Tidak biasanya kau mengajakku pulang bersama.”

Suzy adalah teman masa kecilku, kami sudah saling mengenal sejak umur kami 4 tahun, dulu kami berada di Taman kanak-kanak yang sama dan kini kami bertemu kembali di kampus yang sama. Kami jarang pulang bersama karena memang arah rumah kami berbeda.

Aku memandangi Suzy yang masih berjalan membelakangiku, ada apa dengannya? Bukankah dia sendiri yang mengajakku pulang bersama? Tapi mengapa kini ia diam saja dan terus berjalan mendahuluiku.

“Hey… Apa kau menikmati semua ini?” ia berhenti tiba-tiba, membuatku menabraknya tanpa sengaja. “Akhir-akhir ini tingkahmu semakin aneh!”

“Aneh? Aneh bagaimana? Apa-”

“Jangan bertanya seperti kau tidak mengetahuinya! Dengan bodohnya kau tertawa dan tersenyum seperti itu. Seakan-akan kau memakai topeng. Keceriaanmu itu benar-benar palsu!” ia memotong ucapanku lalu membalikkan badannya.

“Apa kau ini bodoh? Terlihat seperti akan menangis tapi kau terus menahannya!”

Ia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk kuartikan.

“Jika terasa sakit, katakan saja sakit! Jika ingin menangis, menangislah! Berhentilah berpura-pura. Dan menangislah!” kini ia memukul pelan pundakku. “Dasar Bodoh!!!” ia terus memukul pundakku.

Kuakui pukulannya memang sama sekali tidak terasa sakit. Tapi aku tahu apa maksudnya berkata seperti ini. Namun aku memutuskan untuk diam.

“Bodoh! Sampai kapan kau akan berpura-pura di depannya?!”

Aku menangkap tangan kanannya yang sepertinya masih akan terus memukuliku jika aku tidak menghentikannya.

“Kau… Begitu baik.. Kau bahkan begitu menghawatirkanku sampai seperti ini.” Aku memeluknya.

“Hey, jangan tiba-tiba memelukku seperti ini!” ia berusaha melepaskan pelukanku, namun aku semakin memeluknya dengan erat.

“Seperti yang kau bilang….” Aku melepaskannya dan mundur selangkah darinya. “Aku ingin menangis, karena ini memang terasa begitu sakit. Tapi… Apa yang bisa kulakukan? Karena aku begitu mencintainya. Aku mencintai Soojung.”

Aku berusaha untuk tersenyum di depannya. Dia memang benar, aku memang seorang gadis dengan topeng. Aku terluka tapi aku hanya bisa menyimpan luka itu sendiri. Menyembunyikan luka dengan sebuah senyuman.

“Jinri-ah….”

Jangan… Jangan buat nada bicara seperti itu! Itu hanya akan membuatku terlihat semakin menyedihkan.

***

“Apa yang kau lakukan di sini sendirian?”

Aku melihat Soojung yang tengah duduk sendirian di bawah sebuah pohon di taman kampus, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dan aku memutuskan untuk menghampirinya.

“Jinri-ah…” Ia terlihat sedikit terkejut saat melihatku.

“Hmm?” aku tersenyum kecil. “Kau terlihat sedang melamun saat aku memutuskan untuk menghampirimu ke sini. Apa ada yang mengganggu fikiranmu?”

“Jinri-ah.. Aku…”

“Ya?”

Ia terlihat kesulitan mengatakan apa yang ada di dalam fikirannya. Ia bahkan memejamkan matanya sambil mengerutkan alisnya.

Dan secara tiba-tiba ia berdiri. Aku hanya menatapnya penuh tanya.

Mianhae….” Ia membungkukkan badannya di hadapanku. Semakin membuatku bingung.

“Soojung-ah? Ada apa? Cepat angkat kepalamu dan berhentilah membungkuk!”

Ia berhenti membungkuk namun ia belum bisa menatap ke arahku.

“Aku… Aku mendengarnya.. Aku mendengar apa yang kau katakan pada Suzy kemarin.”

Apa??? Dia mendengarnya? Tidak… Ia tidak seharusnya mengetahui hal ini…

Ia menundukkan kepala, membuat poninya menutupi mata indahnya. “Aku memang bodoh.. Kau sudah begitu menderita namun aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku benar-benar sudah gagal sebagai sahabatmu. Mianhae.. Jeongmal Mianhae!”

Apa yang harus kukatakan? Ia sudah mengetahui perasaanku padanya.

“Ahahahaha…” aku memaksakan diriku untuk tertawa. “Sepertinya aku sudah ketahuan yah. Hahahaha…”

Kulirik wajahnya yang terlihat penuh dengan rasa bersalah… Aku benci melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu.  Aku terus diam karena aku tidak ingin melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu. Raut wajah yang penuh dengan perasaan bersalah. Karena aku tahu ini akan membuatnya merasa khawatir.

Aku tidak ingin mengambil resiko dan kehilangan dirinya. Sahabat terbaikku. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Dan itulah mengapa aku terus menyimpan rapat perasaan ini.

Tapi…

Aku merasakan bulir-bulir hangat mengalir begitu saja dari sudut mataku.

Apa yang kulakukan?  Aku tidak boleh menangis di depannya!

“Oh.. Ini aneh.. Sepertinya ada debu yang masuk ke dalam mataku.”

Dengan cepat aku menghapus air mataku.

“Aku tidak menangis. Sungguh…”

Tanpa kuduga, aku merasakan sepasang tangan hangat melingkar pada leherku. Ia memelukku. Kami terbiasa berpelukan, namun pelukan kali ini terasa begitu berbeda.

“Soojung-ah… Apa yang-“

Mianhae…” lirihnya dengan suara pelan.

“Aku… Aku sangat mencintai Amber. Aku tak bisa menghianatinya. Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Tapi… Tapi aku benar-benar tidak bisa membalas perasaanmu, Jinri-ah.” Kurasakan ia semakin mempererat pelukannya.

Seperti tertusuk ribuan jarum, hatiku yang memang sudah terluka kini terasa semakin sakit.

Please.. Lets stay as best friend.”

Best friend, huh?

Aku memaksakan sebuah senyuman, namun air mata ini tak juga berhenti mengalir.

Geez, you’re so silly. Of course I know that! Aku minta maaf karena telah membuatmu khawatir. Dan terima kasih. Kuharap kau dan Amber hyung akan selalu bahagia!”

Aku sadar jika suaraku bergetar saat mengucapkan itu semua.

“Ah.. Kelas yang selanjutnya akan segera dimulai. Sebaiknya  kau segera ke kelas.”

Aku mendorong pelan pundaknya, melepaskan kehangatan yang ia berikan.

“Bukankah kau juga ikut kelas Manajemen?”

“Ah.. Kau duluan saja. Aku masih ingin di sini.”

Aku berbalik. Aku tak sanggup menatap wajahnya lagi. Terasa begitu sakit.

Kudengar derap langkahnya yang semakin jauh.

“Ah… So it’s a no, huh? Suzy-ah… kau di sana bukan?”

Kulihat Suzy keluar dari balik pohon. Aku memang sudah menyadari keberadaannya sejak tadi.

“Dengar, aku di sana karena tadi aku tertidur di sana dan bukan untuk menguping pembicaraan kalian.” Ia berbicara dengan sangat cepat.

You’re a terrible liar, Suzy-ah.

“Aku baru saja ditolak.”

“Aku tau..”

“Dia bilang bahwa dia sangat mencintai Amber hyung…”

“Aku dengar itu…”

Aku menengadahkan kepalaku. Menutup kedua mataku. Merasakan hembusan angin menerpa wajahku.

“Aku bilang aku akan menutup hatiku dan mengubur perasaan ini dalam-dalam. Aku tidak ingin membuat Soojung merasa khawatir. Aku terus meyakinkan diriku sendiri agar terus tersenyum…”

“Jinri-ah… Setidaknya dalam situasi seperti ini, kau harus mengeluarkan seluruh isi hatimu dan menangis. See? No body watching!

Suzy memutar badannya, lalu membelakangiku.

Dan seketika itu aku menangis, aku berteriak namun suaraku tertahan. Aku terisak, dadaku terasa begitu sakit.

Akhirnya, topeng yang selama ini kukenakan terbuka. Topeng itu pecah berkeping-keping. Pecah bersama aliran air mataku.

.

.

.

THE END

Please don’t kill me, guys!!! Hahahaha…

Kenapa gue dr kemaren bikin ff sad mulu? Ya karena gue lagi pengen aje.. dan karena kemaren gue abis baca Doujin yang berjudul sama dengan ff ini.. sumpah, gue nangis baca itu… hahahahah…

But, don’t worry… I’ll try to post GBF as soon as possible…😄

But not now…….. Or Tomorrow… Or The Day After Tomorrow… hahahah…

Btw, this fic was dedicated for all my readers who get friendzoned! Hahahaah…