Morning (YoonHyun version)

Hai guys~~~ sorry.. belom bisa apdet yang lain… buat sekarang gue kasih yang ini aja ya… gue bikin semalem pas gak bisa tidur.. maklum aja kalo agak gaje soalnya gue ngetik di henpon.. hahaha.. gue bahkan gak tau ini ada berapa kata.. oke deh.. ..
Here~~~
.
.
.

Title     : Morning
Author : Llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo
.
.
.

Mentari pagi baru saja menampakkan dirinya, meskipun masih terlihat malu-malu namun perlahan sinarnya mulai menghangatkan. Jika berbicara tentang kebanyakan orang mungkin mereka akan merasa enggan untuk meninggalkan tempat tidurnya yang terasa begitu nyaman, sambil menarik kembali selimut mereka akan berusaha untuk kembali terlelap. Namun Seo Juhyun bukanlah termasuk ke dalam kategori kebanyakan orang tersebut, gadis pecinta keroro itu sudah terbiasa bangun sebelum mentari bersinar. Ia akan menyempatkan dirinya untuk membaca beberapa buku sejarah atau bahkan politik sebelum memulai aktifitasnya sebagai salah seorang member girlgroup kenamaan Korea Selatan “Girls’ Generation“.
Seperti pagi-pagi sebelumnya, kini Seohyun tengah membaca buku di ruang tamu sambil ditemani segelas susu cokelat panas.
Seohyun segera menutup buku yg tengah ia baca setelah mendengar handphone-nya berdering. Ia tersenyum sebelum menggeser icon telepon berwarna hijau untuk menerima panggilan tersebut.
Good mor--”
“Hyunnie, aku terluka.”
Belum sempat Seohyun menyelesaikan ucapan salam-nya, suara manja sang penelpon memotong ucapannya.
“Aku terluka karena aku baru saja terjatuh—”
“Tunggu aku, eonni. Aku akan segera ke sana.”
Tanpa membuang waktu lagi, Seohyun mematikan sambungan telepon itu lalu meletakkan buku sejarah yang sejak tadi ia baca di rak buku dan dengan gerakan tergesa ia mengambil kunci mobilnya.
***
Setelah menempuh 30 menit perjalanan (rekor tercepatnya selama mengemudi ke tempat itu) ia segera mengeluarkan kunci cadangan dan dengan tergesa ia memasuki apartemen milik Yoona.
Ia berhenti di ruang tamu dan melihat Yoona yg tengah bersantai sambil menonton televisi.
“Oh Hyunnie, cepat sekali. Kemarilah!”
Dengan santai Yoona mengisyaratkan Seohyun untuk ikut duduk bersamanya.
Eonni…. bukankah kau bilang kau sedang terluka? Apa yang terluka?”
“Aku terluka karena aku terjatuh…” dengan senyum kekanakan Yoona menjawab.
“dan aku terjatuh karenamu. Aku jatuh cinta padamu lagi, Hyunnie. Eheheheheh.”
Seohyun terdiam…. Jadi ini hanyalah sebuah lelucon? Ia sudah terburu-buru datang hingga ia lupa memakai sabuk pengaman dan hampir saja dikenai sanksi oleh polisi karena menerobos lampu merah. Untung saja polisi tersebut adalah salah satu fans-nya, sehingga ia bisa lolos dengan syarat ia harus memberikan polisi tersebut tanda tangannya dan juga foto bersamanya. Dan kini semua itu tidak ada gunanya?!
Alisnya mengkerut.
“Aku akan pulang sekarang!”
Dengan kesal Ia berbalik dan hendak membuka pintu, namun sepasang tangan kurus melingkar di pinggang rampingnya.
“Hey… Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir….” ucap Yoona lembut.
Seohyun terdiam. Ia merasa kesal kepada Yoona, leluconnya kali ini memang sudah sangat keterlaluan.
“Aku tidak suka dengan leluconmu, eonni.”
“Siapa bilang aku tengah membuat lelucon? Aku benar-benar sedang terluka, Hyunnie.”
“Tapi kau—”
“Setiap detik tanpamu terasa begitu sepi dan membuat hatiku terasa sakit.”
Yoona mengeratkan pelukannya sambil menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher jenjang Seohyun. Membuat gadis pecinta keroro itu bergidik merasakan hembusan nafas Yoona.
“Jadi, maukah kau selalu menemaniku? Selalu ada di sampingku selamanya dan mengobati rasa rinduku yang tiap detiknya terus bertambah besar hingga rasanya begitu sesak jika tanpa hadirnya dirimu?!”
Yoona melepaskan pelukan mereka, perlahan ia membalikkan tubuh Seohyun agar menghadapnya.
Yoona menatap dalam mata indah Seohyun lalu tersenyum sebelum mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah muda dari saku celananya.
Seohyun terpaku melihat benda berbentuk lingkaran kecil berwarna keemasan. Semua kekesalannya tadi hilang begitu saja.
Would you be mine?”
But I’m already yours.
“Oh.. right… then… Will you marry me?”
“Isn’t it obvious? Of course… I’ll say yes.
Here.. let me put it on.” Yoona menarik pelan tangan kiri Seohyun dan memakaikan cincin bertuliskan namanya pada jari manis Seohyun.
“Dan ini untukku.” Yoona hendak memakai sendiri cincin bertuliskan nama Seohyun pada jarinya, namun Seohyun segera menghentikannya.
“Bukankan aku yang seharusnya memakaikan itu pada jarimu?”
“Hehehe.. aku lupa.” Yoona menampilkan senyum kekanakannya.
Dork…”
I love you too.”
“Aku tidak bilang–”
dengan cepat Yoona memotong ucapan Seohyun dengan mengecup lembut bibir Seohyun.

What a beautiful morning…..
.
.
.
.
.
.

-EXTRA-

Setelah melewati pagi yang cukup melelahkan karena ulah kekasih tercintanya. Kini Seohyun tengah duduk santai di ruang tamu apartemen Yoona dengan Yoona yang berbaring dan merebahkan kepalanya di pangkuannya.
“Apa kau tidak merasa lelah, eonni?”
“Eh? Tidak…” Yoona merasa bingung dengan pertanyaan Seohyun.  Sepanjang pagi ini yang ia lakukan hanyalah berbaring di pangkuan Seohyun. Ia sama sekali tidak merasa lelah.
“Kufikir kau merasa lelah. Karena kau terus saja berlari di dalam fikiranku.”
blush
Counter attack!!! Good job Seo Juhyun!!!

.
.
.
END

Hahahahaha…
Gue kangen YoonHyun… 😂😂😂 jadi iseng2 bikin beginian deh..
How do you think???

-llamaunyu-

Girls Before Flower (Chapter 7)

Author : Llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo
Title : Girls Before Flower
Genre : Shojou Ai (Girl x Girl), Comedy, Romance
Cast : Krystal Jung, Amber J. Liu as Lee EunYoung, Choi Sulli, Kwon Yuri, Im Yoon Ah, Jessica Jung, Park Luna, Seo JooHyun

Hope you like it and…
Happy reading.. ^,^

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY
Don’t Like Don’t Read
Typo dan EYD bertebaran

Chapter 7

-Krystal POV-
“Bodoh… Dia memang bodoh.” Aku mendekatinya yang masih duduk di tengah guyuran hujan. “Hey, bodoh. Apa yang kau lakukan disini?”
Ia menoleh ke arahku.
“Kau ini benar-benar bodoh. Apa yang membuatmu begitu yakin jika aku akan datang kesini?”
“Aku tahu kau pasti datang.” Ia tersenyum dengan wajah yang terlihat pucat. Sudah berapa lama ia ada disini?
“Aku tak ingat jika aku mengatakan akan datang kesini.”
“Tapi kau sudah ada disini sekarang.” Ia berdiri dari kursi dan ikut berteduh dibawah payungku. “Kajja, aku kedinginan.” Ia menarik lenganku.
Siapa yang menyuruhnya menungguku? Toh aku tak pernah berjanji akan datang. Dasar bodoh.
“Kau tidak membawa mobil?”
“Tentu saja aku membawa mobil.” Ia meniup lalu menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.
“Lalu kenapa kau tidak menunggu di mobil saja? Kau akan mati kedinginan jika saja aku benar-benar tidak datang!”
“Kau tidak akan melihatku jika aku menunggumu di dalam mobil!”
Ah sudahlah.. tak ada gunanya berdebat dengannya. Aku hanya bisa menghela nafas.
Setelah kami sampai di tempat ia memarkirkan mobilnya, ia langsung memasuki mobilnya tanpa membukakan pintu untukku. Cih, sudah kuduga. Dia memang bukan tipe yang romantis. Apa barusan aku menyebut kata Romantis? Tidak… tidak… untuk apa aku kecewa karena dia tidak bersikap romantis kepadaku?
Ia memandangku dengan heran. Ia mengisyaratkan agar aku segera masuk ke dalam mobilnya.

-End of Krystal’s POV-
***
“Kenapa kita kesini?”
“Ini adalah galeri pribadi milikku.” Yoona membuka payung putihnya lalu keluar dari mobilnya. “Ayo!” Yoona membukakan pintu mobil untuk Seohyun dan mengajaknya ke dalam galeri itu.
Dengan patuh Seohyun menuruti Yoona.
Galeri itu memang tidak terlalu besar, namun cukup terlihat mewah. Beberapa lukisan terpajang di hampir seluruh sisi Galeri itu.
“Kau mengoleksi semua ini?” ujar Seohyun yang masih mengamati setiap lukisan yang terpajang dengan seksama.
Yoona tertawa kecil mendengar pertanyaan itu.
“Mengoleksi? Akulah yang membuat semua ini.”
Pernyataan Yoona membuat Seohyun terkejut.
“Apa aku kurang meyakinkan? Butuh bukti akan kemampuanku? Duduk lah di sana. aku akan melukismu.”
***
Yuri masih memeluk Jessica dari belakang. Ia menghirup aroma Strawberry dari gadis yang tengah ia peluk itu. membuatnya mabuk akan aroma itu. aroma yang membuatnya semakin ingin terus menghirupnya. Sementara itu gadis yang ada di pelukannya itu sedang bergelut dengan dirinya sendiri di dalam fikirannya. Ia ingin melepaskan dirinya dari Yuri tapi tubuhnya berhianat. Tubuhnya sama sekali tidak bergerak dan masih bergeming dalam pelukan Yuri. Untuk beberapa saat mereka berdua tak bergerak dari posisi itu.
“Jadi bagaimana, Miss?”
Jessica masih bergeming. Ia benar-benar merasa bingung.
“Ingatlah, Jessica Jung. Dia ini adalah seorang player. Jangan terjatuh ke dalam jebakannya.” Batin Jessica.
Setelah menarik nafas cukup dalam, Akhirnya Jessica melepaskan pelukan Yuri lalu berbalik menatap tajam gadis tanned di depannya.
“Aku tidak bisa, nona Kwon!” ucap Jessica dingin. “Berhentilah melakukan hal-hal konyol!”
Yuri menggenggam kedua tangan Jessica lalu menatapnya. “Berikan aku kesempatan, Miss!”
“Kesempatan?”
“Ya, berikan aku kesempatan satu minggu. Jika kau tidak jatuh cinta kepadaku selama satu minggu, aku akan menyerah.” Ucap Yuri penuh percaya diri. Ia sangat yakin jika gadis di depannya ini akan tunduk kepadanya seperti gadis lainnya yang pernah ia kencani.
“Aku tidak akan memberikanmu kesempatan apapun, nona Kwon. Jadi, bisakah aku pergi sekarang?”
Jessica melepaskan tangannya dari genggaman Yuri. ia berbalik dan meninggalkan Yuri yang masih terdiam begitu saja.
Yuri tersadar dari lamunannya. Seorang Kwon Yuri untuk pertama kalinya tidak bisa dengan mudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Meski ini adalah sebuah pukulan yang benar-benar melukai citra-nya sebagai seorang player nomor satu di SM International School tetapi ia masih menampilkan senyum andalannya. Bukan karena ia menjunjung tinggi motto “Hadapi semua dengan senyuman”. Tetapi lebih kepada ia seperti telah menemukan sesuatu yang begitu menarik. Lebih menarik daripada mengencani seorang Kim Tae Hee.
***
“A-apa yang kau lakukan?” Ucap Krystal dengan wajah yang memerah karena melihat Amber tengah membuka kancing-kancing kemeja biru muda-nya.
Amber hanya menyeringai lalu membuka kemejanya, menyisakannya hanya dengan kaus dalam berwarna putih.
“Jika kau berbuat macam-macam. Aku akan berteriak.” Ucap Krystal memperingatkan, tangannya menyilang di depan dadanya.
“Apa yang kau fikirkan, nona Jung? aku hanya akan mengganti bajuku yang basah.” Ucap Amber sambil terkikik.
Mendengar jawaban dari gadis tampan itu, wajah Krystal semakin memerah. Apa yang ia fikirkan? Ia benar-benar merasa malu sekarang.
“Aaa… Aku tau… Kau pasti berfikiran yang tidak-tidak.” Amber mendekatkan wajahnya pada Krystal. “Apa kau ingin melakukan ‘itu’? ucap Amber dengan nada menggoda.
Dengan cepat Krystal mendorong wajah Amber menjauh. “Pervert!”
“Hey… lihat siapa yang bicara. Bukankah kau yang membayangkan hal aneh?”
Krystal membuka pintu mobil Amber, membuka payungnya lalu menutup pintu mobil itu dengan keras. “Dasar Bodoh!”
Amber tertawa keras melihat tingkah Krystal. Ia membuka kaca mobilnya.
“Kau mau kemana? Apa kau mau lari dari tanggung jawab?” goda Amber.
Krystal memutar bola matanya. “Aku akan membelikanmu minuman hangat. Kau tunggu saja di sini.”
***
Amber telah mengganti pakaiannya yang basah. Ia mengenakan kemeja merah muda dipadu dengan celana Jeans berwarna hitam.
“Kemana perginya gadis itu?” gumam Amber sambil memandangi jendela mobilnya dan melihat hujan yang sudah mulai reda.
Seorang gadis menghampiri mobilnya sambil membawa dua gelas kopi yang asapnya masih mengepul.
“Hey.. Ini untukmu.” Krystal memberikan segelas kopi lewat jendela mobil yang terbuka kepada Amber.
Krystal yang kini sudah berada di dalam mobil dapat melihat Amber yang tengah memandangi gelas kopinya.
“Oh, Kau beli dimana?”
“Di pinggir jalan sana.”
“Kopi pinggir jalan? Yang benar saja.” Ucap Amber sambil tersenyum aneh.
Krystal menyesap Kopi-nya. “Jika kau tidak mau, kau bisa membuangnya.”
“Aku akan memuseumkan ini.” batin Amber masih sambil tersenyum aneh.
Krystal kembali menyesap Kopi-nya lalu menatap Amber yang sejak tadi hanya terus memandangi gelas kopi di tangannya sambil tersenyum aneh.
“Mengapa kau tersenyum seperti itu? it’s kinda creepy you know.”
“Aku hanya tidak menyangka jika aku akan meminum kopi yang dijajakan di kaki lima seperti ini.”
Krystal menghela nafas dalam. “As expected from a heiress of big company.” Batin Krystal.
“Minumlah… Aku tidak memasukkan racun ke dalamnya.” Amber terkekeh saat mendengar itu dari Krystal.
“Ah, benar juga. Aku tak memikirkan kemungkinan itu.” Amber memicingkan matanya pada Krystal.
“Seharusnya tadi kumasukkan saja racun sianida di kopi itu.”
“hooo… Ternyata pikiranmu itu seperti seorang Psikiater saja.”
Krystal mengerutkan dahinya. “Psikiater? Apa maksudnya Psikopat?”
***
Seperti pagi-pagi sebelumnya anggota The Roses berjalan di koridor sekolah dengan dikelilingi oleh para gadis-gadis yang berteriak histeris melihat mereka.
“Achhooo…”
“Apa kau terkena flu? Tidak biasanya seorang Lee Eun Young terkena flu.” Yoona menatap Amber yang wajahnya terlihat agak pucat.
“Jika kau sakit harusnya kau tidak perlu masuk sekolah, Youngie.” Yuri menepuk pelan pundak Amber.
“Diamlah kalian… Aku tidak apa-apa.”
Amber melihat Krystal dari arah yang berlawanan dengannya.
“Nona Jung!!!” Amber berteriak cukup keras, mengundang tanya dari beberapa siswi yang mengerubungi The Roses. “Kemarilah!”
Krystal meruntuki kebodohan gadis tampan itu. “Great. Now the entire school must be hate me!”
Dengan langkah yang ragu, Krystal berjalan menuju The Roses. Semua siswi yang ada di sana mulai berisik dan menatap Krystal dengan tatapan tidak suka.
“Hei… Nona Jung, lihat apa yang telah kau perbuat padaku. Sejak semalam aku terus menerus bersin.” Amber menarik Krystal agar berdiri lebih dekat dengannya. Membuat semua orang terkejut.
“Uh, That’s not my fault. Siapa suruh kau menungguku di bawah guyuran hujan?!” Krystal hendak melepaskan genggaman Amber namun ia tak bisa melawannya.
Tanpa menghiraukan protes dari Krystal, Amber menarik Krystal semakin dekat dengannya hingga pundak mereka bersentuhan.
“Dengar.. Aku akan mengumumkan sesuatu.”
Semua siswi yang sedari tadi saling berbisikpun terdiam.
“Mulai hari ini, nona Jung Soojung adalah kekasihku. Siapapun yang ingin berurusan dengannya itu berarti harus melewatiku terlebih dahulu. Apa kalian mengerti?”
Yoona dan Yuri saling menatap. “Apa dia sudah gila?”
***
Sungguh, Krystal merasa risih dengan kebaikan-kebaikan palsu yang diberikan oleh teman-teman sekelasnya. Setelah mendengar pengumuman dari Amber, seluruh teman sekelasnya berlomba-lomba untuk bersikap baik padanya. Sekarang ia lebih memilih masa-masa dimana mereka semua memusuhinya. Terasa lebih damai.
Kini ia tengah berdiri di depan pintu dimana The Roses sering melewatkan waktu bersama. Sebuah ruangan yang mereka sebut “Glass of Garden”.
Ia membuka pintu dengan cukup keras, membuat Yoona dan Yuri yang tengah meminum soda tersedak bersama.
“Ya!! Nona Jung, kau membuat kami kaget saja!”
Tanpa mendengarkan Yoona yang memarahinya, ia berjalan mendekati Amber yang sepertinya belum menyadari kedatangannya. Amber tengah memainkan sebuah video game, wajahnya terlihat begitu serius.
“Lee Eun Young!”
Amber bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar TV di depannya, jari-jari tangannya terus bergerak dengan lincahnya.
“LEE EUN YOUNG!!!”
Dan Krystal masih belum mendapatkan perhatian dari orang yang dipanggilnya.
Merasa kesal, Krystal segera mencabut kabel TV di pojok ruangan.
“YA!!! What are you doing?! Sebentar lagi aku bisa menyelesaikan stage terakhir dan kau mengacaukan semuanya!”
Amber membanting stik game yang sedari tadi ia pegang.
“Kau… Apa yang sebenarnya ada di dalam otakmu?!” Krystal menjambak rambut pendek Amber dengan gemas membuat orang yang bersangkutan merasa kesakitan.
“Ya!! Noona, help me!!!” rengek Amber sambil mencoba melepaskan tangan Krystal dari rambut pendeknya.
Yuri dan Yoona hanya menahan tawanya.
“Solve your own problem, bro. sorry we can’t help you…” Yoona tersenyum mengejek.
“Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiranmu? Mengapa kau bilang pada semua orang jika aku ini kekasihmu?” ucap Krystal setelah melepaskan Amber.
“Kau masih saja menjadi gadis berisik dan cerewet, nona Jung!”
Krystal menoleh ke arah sumber suara, ia terdiam.
“Sulli?” gumam Krystal, matanya membulat melihat Sulli yang kini berdiri di pojok ruangan sambil merangkul dua gadis yang mengenakan pakaian minim.
Ia terkejut.. Terkejut karena Sulli berada di sana, tapi yang lebih membuatnya terkejut adalah kelakuan gadis jangkung itu. Sejak kapan dia menjadi gadis seperti itu? Jika ia melihat Kwon Yuri bersama sepuluh wanita ia tak akan terkejut. Tapi ini adalah seorang Choi Sulli. Choi Sulli yang ia kenal bukanlah gadis player seperti ini.
Ia merasa kecewa.
Ada apa dengan Sulli? Mengapa ia menjadi seperti ini? Dan kemana Luna eonni? Bukankah Sulli pergi ke Perancis untuk menyusul Luna eonni?
“Sejak pulang dari Paris, ia menjadi lebih ‘hidup’.”
Perkataan Yuri menyadarkan Krystal.
“Sekarang ia tahu bagaimana caranya menikmati hidup.”
Krystal mengerutkan alisnya. Kini ia bahkan lupa alasannya datang ke tempat itu. Ia melupakan Amber yang kini masih mengelus kepalanya sendiri.
“Kapan kau pulang?” ujar Krystal dengan suara pelan.
“Kemarin…”
Krystal melihat tangan kiri Sulli menjelajahi tubuh bagian belakang gadis dirangkulannya. Ia akui, ia sama sekali tidak menyukai Sulli yang sekarang ini.
Suasana di sana semakin terasa canggung. Krystal berbalik, dan berjalan menuju pintu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membanting pintu bercat cokelat itu.
“Mengapa dia hobi sekali membanting pintu?” ujar Yoona sambil terkikik.
***
Krystal’s POV
Sejak kejadian tadi, aku terus memikirkan Sulli. Ada apa dengannya? Mengapa ia berubah menjadi seperti itu? Apa yang sebenarnya terjadi di Paris? Aku memang belum lama mengenalnya, tapi aku bisa mengatakan bahwa dia bukanlah orang seperti itu. Bukankah ia bilang jika ia mencintai Luna eonni? Lalu mengapa ia malah ‘bermain’ bersama kedua gadis tak jelas itu? Apa semua anggota The Roses’ itu seperti itu? Apa mereka semua adalah sekumpulan Players?
“..Jung..”
“Soojung..”
Aku menoleh, dan kudapati Joohyun eonni tengah menatapku.
“Ada apa? Aku sudah memanggilmu sebanyak 4 kali tapi kau tidak menoleh. Apa kau sedang sakit?”
Ah… Aku melamun sudah terlalu lama hingga menggangu pekerjaanku.
“Mianhae, eonni.” Aku membungkuk dan tersenyum canggung. “Aku hanya memikirkan sesuatu, maafkan aku.”
“Tolong antarkan pesanan ini ke meja 10.” Ia memberikan ku nampan berisi 2 potong Cheese cake dan 2 cangkir cokelat panas.
Setelah mengantarkan pesanan tersebut, aku melangkah santai menuju meja kasir. Namun sebelum aku sampai di meja kasir, aku merasakan tarikan pelan pada tangan kiriku, aku menoleh dan mendapati wajah cantik Yoona sunbae. wajahnya terlihat begitu khawatir.
“Sunbae?”
Ia menarikku keluar dari toko roti.
“Ada apa ini? Mengapa kau datang kemari dan tiba-tiba menarikku?” ujarku sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya.
Sigh… Dia terlihat kurus tapi mengapa tenaganya besar sekali?! Aku tak bisa melepasakan genggaman tangannya.
“Kakakmu mengalami kecelakaan!”
Apa…. Apa yang baru saja ia katakan?
Kakakku? Sica eonni?
“A-apa maksudmu?”
Ia tak menjawabku, ia terus menarikku hingga kami sampai di depan mobil Audi Putih yang terparkir di depan toko roti. Ia membuka pintu mobil lalu memaksaku duduk di kursi belakang.
Kulihat ia tidak langsung duduk di kursi pengemudi, ia berjalan memasuki toko roti lagi. Kali ini ia menarik Joohyun eonni bersamanya. Joohyun eonni terlihat begitu kebingungan.
Ada apa ini?
.
.
.
.
.
.
T B C
HAHAHAHAHA…. I’M BACKKKKK…
MISS MEEEE????? XD
Apa kabar nih readers???? Maap ya baru bisa apdet… I’m kinda distracted…. With my new job and…. New Idol… wkwkwk… iya.. gue kedistrak sama AKB48 dan sister2nyaaa… XD
Bukannya gak cinta lagi sama F(x) ato Soshi.. Cuma gue lagi suka Jejepangan lagi nih… XD *malah curhat*
Okeh… Kira2 masih inget sama ff2 gue gak? Dan kira2 ff apa yang paling lo tunggu2? *nggak ada* *kriiikkkk* XD
Okeh deh… sekian dulu ya… see ya~~~~
-llamaunyu-

Morning

Hai….

Gue kasih ini aja dulu yak!

.

.

.

Author : Llamaunyu1809  a.k.a  Lee Eun Soo

Title     : Morning

.

.

.

Jessica sangat benci jika harus terbangun di pagi hari. Sejak kecil hingga kini ia memang bukanlah seorang “morning person”. Entah karena ia terlalu malas atau karena ia begitu menyukai tidur. (catatan : Jessica selalu tidur selama 9 jam tiap malam).

Tapi pagi ini, ketika ia membuka matanya ia tidak merasakan perasaan kesal seperti biasanya saat ia harus bangun pagi. Itu semua karena pemandangan pertama yang menyapanya saat menoleh ke samping kanannya adalah wajah tidur Kwon Yuri yang terlihat begitu damai. Tak ada kata yang mampu ia ungkapkan, hatinya terasa begitu hangat dan penuh dengan kebahagiaan.

Jessica terus memandangi seobang-nya dengan penuh perasaan kagum, bagaimana seseorang masih bisa terlihat cantik sekaligus tampan dengan rambut hitam panjangnya yang berantakan. Ia benar-benar beruntung bisa mendapatkan makhluk hitam tampan ini. Tidak sia-sia ia mengejarnya, menjatuhkan harga dirinya demi gadis di sampingnya ini. Semua pengorbanannya sudah terbalas, ia bahkan tak menyangka jika mereka akan benar-benar menikah saat ia bilang pada Kwon Yuri jika ia ingin menikah dan sebulan kemudian pernikahan itu terjadi. Ia tidak ingin terdengar terlalu klise, tapi ia benar-benar berpikir jika Kwon Yuri adalah malaikat yang jatuh dari langit untuk menjaganya dan memberikannya cinta.

My Blackpearl Angel…

Ia masih mengamati setiap inci wajah Kwon Yuri, alisnya yang tebal, bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mancung, dan bibir merah mudanya yang terlhat begitu menggoda. Bibirnya yang ia yakin akan terasa lebih manis daripada permen dan lebih lembut dari pada marshmallows.

Ia ingin sekali mengecup bibir milik Kwon Yuri itu, namun ia merasa sedikit ragu. Tentu saja itu bukan karena mereka belum pernah berciuman sebelumnya.  Tapi ia merasa tidak tega membangunkan gadis hitam itu, mengingat “aktifitas” yang mereka lakukan semalam. Ia tidak mau menjadi gadis egois seperti dulu, hidupnya banyak mengalami perubahan semenjak ia dan Kwon Yuri bersama. Jessica bukan lagi gadis arogan dan sombong, ia tidak pernah memaksakan kehendaknya lagi.  Sekarang ia adalah seorang Direktur muda yang bijaksana.  Selalu menyapa pegawainya setiap pagi, tersenyum sepanjang hari dan jarang sekali membentak pegawainya tanpa alasan.  Seluruh pegawai Jung Enterprise berhutang banyak pada Kwon Yuri yang telah merubah nenek sihir menjadi putri salju.

Jessica terus memperpendek jarak wajah mereka. Jantungnya berdetak begitu cepat, mengapa ia selalu merasa seperti ini meskipun mereka sudah cukup lama bersama? Kwon Yuri tak pernah gagal membuat jantungnya berdetak lebih cepat, bahkan meskipun makhluk hitam itu tengah tertidur seperti ini. Mungkin setelah ini ia benar-benar harus melakukan medical check-up terhadap kesehatan jantungnya.

Saat jarak wajah mereka semakin dekat,  wajahnya terasa semakin hangat dan detak jantungnya semakin tidak karuan.

Chuuu

Alih-alih mendaratkan kecupan di bibir, ia hanya mendaratkan sebuah kecupan singkat pada kening Kwon Yuri.

“She must feel  really exhausted.. I shouldn’t interfere her peaceful sleep.”

Ia mengelus lembut puncak kepala Kwon Yuri, membenarkan beberapa anak rambutnya lalu sekali lagi mengecup kening seobang-nya.

What a beautiful morning….

.

.

.

Hihihi… dan….. Gue malah bikin beginian… kasian dr kemaren nih wepe isinya sad story mulu…  ini emang pendek.. karena ini Cuma DRABBLE….  Dan sepertinya gue bakal menghiasi wepe ini dengan drabble-drabble kayak gini… sambil nunggu GBF gitu~~~

How do you think?

-llamaunyu-

Mask of Smile

Sorry… Belum bisa post GBF… hihihi…

And I’m back with another sad story (AGAIN)…. Hahahah…

Nikmati aja dulu yang galau2 ini…

.

.

.

Author : Llamaunyu1809  a.k.a  Lee Eun Soo

Title     : Mask of Smile

Genre  : Angst

Cast    : Choi Sulli, Krystal Jung, Amber J. Liu, Bae Suzy

.

.

.

Kau begitu dekat namun begitu sulit kugapai..

Pelukanmu terasa hangat namun juga terasa menyakitkan di waktu yang bersamaan..

Kau… Yang begitu kucintai…

Kau… Yang tak akan pernah bisa kumiliki…

.

.

.

“Jinri-ah!”

Aku mendengar suara indahnya memanggilku dari kejauhan. Perlahan ia menghampiriku, memelukku dengan cukup erat. Namun sebelum aku sempat membalas pelukan hangat darinya, ia melepaskanku.

Aku merasa kecewa, namun aku tetap memperlihatkan senyumku untuknya.

“Sepulang sekolah nanti, apa kau mau menemaniku makan parfait?” aku masih bisa merasakan kehangatan dari tangannya yang masih menggenggam tanganku. Terasa begitu hangat…

“Kufikir kau akan pergi bersama Amber hyung.”

“Si bodoh itu.. Ia mendapatkan nilai jelek dalam beberapa mata kuliah di Ujian Akhir Semester kemarin. Dia harus melakukan ujian ulang dan mengikuti pelajaran tambahan.” Bibirnya mengerucut, membuatku ingin mengecupnya. Andai saja aku bisa…

Aku… Aku hanya pengganti dirinya. Saat orang itu tak bisa bersamanya. Karena aku hanya seorang sahabat, sahabat yang harus selalu ada disaat ia membutuhkanku.

Itulah alasanku untuk mengubur perasaan ini. Aku tak akan pernah bisa menjadi lebih dari sekedar sahabatnya. Dan aku yakin jika ia mengetahui persaanku ini, maka aku takkan bisa lagi menjadi sahabatnya.

***

Seperti hari-hari sebelumnya, aku menemaninya membaca buku-buku Manajemen yang begitu tebal di perpustakaan kampus. Aku hanya bisa memandangi wajah cantiknya dari samping, mengapa ia terasa begitu jauh untuk kugapai meski kini ia berada di sampingku?

Ia masih sibuk membaca buku, dan seperti biasa ia tidak akan menyadariku yang masih memandanginya. Aku lebih memilih memandangi wajahnya seharian daripada harus membaca buku tebal itu. Ia lebih menarik perhatianku, bagaimana raut wajahnya berganti di setiap paragraf yang ia baca. Ketika materi yang ia baca tidak terlalu jelas dan membuatnya bingung, ia akan mengerutkan dahinya lalu bibirnya akan mengerucut. Ia sangat lucu.

“Soojung-ahhh…” kulihat seorang gadis tampan datang dan langsung menghambur memeluknya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Soojung dengan begitu posesif.

“Aku lelah, Soojung-ah! Pelajaran tambahan itu benar-benar membuatku gila!” gadis tampan itu begitu manja padanya dan Soojung dengan senang hati memanjakannya.

Taukah mereka jika kemesraan mereka perlahan membunuhku? Aku ingin menangis namun wajahku hanya bisa tersenyum.

“Itu karena kau bodoh! Hingga kau harus mendapatkan pelajaran tambahan!” Soojung memukul pelan puncak kepalanya sambil terkikik. Mereka memang terlihat begitu serasi. “Ayo pulang dan aku akan mengajarimu.”

Gadis tampan itu melingkarkan tangannya di pundak Soojung, dan mereka berjalan begitu saja tanpa menghiraukanku. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka. Soojung bahkan melupakan janjinya padaku untuk makan parfait bersama.

“Hei, Choi JinRi ayo pulang bersama!” entah datang darimana, tiba-tiba saja Suzy menarik tanganku dan kami berjalan mendahului mereka.

***

Hening… Sepanjang perjalanan di koridor kampus Suzy terus saja terdiam.

Aku memutuskan untuk menghilangkan keheningan ini. “Hey, ada apa? Tidak biasanya kau mengajakku pulang bersama.”

Suzy adalah teman masa kecilku, kami sudah saling mengenal sejak umur kami 4 tahun, dulu kami berada di Taman kanak-kanak yang sama dan kini kami bertemu kembali di kampus yang sama. Kami jarang pulang bersama karena memang arah rumah kami berbeda.

Aku memandangi Suzy yang masih berjalan membelakangiku, ada apa dengannya? Bukankah dia sendiri yang mengajakku pulang bersama? Tapi mengapa kini ia diam saja dan terus berjalan mendahuluiku.

“Hey… Apa kau menikmati semua ini?” ia berhenti tiba-tiba, membuatku menabraknya tanpa sengaja. “Akhir-akhir ini tingkahmu semakin aneh!”

“Aneh? Aneh bagaimana? Apa-”

“Jangan bertanya seperti kau tidak mengetahuinya! Dengan bodohnya kau tertawa dan tersenyum seperti itu. Seakan-akan kau memakai topeng. Keceriaanmu itu benar-benar palsu!” ia memotong ucapanku lalu membalikkan badannya.

“Apa kau ini bodoh? Terlihat seperti akan menangis tapi kau terus menahannya!”

Ia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk kuartikan.

“Jika terasa sakit, katakan saja sakit! Jika ingin menangis, menangislah! Berhentilah berpura-pura. Dan menangislah!” kini ia memukul pelan pundakku. “Dasar Bodoh!!!” ia terus memukul pundakku.

Kuakui pukulannya memang sama sekali tidak terasa sakit. Tapi aku tahu apa maksudnya berkata seperti ini. Namun aku memutuskan untuk diam.

“Bodoh! Sampai kapan kau akan berpura-pura di depannya?!”

Aku menangkap tangan kanannya yang sepertinya masih akan terus memukuliku jika aku tidak menghentikannya.

“Kau… Begitu baik.. Kau bahkan begitu menghawatirkanku sampai seperti ini.” Aku memeluknya.

“Hey, jangan tiba-tiba memelukku seperti ini!” ia berusaha melepaskan pelukanku, namun aku semakin memeluknya dengan erat.

“Seperti yang kau bilang….” Aku melepaskannya dan mundur selangkah darinya. “Aku ingin menangis, karena ini memang terasa begitu sakit. Tapi… Apa yang bisa kulakukan? Karena aku begitu mencintainya. Aku mencintai Soojung.”

Aku berusaha untuk tersenyum di depannya. Dia memang benar, aku memang seorang gadis dengan topeng. Aku terluka tapi aku hanya bisa menyimpan luka itu sendiri. Menyembunyikan luka dengan sebuah senyuman.

“Jinri-ah….”

Jangan… Jangan buat nada bicara seperti itu! Itu hanya akan membuatku terlihat semakin menyedihkan.

***

“Apa yang kau lakukan di sini sendirian?”

Aku melihat Soojung yang tengah duduk sendirian di bawah sebuah pohon di taman kampus, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dan aku memutuskan untuk menghampirinya.

“Jinri-ah…” Ia terlihat sedikit terkejut saat melihatku.

“Hmm?” aku tersenyum kecil. “Kau terlihat sedang melamun saat aku memutuskan untuk menghampirimu ke sini. Apa ada yang mengganggu fikiranmu?”

“Jinri-ah.. Aku…”

“Ya?”

Ia terlihat kesulitan mengatakan apa yang ada di dalam fikirannya. Ia bahkan memejamkan matanya sambil mengerutkan alisnya.

Dan secara tiba-tiba ia berdiri. Aku hanya menatapnya penuh tanya.

Mianhae….” Ia membungkukkan badannya di hadapanku. Semakin membuatku bingung.

“Soojung-ah? Ada apa? Cepat angkat kepalamu dan berhentilah membungkuk!”

Ia berhenti membungkuk namun ia belum bisa menatap ke arahku.

“Aku… Aku mendengarnya.. Aku mendengar apa yang kau katakan pada Suzy kemarin.”

Apa??? Dia mendengarnya? Tidak… Ia tidak seharusnya mengetahui hal ini…

Ia menundukkan kepala, membuat poninya menutupi mata indahnya. “Aku memang bodoh.. Kau sudah begitu menderita namun aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku benar-benar sudah gagal sebagai sahabatmu. Mianhae.. Jeongmal Mianhae!”

Apa yang harus kukatakan? Ia sudah mengetahui perasaanku padanya.

“Ahahahaha…” aku memaksakan diriku untuk tertawa. “Sepertinya aku sudah ketahuan yah. Hahahaha…”

Kulirik wajahnya yang terlihat penuh dengan rasa bersalah… Aku benci melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu.  Aku terus diam karena aku tidak ingin melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu. Raut wajah yang penuh dengan perasaan bersalah. Karena aku tahu ini akan membuatnya merasa khawatir.

Aku tidak ingin mengambil resiko dan kehilangan dirinya. Sahabat terbaikku. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Dan itulah mengapa aku terus menyimpan rapat perasaan ini.

Tapi…

Aku merasakan bulir-bulir hangat mengalir begitu saja dari sudut mataku.

Apa yang kulakukan?  Aku tidak boleh menangis di depannya!

“Oh.. Ini aneh.. Sepertinya ada debu yang masuk ke dalam mataku.”

Dengan cepat aku menghapus air mataku.

“Aku tidak menangis. Sungguh…”

Tanpa kuduga, aku merasakan sepasang tangan hangat melingkar pada leherku. Ia memelukku. Kami terbiasa berpelukan, namun pelukan kali ini terasa begitu berbeda.

“Soojung-ah… Apa yang-“

Mianhae…” lirihnya dengan suara pelan.

“Aku… Aku sangat mencintai Amber. Aku tak bisa menghianatinya. Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Tapi… Tapi aku benar-benar tidak bisa membalas perasaanmu, Jinri-ah.” Kurasakan ia semakin mempererat pelukannya.

Seperti tertusuk ribuan jarum, hatiku yang memang sudah terluka kini terasa semakin sakit.

Please.. Lets stay as best friend.”

Best friend, huh?

Aku memaksakan sebuah senyuman, namun air mata ini tak juga berhenti mengalir.

Geez, you’re so silly. Of course I know that! Aku minta maaf karena telah membuatmu khawatir. Dan terima kasih. Kuharap kau dan Amber hyung akan selalu bahagia!”

Aku sadar jika suaraku bergetar saat mengucapkan itu semua.

“Ah.. Kelas yang selanjutnya akan segera dimulai. Sebaiknya  kau segera ke kelas.”

Aku mendorong pelan pundaknya, melepaskan kehangatan yang ia berikan.

“Bukankah kau juga ikut kelas Manajemen?”

“Ah.. Kau duluan saja. Aku masih ingin di sini.”

Aku berbalik. Aku tak sanggup menatap wajahnya lagi. Terasa begitu sakit.

Kudengar derap langkahnya yang semakin jauh.

“Ah… So it’s a no, huh? Suzy-ah… kau di sana bukan?”

Kulihat Suzy keluar dari balik pohon. Aku memang sudah menyadari keberadaannya sejak tadi.

“Dengar, aku di sana karena tadi aku tertidur di sana dan bukan untuk menguping pembicaraan kalian.” Ia berbicara dengan sangat cepat.

You’re a terrible liar, Suzy-ah.

“Aku baru saja ditolak.”

“Aku tau..”

“Dia bilang bahwa dia sangat mencintai Amber hyung…”

“Aku dengar itu…”

Aku menengadahkan kepalaku. Menutup kedua mataku. Merasakan hembusan angin menerpa wajahku.

“Aku bilang aku akan menutup hatiku dan mengubur perasaan ini dalam-dalam. Aku tidak ingin membuat Soojung merasa khawatir. Aku terus meyakinkan diriku sendiri agar terus tersenyum…”

“Jinri-ah… Setidaknya dalam situasi seperti ini, kau harus mengeluarkan seluruh isi hatimu dan menangis. See? No body watching!

Suzy memutar badannya, lalu membelakangiku.

Dan seketika itu aku menangis, aku berteriak namun suaraku tertahan. Aku terisak, dadaku terasa begitu sakit.

Akhirnya, topeng yang selama ini kukenakan terbuka. Topeng itu pecah berkeping-keping. Pecah bersama aliran air mataku.

.

.

.

THE END

Please don’t kill me, guys!!! Hahahaha…

Kenapa gue dr kemaren bikin ff sad mulu? Ya karena gue lagi pengen aje.. dan karena kemaren gue abis baca Doujin yang berjudul sama dengan ff ini.. sumpah, gue nangis baca itu… hahahahah…

But, don’t worry… I’ll try to post GBF as soon as possibleXD

But not now…….. Or Tomorrow… Or The Day After Tomorrow… hahahah…

Btw, this fic was dedicated for all my readers who get friendzoned! Hahahaah…

Painkiller

Author : Llamaunyu1809  a.k.a  Lee Eun Soo

Title     : Painkiller

Genre  : Angst

Cast    : Krystal Jung

.

.

.

Cerita ini terinspirasi dari sebuah lagu yang dibawakan oleh T-Ara, The SeeYa, 5dolls, and SPEED yang berjudul sama dengan ff ini…

.

.

.

Krystal memegang gagang pintu itu dengan tangan yang bergetar. Rambut pirangnya terlihat begitu berantakan. Kantung matanya menghitam. Ia benar-benar terlihat berantakan.

Haruskah ia membuka pintu itu?

Haruskah?

Dengan ragu Ia membuka pintu bercat cokelat tua itu.

Dingin..

Itulah yang pertama kali ia rasakan ketika memasuki rumah itu.

Sepi dan terasa begitu kosong. Berbagai furnitur di sana telah tertutupi oleh kain putih. menunjukkan orang yang pernah tinggal di sana sudah memutuskan untuk pergi. Pergi dan tak kembali.

When will things be okay?

When will the sun rise again?

Are all farewells this painful to death?

I’m choked up and I can’t even breath..

Ia meletakkan koper besarnya di depan pintu, lalu ia berjalan menuju tempat tidur dan meletakkan tasnya di atas tempat tidur.

Ia menarik nafas lalu memaksakan sebuah senyuman. Satu persatu kain putih yang menutupi hampir semua furnitur di sana mulai ia angkat. Ia membuka jendela kamar yang mungkin sudah lama tidak pernah dibuka itu, membiarkan sinar matahari menghangatkan ruangan. Namun itu belum cukup untuk membuat hatinya terasa hangat.

Time goes but it’s no use..

Please heal  my heart so I can smile a little..

This headache won’t get better..

I pull my pillow into my arms..

Mengapa hatinya terasa begitu dingin? Mengapa hatinya terasa membeku?

Ia membuka kopernya, mengeluarkan beberapa pakaian yang ia bawa. Meskipun ukuran koper yang ia bawa cukup besar, namun ia tak membawa banyak pakaian. Hanya beberapa T-shirt, Jeans, Kemeja dan dua buah Jaket.

The thorns keep piercing my heart..

I scream in my unlit room..

This severe cold won’t get better..

Ia membuka pintu lemari dan mendapati beberapa Kemeja dan Sweater. Ia mengambil salah satu sweater yang tergantung di dalam lemari itu. Ia memeluk sweater itu, dan mulai menangis. Ia sudah menahan air matanya sejak ia berada di depan rumah ini. Namun ia benar-benar tidak bisa lagi menahannya.

Kapan semua ini akan berakhir? Kapan rasa sakit ini akan hilang?

I swallow two, three pills without water..

A dirty morning, a severe cold..

Why am I coughing again?

Dengan gerakan tergesa, ia mengambil tasnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil berisi pil-pil berwarna merah. Ia menelan beberapa pil itu tanpa bantuan air dan itu membuatnya tersedak.  Ia terbatuk beberapa kali..

Though I’m sick to death, I only think of you..

I guess you really are my medicine..

I guess the story is already over..

I am.. I am Crying..

Tenggorokannya terasa seperti tercekik.. namun itu tidak sebanding dengan hatinya yang terasa kosong.

Ia berbaring sambil terisak. Ia sudah berusaha untuk menghentikan tangisan itu namun ia tidak bisa. Semakin keras usahanya untuk berhenti menangis maka semakin keras isakkannya.

I need a painkiller..

Help me take my pain away..

I always thought you were a harmful person to me..

My mistake..

I can’t live without you..

I can’t even take care of my body..

What do I do?

At this rate, this will kill me..

Ia tertidur setelah kelelahan karena terlalu lama menangis. Namun dalam tidurnya pun ia tak bisa merasa tenang. Mimpi buruk membuatnya terbangun di tengah malam. Nafasnya memburu, peluh membasahi wajah cantiknya. Dengan cepat ia meraih handphone-nya yang ia letakkan di atas meja kecil di samping tempat tidur. Jari-jari lentikknya mulai mengetikkan nomor yang sudah sangat ia hafal, mencoba menghubungi seseorang.

“The number you’re calling is not active.”

Sekali lagi, ia mencoba menghubungi nomor itu. Namun hanya suara mesin penjawab lah yang menyapa indera pendengarannya.

Though I’m sick to death, I only think of you..

I guess you really are my medicine..

I guess the story is already over..

I am.. I am Crying..

Air matanya kembali mengalir. Rasa sakit di hatinya terasa semakin membuatnya sesak. Ia membanting handphone putihnya ke atas kasur. Sambil mencengkeram kerah kemejanya, Ia berteriak histeris.

***

Ia menyiapkan dua porsi roti isi dan dua porsi salad, meletakkannya di atas meja makan dengan rapi. Lalu ia duduk di salah satu kursi, seperti tengah menunggu seseorang ia sama sekali tidak menyentuh makanan yang ia siapkan.

Ia menopang dagunya dengan tangan kirinya. Tersenyum, ia berharap orang yang ia tunggu akan benar-benar datang. Di lubuk hatinya yang paling dalam ia masih berharap… Berharap sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terjadi.

Cukup lama ia menunggu, dan orang itu tak jua kunjung datang.

I want to hang onto the leaving footsteps..

And beg but..

I’m so sick that I don’t even have that kind of courage..

Ia terbatuk beberapa kali hingga membuat tubuhnya terjatuh dari kursi. Tak seperti sebelumnya, batuknya kali ini mengeluarkan cairan amis berwarna merah. Ekspresi ngeri menghiasi wajah cantiknya ketika ia melihat cairan amis itu membasahi telapak tangannya.

Ia bangkit, lalu mengambil piring berisi roti isi dan membantingnya ke lantai. Tak berselang lama, ia juga menghancurkan semua makanan yang telah ia siapkan sendiri. Ia menggila…

This headache won’t get better, this severe cold won’t get better..

She won’t pick up my phone calls, love isn’t finding me again..

This headache won’t get better, this severe cold won’t get better..

Ia mengambil botol kecil yang berisi pil-pil merah itu lagi. Kali ini ia tidak membukanya, ia hanya menggenggamnya dengan keras. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju cermin besar yang berada di sudut ruangan. Ia memandangi pantulan dirinya, benarkah itu dirinya? Benarkah gadis berantakan itu adalah dirinya? Bernarkah gadis menyedihkan itu adalah dirinya?

Pranggg..

Setelah melemparkan botol kecil ditangannya pada cermin di depannya, ia terjatuh. Kakinya terasa begitu lemah, seakan tak sanggup lagi menopang berat badannya sendiri.

Ia tertawa… Menertawai dirinya sendiri.

Lalu ia menangis… Menangisi dirinya sendiri.

Ia tertawa, lalu menangis, tertawa dan menangis lagi.

Ia benci orang itu.. Orang yang telah membuatnya menjadi seperti ini.. Meninggalkannya begitu saja.. Meninggalkan dirinya di dunia yang dingin ini sendirian..

Ia merindukannya… Merindukannya hingga rasanya begitu sakit.. Sakit hingga rasanya ingin mati saja… Mati… Dan dengan begitu ia bisa menyusul orang itu.. Menyusul seseorang yang telah membawa pergi separuh jiwanya..

…………………. Amber…………………..…..

………

……..

…….

……

…..

….

..

.

THE END

Kkkk… Sowriiiii… I’m back with sad story….. again

Nggak.. gue nggak galau… Cuma sedikit inget mantan aja sih, inget gimana dulu gue sekacau apa pas putus sama dia.. persis kayak Jiyeon yang di MV lagu ini, Cuma gue gak sampe minum painkiller ato nyoba bunuh diri sih..Tapi yang namanya putus cinta itu emang sakit banget, broh… dulu gue butuh waktu sebulan buat balik jadi diri gue yang ceria lagi.. dalam sebulan itu gue gloomy banget, sampe sahabat-sahabat gue gak ada yang berani gangguin gue… gue nangis, abis itu ketawa, nangis trus ketawa lagi.. ampe dikira orang gila gue… XD  #malahcurhat#

Udeh ah, ntar malah jadi panjang nih curhatan gue.. XD

Oh iya… tadinya gue mau post GBF, tapi….. Tapi kapan-kapan aja yak… XD

Oke.. see you next time~

-llamaunyu-

I Love You, Stupid!

Ada yang suka YulSic? Nih gue kasih oneshoot,, hihihihihi

.

.

.

Title : I Love You, Stupid!

Author : llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo

.

.

.

Jessica Jung, seorang gadis cantik yang kaya raya, arogan, angkuh dan memiliki harga diri yang tinggi. Selama 25 tahun hidupnya ia tak pernah mau memohon ataupun meminta tolong kepada orang lain karena ia akan selalu mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa harus memintanya. Dia merupakan gadis yang egois dan tidak memperdulikan orang lain kecuali keluarganya. Dia sama sekali tidak pernah mengejar cinta orang lain karena orang lainlah yang akan mengejarnya.

Tapi… kali ini ia mendapati (meskipun ia belum bisa mengakui dan terus menyangkal) dirinya tengah mengejar cinta seseorang. Hell… She’s even throwing herself at this person. Dia mengejar seseorang yang benar-benar tak pernah ia bayangkan akan ia sukai.  Orang itu benar-benar berbanding terbalik dengannya. Orang itu selalu baik dan ramah kepada semua orang, ia adalah tipe manusia yang rela mengorbankan dirinya sendiri untuk orang lain. Dia adalah orang yang mudah bergaul dan memaafkan orang lain dalam hitungan detik. Kwon Yuri, karyawan baru di perusahaan Jessica. Karyawan rendahan yang gajinya selama setahun tidak akan sanggup membeli Tas Chanel Diamond Forever miliknya.

Pada intinya.. Jessica benar-benar tak bisa mengerti mengapa ia begitu tertarik pada orang itu.

Tentu saja, Kwon Yuri adalah seorang wanita yang berpenampilan menarik. Ia bahkan sangat tampan untuk ukuran seorang wanita, ia memiliki perut yang berotot, tak lupa otot bisepnya yang membuatnya terlihat semakin seksi. Cengiran bodohnya begitu membuat Jessica kecanduan melihatnya. Kata-katanya selalu membuat pipi Jessica bersemu merah. Sungguh, hingga kini Jessica masih bertanya-tanya, apa yang membuat bawahannya tersebut begitu menarik perhatiannya?

Jessica tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, meskipun daftar mantan kekasihnya begitu banyak hingga ia tak pernah bisa mengingat nama-nama mereka.  Jessica hanya mencintai uang dan keluarganya. Yeah… SHE DIDN’T FALL IN LOVE BEFORE.

Itu semua adalah salah seorang Kwon Yuri. She just had to be all charming and perfect. Kwon Yuri dan Kulit kecoklatannya yang seksi.

Jessica sudah lama menyangkal perasaan itu,  namun sekarang ia tidak sanggup menyangkalnya lagi. Perasaan baru dan aneh menurutnya, namun ia tak bisa menyangkal lagi jika ia menyukai perasaan hangat yang menyelimuti hatinya saat ia berada di dekat Kwon Yuri. Jatuh cinta tidak se-menjijikan  dan se-memuakkan seperti yang dulu ia fikirkan. Jessica masih seorang gadis yang menyebalkan, ia masih bersikap angkuh dan menindas semua orang yang mencoba menghalangi jalannya, terutama orang miskin. Ia begitu membenci orang miskin, menurutnya semua orang miskin itu adalah penjilat. Tapi, ia mengecualikan seseorang, seseorang yang juga miskin, ia mengecualikan seorang Kwon Yuri.

Namun itu bukan berarti ia harus mengejar dan memenangkan hati Kwon Yuri. No… She was too prideful for that. Dia selalu lebih memilih untuk dikejar. Ya.. Ia memang seorang wanita yang egois.

Ia sudah mencoba untuk tersenyum, sedikit lebih manis dari biasanya. Ia sudah berusaha lebih lembut dan bahkan membelikan Kwon Yuri makan siang gratis.

Namun, semua yang telah ia lakukan tidak ada yang membuahkan hasil. Kwon Yuri, si makhluk hitam dan bodoh itu bahkan tidak menyadari isyarat-isyarat yang ia berikan. Ketika Jessica membelikannya makan siang gratis, makhluk hitam itu malah mengatakan “Mencoba membuka lembaran baru, Miss Jung? ini benar-benar membuatku terkejut.” Dan setelah mengatakan itu ia tertawa, membuat Jessica membanting gelas kopinya dengan keras lalu pergi meninggalkannya. Dan dalam hati ia mengumpat “Stupid.

Setelah kejadian itu, Jessica memutuskan untuk membuang harga dirinya. Untuk makhluk sebodoh Kwon Yuri, ia tidak bisa memberikan ‘kode-kode’ lagi. Kwon Yuri terlalu bodoh untuk menerima ‘kode’ darinya.

Ia memutuskan untuk menggodanya dengan lebih terang-terangan. Setiap hari sabtu pagi Ia bahkan menemani KwonYuri berolahraga. Ia rela untuk bangun pagi di hari libur. Ia rela mengorbankan waktu tidurnya yang berharga untuk menemani makhluk hitam bodoh itu. Saat di kantor, ia selalu mengunjungi kubikal Kwon Yuri hampir setiap satu jam sekali. Ia bahkan menyuapi gadis hitam itu saat makan siang (dan itu membuat seluruh karyawan di sana menatapnya dengan aneh) mereka terlihat seperti sepasang pengantin baru. Sebelumnya, ia akan lebih memilih mati daripada melakukan hal-hal di atas. Hell… Dia adalah seorang Jessica Jung. Pewaris Perusahaan Tekstil Terbesar di Korea Selatan. Tapi itu semua menunjukkan betapa putus asa-nya dia untuk mendapatkan Kwon Yuri.

Sejujurnya, selain menyampaikan langsung perasaannya, ia telah mencoba semua hal untuk menunjukkan ketertarikannya pada Kwon Yuri. Untuk kesekian kalinya ia berpikir, Mengapa ia harus jatuh cinta pada makhluk hitam dan bodoh itu?!

Jadi, malam ini ia memutuskan untuk mengatakannya saja. Ia akan datang ke apartemen kecil milik Kwon Yuri lalu mengungkapkan perasaannya dan mendapatkan sebuah kecupan. Menunggu Kwon Yuri untuk mengerti isyarat-isyarat yang ia berikan telah membuat kesabarannya habis. Hal itu membuatnya begitu frustasi. Malam ini ia akan mengatakan perasaanya dan ia tidak peduli dengan reaksi si hitam bodoh itu. Ia sudah melakukan segala hal untuk menarik perhatian Kwon Yuri, setidaknya ia pantas menerima sebuah kecupan manis. Kecupan manis yang dilanjut dengan lumatan-lumatan penuh gairah.

Ia berdiri di depan pintu Apartemen Kwon Yuri, dengan ragu-ragu ia menekan bel. Setelah beberapa saat menunggu, alisnya mengkerut karena Kwon Yuri belum juga membukakan pintu untuknya.

“Kemana makhluk hitam itu?”

Ia menekan bel sekali lagi, ia bersumpah akan mendobrak pintu itu atau bahkan menghancurkan seluruh gedung apartemen itu jika sekali lagi ia menekan bel dan tidak juga dibukakan pintu.

Sesaat sebelum ia menekan bel untuk ketiga kalinya, Kwon Yuri datang dari arah tangga. Ia mengenakan pakaian olahraganya, sepertinya ia baru saja melakukan Jogging, terlihat dari peluh yang membasahi tubuhnya.  Biasanya, Jessica membenci orang yang berkeringat, menurutnya itu menjijikan. Namun kali ini ia harus mengakui bahwa ia belum pernah melihat seseorang yang sangat seksi selama hidupnya sebelumnya. Ia mengalihkan pandanganya sebelum bawahannya tersebut menangkap basah dirinya yang tengah menatap tubuhnya dengan intens.

“Oh, Miss Jung? Aku terkejut melihatmu datang ke apartemen kecilku ini. Bukankah kau bilang bahwa kau benci tempat kecil dan murahan seperti ini?” ucap Yuri sambil diiringi dengan seringai nakal.

Jessica menahan dirinya untuk tidak melompat ke pelukan gadis hitam di depannya itu.

“Kukira tidak ada salahnya datang ke rumah pegawai perusahaanku, kunjungan amal.” Balas Jessica sambil memberikan senyum manis yang terlalu dilebih-lebihkan.

Yuri menaikkan sebelah alisnya. “Kau atasan yang begitu rendah hati, Miss.

Ia mengeluarkan kunci apartemennya. Dan setelah bunyi klik terdengar, Yuri mempersilahkan Jessica untuk masuk.

“Anggap saja rumah sendiri.”

Jessica membersihkan sofa dengan sapu tangannya. Lalu mencoba untuk duduk senyaman mungkin di sana.

“Aku tidak berkeinginan memiliki apartemen kecil seperti ini, kamar mandiku bahkan lebih besar dari tempat ini.”

Yuri hanya tersenyum mendengar ucapan gadis itu.

“Jika kau tidak keberatan aku akan meninggalkanmu sebentar untuk mandi.” Ucap Yuri sambil berjalan meninggalkan Jessica.

“Tidak boleh.” Ucap Jessica tegas.

Ini adalah kesempatannya untuk mengungkapkan perasaannya.

Mendengar itu, Yuri berhenti dan menatap Jessica penuh tanya. “Tidak boleh?” ia mengulangi ucapan Jessica sambil mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak boleh.” Jessica menegaskan. Ia bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Yuri.

“Oh”. Yuri terlihat bingung. “Kenapa tidak boleh?”

Jessica tidak menjawabnya, ia terus berjalan hingga jarak wajah mereka hanya tinggal sejengkal lagi. Jessica dapat melihat bahwa Yuri tengah berpikir keras. Ia merasa puas karena gadis hitam di depannya tidak mencoba untuk menjauh darinya. Ia tersenyum menggoda sambil melingkarkan tangannya di leher Yuri. Tak berhenti di situ saja, ia terus memperpendek jarak wajah mereka sampai hidung mereka bersentuhan.

“Karena kau harus menciumku terlebih dahulu.” Ucap Jessica dengan nada menggoda, ia menunggu reaksi apa yang akan Yuri perlihatkan setelah mendengar itu. senyumnya semakin lebar karena ia bisa melihat hasrat yang menggebu-gebu di dalam mata Yuri.

Tanpa perlu pikir panjang lagi, dengan cepat Yuri menutup jarak diantara mereka. Jessica menutup matanya setelah merasakan sepasang bibir lembut menyentuh bibir miliknya.

Finally…” batin Jessica bahagia.

Jessica sudah sering berciuman, mengingat begitu banyak mantan kekasihnya. Namun Jessica tidak pernah merasakan ciuman yang begitu memabukkan seperti yang diberikan Yuri.

“Jadi, apa maksud dari semua ini, Miss?” ucap Yuri setelah menarik dirinya. Tangannya masih memeluk pinggang ramping Jessica.

Jantung Jessica berdetak tak karuan, ia merasa seperti seorang gadis SMA yang baru saja jatuh cinta. Ia benci tapi juga begitu menyukai perasaan yang ia rasakan itu di saat bersamaan.

This mean.. I love you, stupid!” Jessica menghela nafas karena kebodohan makhluk hitam itu.

Pipinya bersemu merah ketika melihat Yuri memberikannya cengiran bodoh yang biasa ia lihat.

Stupid….

Good… Karena aku juga begitu menyukaimu, Miss Jung.” ucap Yuri sambil tersenyum.

Just call me Jessica, stupidhead. Akan terdengar aneh jika kau memanggilku seperti itu saat kita berkencan.”

Senyum Yuri semakin lebar mendengar itu. “Oh, baiklah.. Maafkan aku, Sica. Bolehkah aku memanggilmu Sica?”

Jessica mengangguk malu.

“Kau tau? Kau sangat imut saat bersikap malu-malu seperti ini. pipimu terlihat sangat merah.”

Jessica menggeram, ia berjalan menjauh dari Yuri. “Kau membuatku merasa jengkel, Kwon. Apa kau mau dipecat?”

“Aku tidak keberatan, selama seseorang mau memenuhi semua kebutuhan hidupku.” Yuri mengerling nakal sambil mengambil handuknya lalu mencium singkat bibir tipis Jessica. “Aku harus mandi sekarang.”

Setelah mengatakan itu, Yuri menghilang dibalik pintu kamar mandinya, meninggalkan Jessica sendiri yang kini pipinya masih bersemu merah.

Stupid….”

.

.

.

.

There… another YulSic Oneshoot…. How do you think???

Gue tuh suka deh bikin ff YulSic dimana Yuri-nya itu gue aniaya… entah sakit.. miskin… atau ngatain dia dengan “makhluk hitam.” hahahahahah… Lucu aja kalo Yuri-nya jadi yang tersakiti gitu…  Don’t get me wrong, guys!  gue ini Yurisis koq….. ya tapi gue suka aja nge-bully dia XD

Btw, next project gue itu bikin ff dengan genre yang beda dari ff2 gue sebelumnya. Gue buat itu crossover dr salah satu Anime favorit gue. Eh tapi gak sekarang2 ini juga yak. Gue mau nyelesein salah satu ff KryBer dulu~~~

See you next time~~~

-llamaunyu-

Foxlichika

Secret Love (Chapter 5)

-PREVIOUSLY ON SECRET LOVE-

Amber ditarik paksa oleh Suzy untuk menemaninya ke Lotte World, Krystal yang mendapatkan pesan misterius pun pergi ke Lotte World. Berbagai adegan yang tak bisa Krystal bayangkan menjadi kenyataan.

Nafasnya tercekat. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia merasakan dadanya terasa begitu sesak. Matanya terasa panas, kedua sudut matanya mulai mengeluarkan bulir-bulir cairan bening.

Waktu terasa terhenti saat Krystal menyaksikan adegan menyakitkan itu. hatinya hancur…

Krystal membalikkan badannya, siap berlari dari sana. Ia mencengkeram kerah seragamnya, mencoba menghiraukan sesak di dadanya. Ia berlari tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Brukkk…

Karena tidak memperhatikan jalannya, Krystal menabrak seseorang.

“Apa yang kau lakukan disini, Soojung-ah?”

*

*

*

Title : Secret Love

Author : llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo

Genre : Shojou Ai (Girl x Girl)

Rated : T ( belum kuat buat yang M ^_^)

Cast  :  Amber J. Liu, Krystal Jung, Bae Suzy, Choi Sulli

Hope you like it and…

Happy reading.. ^,^

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY

Don’t Like Don’t Read

Typo dan EYD bertebaran

CHAPTER 5

“Apa yang kau lakukan?” ucap Amber setengah berteriak.

“Mencium calon tunanganku?” Suzy menyeringai.

“Sudah cukup! Kesabaranku sudah habis, nona Bae Suzy!!!” Amber hendak meninggalkan Suzy namun dengan cepat Suzy menarik pergelangan tangan Amber.

“Mengapa kau begitu marah?”

“Karena kau begitu menyebalkan!”

Amber menghempaskan tangan Suzy lalu berjalan meninggalkannya.

“Amber-ah… Tunggu!!!”

Amber menghela nafas dalam, lalu berhenti sejenak.

“Dengar! Aku sudah muak dengan semua tingkah lakumu ini. Aku tak pernah menyukaimu dan itu tidak akan pernah berubah. Aku sudah mencintai orang lain. Jadi bisakah kau berhenti menggangguku?”

Amber berjalan meninggalkan Suzy. Tak sekalipun ia berniat untuk berbalik dan melihatnya. Ia benar-benar sudah geram dengan tingkah gadis itu.

***

“Apa yang kau lakukan di sini, Soojung-ah?”

Krystal mengenal suara ini. namun ia memutuskan untuk tetap diam. Tanpa sadar ia malah memeluk gadis di depannya. Ia menumpahkan air matanya di pelukan gadis itu.

“Hey… A-apa yang terjadi?” gadis itu membalas pelukan Krystal. Ia mengelus punggung Krystal. Mencoba menenangkannya.

“Mengapa terasa begitu sakit, JinRi-ah!” Krystal semakin mengeratkan pelukannya.

“Apa maksudmu? Apa kau sakit? Eh, Kau ke sini sendirian?”

Sulli melepaskan pelukan mereka. Perlahan Ia menuntun Krystal menuju mobilnya.

Kini Krystal sudah duduk di kursi penumpang. Ia memeluk lututnya, mencoba menangis sepelan mungkin. Ia tidak ingin orang lain menganggapnya sebagai sosok gadis cengeng. Bagaimanapun juga Ia terkenal sebagai Ice Princess di sekolahnya.

“Hey, bisakah kau berhenti menangis? Aku tidak bisa melihat gadis cantik menangis!”

“Bisakah kau antarkan aku pulang? Kumohon….” Lirih Krystal.

Sulli terlihat kebingungan. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Ia menghela nafas, namun dalam diam ia mulai menghidupkan mesin mobilnya.

“Setidaknya kau harus mengenakan sabuk pengaman ini.” Sulli memakaikan sabuk pengaman pada  Krystal.

Keheningan menyelimuti Mobil Ferrari merah yang tengah membelah jalanan kota Seoul dengan kecepatan yang sedang itu. Tidak terlalu cepat, namun tidak terlalu lambat.

Sesekali Sulli melirik gadis di sampingnya, gadis itu sudah berhenti menitikan air matanya. Namun kini Krystal hanya menatap kosong ke arah jendela mobil yang terbuka setengah.

“Aku benci melihatmu seperti ini, Soojung-ah.” batin Sulli. ia mengeratkan pegangannya pada stir mobil. “Mianhae..”

***

Amber berjalan memasuki rumahnya. Wajahnya terlihat begitu kesal.

“Meninggalkan tunanganmu sendirian di Taman Bermain? Apa yang sebenarnya kau fikirkan?” sebuah suara yang begitu Amber kenali.

Amber menoleh ke arah sumber suara. Pria paruh baya itu mengenakan setelan berwarna hitam yang terlihat sangat mewah. ia berdiri di anak tangga pertama. Menatap Amber dengan tatapan yang dapat dipastikan sebagai sebuah tatapan kemarahan.

“Aku tak pernah menganggapnya sebagai tunanganku, dad.” Amber membalas tatapan ayahnya dengan tatapan menantang.

“Tapi aku sudah memutuskan hal itu! kau tidak bisa menentangku. Apa yang bisa kau lakukan tanpa semua fasilitas mewah dariku?” Pria paruh baya itu menyeringai.

“Uang bukanlah segalanya, daddy. Kau tidak akan bisa membeli cinta dengan uang.” Amber mengepalkan tangannya. Ia benar-benar sudah muak dengan semua hal tentang pertunangan ini.

“Tapi kau tidak akan bisa hidup hanya dengan bermodalkan ‘cinta’. Kau membutuhkan uang, Amber. don’t be silly!”

Amber semakin mengepalkan tangannya. Mencoba menahan kemarahannya.

“Sekarang aku mengerti mengapa mommy meninggalkan kita.” Amber tersenyum getir. “Kau tidak pernah mencintai kami, kau hanya mencintai uang, dad!”

“Amber Josephine Liu!”

Plaaakkk…

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Amber. tamparan itu terasa panas, namun tidak setara dengan rasa sakit di hati Amber.

Lagi, Amber hanya bisa tersenyum getir.Ia berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Ayahnya yang kini jatuh berlutut. Pria paruh baya itu memandangi tangannya, menyesal telah menapar anaknya. Meskipun ia adalah seorang ayah yang tegas, namun selama ini ia tidak pernah melakukan kekerasan fisik terhadap anaknya.

***

Amber menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia menenggelamkan wajahnya pada bantal. Mencoba menahan sesak di dalam dadanya. Ia tidak bermaksud berkata sekasar itu pada Ayahnya, ia tahu bahwa membawa nama Ibunya hanya akan memperburuk keadaan. Ia benci ayahnya namun ia juga tak bisa memungkiri jika ia menyayangi Ayahnya.

“Ghhhh..”

Namun kali ini Ayahnya sudah melewati batas. Ia tak pernah menginginkan pertunangan ini, ia tahu bahwa pertunangan ini hanyalah sebuah kesepakatan antara kedua perusahaan. Apakah ayahnya tak pernah sekalipun memikirkan perasaannya?

Ia membuka tasnya lalu mencari tabletnya yang sejak pulang sekolah tak tersentuh olehnya.

Ia mengernyit . “Aneh, mengapa Soojung tidak mengirim satu pesanpun? Sebaiknya aku menelponnya saja!”

Ia semakin mengernyit ketika panggilannya yang ke 10 tak kunjung diangkat.

“Tidak biasanya ia seperti ini. Apa yang terjadi padanya?”

Ia menghela nafas dalam lalu menghempaskan lagi tubuhnya ke tempat tidur.

Soojung-ah..

***

Setelah kembali dari Lotte World Krystal hanya terdiam dan mengunci dirinya di kamar.

Ia duduk bersandar di samping tempat tidur sambil memeluk lututnya.

Tabletnya beberapa kali bergetar, namun ia menghiraukannya setelah melihat ID yang tertera.

CkMy Llama, huh?

Apa semua yang selama ini kau katakan itu hanyalah bualan belaka? Apa kau benar-benar mencintaiku? Jika iya, lalu mengapa kau pergi berdua dengan gadis itu? bahkan kalian berciuman. Huh… apa aku begitu bodoh?

***

She’s not here yet.”

Amber tengah bersandar pada pagar yang berada di atap sekolahnya. Ia mengambil tablet dari tasnya.

To : My Princess

Hey, Aku menunggumu di atap.

Setelah mengirimkan pesan itu, Ia memasukkan kembali tabletnya ke dalam tas.

“haaahhh.. Apa yang sebenarnya terjadi?”

***

Good Morning, Princess~~”

Sulli menyapa Kystal yang terus menghiraukannya sepanjang koridor menuju kelas mereka.

“Hey, Kau tidak boleh menghiraukanku. Apa kau lupa siapa yang mengantarmu kemarin?”

“Oh, jadi kau mengharapkan pamrih? Berapa yang harus kubayar?” ucap Krystal sambil terus berjalan.

“ey, bukan itu maksudku.”

“Aku hanya bercanda, nona Choi.” Krystal berhenti sejenak lalu berbalik menghadap Sulli. “Good Morning.” Lanjut Krystal sambil tersenyum.

Did she just smile at me?”.

***

And….. She’s not coming..” Amber menghela nafas panjang.

Bel masuk sebentar lagi akan terdengar dan orang yang ia tunggu tak kunjung datang. Dengan berat hati Ia memutuskan untuk kembali ke kelasnya.

Setelah menuruni tangga. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kelasnya, dari kejauhan ia melihat sosok yang ia tunggu tengah berjalan dari arah yang berlawanan dengannya.

Ia melihat gadisnya itu berhenti sejenak setelah melihatnya. Ia tersenyum sejenak sebelum akhirnya ia mengernyit. Bukannya membalas senyumnya, Krystal malah berbalik. Ia bersumpah jika pandangan mereka sempat bertemu sebelum akhirnya Krystal berbalik.

Amber semakin mengernyit ketika melihat seseorang yang sejak tadi berada di belakang Krystal kini memeluknya. Amber mengepalkan kedua tangannya. Ia berjalan mendekat ke arah Krystal yang masih dipeluk oleh seseorang yang cukup ia kenal itu.

“Soojung-ah…”

Krystal menoleh ke arah sumber suara yang tak lain dan tak bukan adalah Amber.

“Amber-ssi?” Krystal mendorong pelan Sulli agar melepaskan pelukan itu.

“Amber-ssi katanya?” Amber merasa hatinya seperti tertusuk ratusan jarum mendengar panggilan dan nada bicara Krystal. Mereka terbiasa dengan panggilan itu jika sedang tidak berdua, namun ia merasa kali ini panggilan itu terdengar begitu sumbang di telinganya.

Amber menarik nafas dalam. “Bisakah kita bicara sebentar, nona Jung?”

Nona Jung….

Krystal terdiam, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu.

Sebelum Krystal sempat menjawab, bel masuk terdengar begitu memekakan telinga.

“Sepertinya kalian harus menunda pembicaraan kalian itu.” Sulli menarik pelan tangan Krystal, mereka melewati Amber yang kini tengah menundukkan kepalanya.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

***

Amber merasa begitu heran dengan kelakuan Krystal kali ini. ia bersumpah jika dulu gadis itu merasa sangat risih dengan gadis jangkung yang kini justru duduk di sampingnya. Sejak pelajaran hari ini dimulai, Krystal dan Sulli terlihat begitu dekat. dan itu membuat Amber merasa resah. Cemburu? Jelas saja ia merasa cemburu. Krystal adalah gadisnya. Meskipun tidak ada yang mengetahui hubungan mereka.

Amber ingin sekali menarik Krystal keluar lalu memeluknya di depan orang banyak agar semua orang tau bahwa Krystal adalah gadisnya. Tapi, itu sama saja seperti gerakan bunuh diri.

Amber mengacak rambutnya dengan kasar. “Arrggghhh…”

“Ada apa, Nona Liu?”

Crap…” gumam Amber.

“Jika kau tidak menyukai pelajaranku, kau bisa berdiri diluar!” ucap Han Songsaengnim dengan tegas.

***

Saat jam istirahat, Krystal terus mengindari Amber. Kini ia tengah berada di kantin sekolah bersama Sulli.

“Aku tak menyangka jika Ms. Perfect Liu itu akan terkena hukuman. Kau lihat bagaimana wajahnya tadi? Priceless…”

“……” Krystal menghiraukan perkataan Sulii. Ia terus mengaduk jus mangganya.

“Mengapa kau diam saja?”

“Aku hanya sedang merasa kurang enak badan.”

Sulli meletakkan punggung tangannya di kening Krystal.

“Dahimu tidak terasa panas, Soojung. Ada apa? Apa kau merasa pusing? Mau kuantar ke ruang kesehatan?” ucap Sulli khawatir.

Geez.. Why you sound like my mother now? Stop it.. I’m okay… Aku hanya merasa pusing sedikit saja.”

“Mau kuambilkan obat?”

“Tidak perlu, nanti juga hilang. Aku ingin ke toilet sebentar.” Krystal bangkit dari kursinya dan hendak berjalan keluar kantin, namun tangannya ditahan oleh Sulli.

“Mau kuantar?”

“Aku hanya ke toilet sebentar, nona Choi. Mengapa sekarang kau terdengar seperti Bodyguard-ku?” Krystal melepaskan tangan Sulli.

“Aku akan menjadi apapun yang kau butuhkan, Soojung-ah. Aku benar-benar mencintaimu.” Sulli menatap Krystal penuh harap.

“Maafkan aku…” Krystal menghindari tatapan Sulli dan berjalan begitu saja, meninggalkan Sulli yang kini tengah menundukkan kepalanya.

***

Krystal berdiri memandangi pantulan dirinya di kaca. Wajahnya terlihat pucat. Ia menyalakan keran air di wastafel lalu membasuh wajahnya.

“Apa yang harus kulakukan?” batinnya.

Cklek..

Pintu toilet itu terbuka, menampilkan sosok yang sejak pagi berusaha ia hindari.

Baby…” lirih Amber.

“…….”

“Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kau terus menghindariku?”

“…….” Krystal masih diam.

“Bisakah kita bicara sebentar, ayo ke atap!” Amber memegang tangan Krystal, namun Krystal dengan cepat melepaskannya. Hati Amber terasa begitu sakit, mengetahui Krystal tengah menolak genggaman tangannya.

“Aku masih bisa berjalan sendiri. Jadi kau tidak perlu menuntunku.” Ucap Krystal sambil berjalan mendahului Amber.

***

“Rencana kita berjalan dengan lancar, JinRi-ah. aku melihat gadis itu terus mengindari Amber-ku. Kurasa hanya menunggu waktu dan booom… Mereka akan berpisah.”  Suzy menyeringai licik.

“Tapi hatiku terasa begitu sakit saat melihatnya menangis. Aku merasa bersalah pada Soojung… Tidak… Aku merasa bersalah pada mereka berdua..” Ujar Sulli dengan kepala tertunduk.

Suzy meletakkan tangannya di pundak Sulli. “Bukankah kau menginginkan gadis itu? Aku menginginkan Amber. Kita pisahkan mereka berdua dan kita akan mendapatkan cinta kita. Cukup adil bukan?”

“Tak bisakah kita mendapatkan mereka dengan cara yang lebih baik? Ini cara kotor, Suzy-ah.”

“Kau sudah menyetujui ide ini sejak awal, JinRi-ah. kau bahkan sudah menjalankan peranmu dengan baik. Apa yang membuatmu berubah fikiran?”

“Aku memang menyukai Soojung, tapi aku tidak mau menjadi pelampiasannya saja. Aku mau dirinya yang hanya memikirkanku saja. Dia memang bersamaku tapi hati dan fikirannya tidak.” Ucap Sulli penuh emosi.

“Tenanglah, JinRi-ah. ini hanya masalah waktu.”

***

“Mengapa kau menghindariku terus, Soojung-ah?”

Krystal masih membelakanginya. Sejak mereka sampai di atap, tak sekalipun Krystal mau membalas tatapan Amber.

“Apa kau mencintaiku, Amb?” nada bicara Krystal terdengar begitu dingin.

“Pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas aku mencintaimu, baby.” Ucap Amber sambil berjalan mendekati Krystal.

“Lalu, bagaimana dengan gadis itu?”

Amber mengerutkan dahinya.

“Gadis itu? siapa?”

Krystal membalikkan badannya. ia menatap Amber dengan tatapan marah dan kecewa.

“Kemarin… Kemana kau pergi kemarin?”

“Aku…” Amber terdiam sejenak.

“Apa yang harus kukatakan?” batin Amber.

“Aku… Aku pergi bersama Yul noona ke toko olahraga.”

“Kau berbohong, Amb.” Batin Krystal. Matanya terasa panas. Sebentar lagi mungkin air matanya akan memaksa keluar.

Amber kini telah berdiri tepat di depannya. Perlahan tangan Amber menyentuh pipinya.

“Ada apa, baby?”

Plak… Krystal menampar pipi Amber cukup keras.

“Kemarin Aku melihatmu di Lotte World! Aku melihatmu pergi bersama gadis itu! Aku melihatmu berciuman dengan gadis itu! Aku melihat semuanya, Amber Josephine Liu!. Aku melihatnya!!!” ucap Krystal penuh emosi. Bulir-bulir air matanya mulai keluar.

Amber sangat terkejut mendengar perkataan Krystal tersebut. Dengan cepat ia memeluk Krystal. Ia menghiraukan rasa nyeri di pipinya.

Dengan sekuat tenaga Krystal berusaha melepaskan pelukan itu, namun tenaga Amber terlalu kuat, membuatnya menyerah. Ia hanya bisa memukul-mukul punggung Amber, berharap Amber akan segera melepaskan pelukan itu.

Bukannya melepaskan, Amber malah semakin mengeratkan pelukan itu.“Maafkan aku, baby. Maafkan aku. Aku bisa menjelaskan semuanya!”

“Lepaskan aku!” teriak Krystal sambil terus memukul-mukul punggung Amber.

“Dengarkan aku, Soojung-ah!!!” ucap Amber setengah membentak.

Hal itu sukses membuat Krystal terdiam.

“Kau bahkan membentakku, Amb?”

“Maafkan aku, baby. Tapi jika tidak begitu kau tidak akan mendengarkanku!” Amber mencium puncak kepala Krystal. “Jadi kumohon dengarkan aku!”

“Harusnya sejak awal kukatakan saja semuanya. Agar kau tidak salah paham seperti ini.” Lirih Amber.

“Kau ingat beberapa hari yang lalu saat kita makan bersama Yul dan Sica noona?”

Krystal mengangguk pelan. Kini ia sudah berhenti meronta dan menyandarkan kepalanya di pundak Amber. Ia tidak bisa menyangkal bahwa pelukan Amber terasa begitu hangat dan nyaman untuknya.

Daddy menyuruhku datang ke hotel Z, Aku begitu terkejut saat melihat gadis itu ada di sana. dan sepertinya daddy begitu menyukai gadis itu. Sejak tiba di hotel itu perasaanku memang sudah tidak enak dan ternyata benar saja, daddy menyuruhku datang karena beliau menginginkanku bertunangan dengan gadis itu. dengan cepat aku menolak, namun daddy terus memaksaku.”

“Aku memang pergi ke Lotte World kemarin. Tapi itu bukanlah keinginanku, Soojung-ah. Gadis itu menarik paksa diriku. Ia mengancam akan mengadu pada daddy. Dan tentang ciuman itu, dia yang menciumku. Sungguh, itu tidak berarti apa-apa untukku. Kumohon percayalah padaku.”

“…..” Krystal masih terdiam, lebih tepatnya tengah mencerna pernyataan dari Amber.

“Yang kucintai hanyalah Jung Soojung. Bukan orang lain.”

“Benarkah itu?” Krystal mendorong pelan Amber. Menatap dalam manik hitamnya, ia mencari kebenaran dari sorot mata kekasihnya itu. Dan memang kebenaranlah yang ia dapat dari sorot mata Amber.

“Apa aku terlihat seperti tengah berbohong?” ucap Amber dengan nada lembut membuat hati Krystal kembali luluh.

Krystal meletakkan telapak tangannya di pipi Amber lalu mengelusnya, tepat di tempat ia menamparnya tadi.

“Maafkan aku karena tidak mempercayaimu, Amb.”

Krystal menarik tengkuk Amber lalu menutup jarak diantara mereka.

“Dengan ini, aku sudah mengambil kembali bibirmu.” ucapnya setelah melepaskan ciuman singkat itu.

***

Brakkkkk

Suzy yang baru saja datang tiba-tiba menggebrak meja kantin, membuat semua orang melihatnya dengan tatapan penuh tanya.

“Hey, tenanglah, kau bisa menghancurkan meja kantin jika kau menggebraknya sekali lagi.” ujar Min, salah satu teman sekelas Suzy.

“Rencanaku gagal.”  Ia mengacak rambutnya dengan kasar.

“Kau begitu menginginkan Miss Perfect Liu itu? kau terobsesi padanya, Suz. Berhentilah mengejarnya.”

“Diamlah. Aku tak meminta pendapatmu, Min.” ucap Suzy setengah berteriak.

“ow… ow.. Okay.. Sorry.”

Lihat saja… Aku pasti bisa mendapatkanmu, Amber Josephine Liu.” Batin Suzy.

“Jika rencana A tidak berhasil, maka aku akan menjalankan rencana B.” ujar Suzy diiringin dengan senyuman licik.

.

.

.

.

.

.

.

.

T B C

Hai Hai~~~

Ada yang nungguin ff ini??? Ini dia Secret Love Chapter 5 nyaaa… Gue bikin lebih panjang dari biasanya lohh.. abis dari kemaren gue apdet dibilangnya kependekan mulu… tau aja kalo author-nya pendek.. *eh hahahah…

Sebelumnya gue mo minta maaf sama neng Suzy, sebenernya gak tega juga jadiin doi yang unyu2 jadi tokoh antagonis nyebelin gini. Ya walaupun mukanya doi emangnya muka2 antagonis sih… hahahaah

Gimana nih menurut kalian chapter ini, my beloved readers? Jangan lupa komen yak!

See you next time~~~

 

-llamaunyu-