THE FADING MEMORIES

Ini spesial buat yang kangen KryBer… :3

.

.

.

.

.

Apa yang paling penting bagi manusia di dunia ini?

Nafas?

Cinta?

Makanan?

Apa kau tahu apa yang membuatmu tetap hidup tanpa Makanan, Cinta bahkan walaupun kau tak lagi memiliki Nafas adalah…

Kenangan…

Tanpa kenangan, kau sama saja tak pernah hidup..

*

*

*

Amber duduk di pojok kelas sambil mendengarkan musik dari headset berwarna biru kesukaannya. Kelas itu memang sudah kosong, hanya ada dirinya sendiri di sana. Ia memandang langit melalui jendela di sampingnya.

“Sepertinya langit masih ingin menangis lebih lama.” Ia bangkit dari kursinya lalu berjalan meninggalkan ruangan kosong itu.

Kebetulan saja hari ini ia membawa sebuah payung. Payung yang berwarna senada dengan rambutnya yang merah. Apartemennya tak terlalu jauh dari sekolahnya. Ia hanya perlu berjalan kaki selama 15 menit untuk sampai ke sana.

Ia mengeratkan syal birunya lalu membuka payungnya dan mulai berjalan di tengah guyuran hujan yang masih turun dengan derasnya. Setelah melalui belokan pertama dari sekolahnya, ia melihat seseorang tengah berdiri tanpa sebuah payung yang membuatnya basah kuyup. Perlahan Amber berjalan mendekat ke arah sosok itu berdiri.

Tingginya tak terlalu jauh dengan Amber. Gadis itu setinggi telinganya. Rambut pirangnya tergerai dan sekarang sudah basah karena air hujan. Kulit putihnya terlihat begitu pucat. Bibirnya terlihat membiru. Sudah berapa lama gadis ini berdiri di sini? Satu hal yang menyita perhatian Amber adalah seragam yang ia kenakan. Seragam gadis berambut pirang itu sama persis sepertinya. Apa mereka pernah saling mengenal sebelumnya? Amber merasa begitu familiar dengan gadis ini, namun ia tak mengingat siapa gadis ini. Jantungnya berdetak tak karuan.

“Hei…” Amber masih mengamati gadis itu dengan seksama. “Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak merasa kedinginan? Kau sudah basah kuyup.”

Tak ada jawaban. Gadis itu bahkan tak menatap Amber. Ia hanya sibuk memeluk tubuhnya sendiri.

Amber mengernyit, ia hendak beranjak dari tempat itu dan meninggalkan gadis misterius itu. Namun ia berhenti lalu berbalik ke arah gadis itu.

“Ini… Kurasa kau lebih membutuhkannya!” Amber memberikan payung merahnya sambil sedikit berteriak saat mengatakan kalimat itu, guyuran hujan membuatnya harus mengeraskan suaranya.

Gadis berambut pirang itu awalnya merasa ragu-ragu, namun dengan cepat Amber memindahtangankan payungnya lalu ia berlari di tengah guyuran hujan. Meninggalkan gadis itu dengan tatapan penuh tanya.

“Terima kasih, Amber.” dengan suara yang serak, gadis berambut pirang itu berteriak.

Apa mereka pernah saling mengenal?

Mendengar teriakan gadis itu, ia memutuskan untuk berhenti sejenak lalu membalikkan badannya. “Apa kau mengenalku…?”

“…”

Tak ada jawaban.

Gadis itu sudah tidak ada di tempatnya semula.

***

Pagi ini Amber terlihat begitu menyedihkan. Rambut pendeknya yang berwarna merah terlihat begitu berantakan. Sesekali ia akan bersin dan sedikit terbatuk di sela-sela kelas yang tengah berlangsung. Kemarin ia menerobos hujan dan inilah hasilnya.

“Hey, Amb.. Apa kau baik-baik saja?” bisik gadis berambut hitam panjang di sampingnya.

Amber mengangguk lirih.

“Kau terlihat tidak dalam keadaan baik-baik saja. Mau kuantar ke ruang kesehatan?”

Kali ini Amber menggeleng lemah.

***

Setelah jam pelajaran berakhir, Amber memutuskan untuk mencari sedikit udara segar. Ia berjalan menuju taman belakang sekolah. Taman itu merupakan tempat yang tepat untuk mengirup udara segar.

“Apa ia tengah tertidur?”

Dari kejauhan ia melihat sesosok gadis yang tengah berbaring di bawah pohon oak.

“Ia benar-benar tertidur.”

Amber berlutut di depan gadis itu. Memandangi wajah tidurnya yang terlihat begitu damai.

“Hei…” ucap Amber pelan sambil menyentuh pundak gadis itu.

Tidak ada respon.

Tangan Amber beralih kepada rambut pirang gadis itu. mengelus pelan puncak kepalanya.

“Geez… Apa yang aku lakukan?” Amber menarik tangannya. “Mengapa aku bersikap seperti seorang ‘stalker’?

Matanya sekali lagi tertuju pada wajah gadis berambut pirang itu. Sebulir kristal mengalir dari sudut kelopak matanya yang masih tertutup.

Amber terdiam. Apa yang sebenarnya gadis itu lakukan di sini? Ia tertidur lalu menangis dalam tidurnya? Amber menghapus air mata gadis di depannya.

Kali ini kelopak mata itu terbuka, bibir itu mengeluarkan suara tertahan lagi terkejut. Amber juga terhenyak sejenak mendapati gadis itu kini sudah membuka matanya. Ia tertangkap basah saat menghapus air mata gadis itu.

“Apa yang kau lakukan?” ia menyingkirkan tangan Amber dari wajahnya. Sementara Amber hanya bisa menghela nafas panjang.

“Tidak baik tidur di bawah pohon.”

“A-apa urusanmu?”

“Kurasa kau juga sedang sakit. Tubuhmu dingin sekali.”

“Kubilang, apa urusanmu?”

“Kuantar ke ruang kesehatan yah?” Amber menautkan jari-jarinya dengan jari-jari gadis pirang itu.

Amber merasakan sebuah penolakan. Gadis pirang itu menahan tangannya.

“Aku baik-baik saja.”

Amber menghiraukan perkataan gadis pirang itu dan menariknya dengan sedikit paksaan.

***

Amber menghela nafas panjang. Gadis pirang itu benar-benar keras kepala. Setelah sekian lama berdebat, akhirnya gadis pirang itu bersedia untuk ikut ke ruang kesehatan. Itupun setelah beberapa kali ia mencoba untuk melarikan diri.

“Sudah kubilang, biarkan saja aku—“

“Diamlah, kau butuh istirahat!”

Gadis pirang itu terdiam, merasa tidak akan menang dalam perdebatan tersebut, ia memutuskan untuk berbaring di tempat tidur.

“Payung itu… Terima kasih.” Setelah terdiam beberapa saat, gadis pirang itu memecahkan keheningan yang sempat tercipta di sana. “Dan sekarang aku sudah merepotkanmu lagi…”

“Siapa suruh kau berdiri di tengah guyuran hujan seperti itu?”Amber berpangku tangan sambil bersandar di kursi yang ia duduki.

“I-itu…”

“Um.. Sebelumnya kau meneriaki namaku. Apa kita saling mengenal?” Amber menyela ucapan gadis pirang itu.

Gadis berambut pirang itu terlihat begitu terkejut.

“Siapa namamu?”

Tak ada jawaban.

“Baiklah, jika kau tidak—“

“Krystal…”

***

Detik demi detik berlalu begitu cepat. Amber masih menemani Krystal di ruang kesehatan. Ia melewatkan pelajaran keduanya hari itu demi gadis yang baru saja ia kenal. Ia sempat berfikir, mengapa ia tidak pernah melihat gadis itu sebelumnya? Mungkin karena sebelumnya ia tidak begitu memperhatikan sekitarnya. Sejak kejadian 6 bulan yang lalu Ia lebih suka menyendiri daripada berkumpul bersama orang-orang yang memanggil dirinya teman namun ia sama sekali tidak mengenal mereka semua.

Kini Ia tengah duduk di sofa yang terletak di sudut ruangan. Matanya terus mengamati gadis berambut pirang itu. gadis pirang itu terlihat begitu terlelap dalam tidurnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi dengan gadis ini?” batin Amber.

Amber berdiri lalu menuju jendela. Ia memandangi awan kelabu yang kini menyelimuti langit yang terlihat sebentar lagi akan menangis.

“Aku tidak membawa payung. Lalu bagaimana aku akan pulang? Menerobos seperti kemarin?” gumam gadis boyish itu.

Ia menghela nafas dalam.

“Sepertinya akan turun hujan lagi.” Amber membalikkan badannya dan mendapati Krystal yang kini sudah duduk di pinggir ranjang.

“Kau sudah bangun?”

Amber berjalan mendekati Krystal.

“Apa kau bolos?”

“Yeah…”

“Mengapa kau begitu baik padaku?”

Amber terdiam. Iapun tak begitu yakin apa alasannya bersikap baik pada gadis ini.

“Entahlah…”

“Apa kau merindukan seseorang, Amb?” ucap Krystal sambil menatap manik hitam Amber.

“A-apa maksudmu?”

“Aku bisa melihatnya,”

Dalam tetesan hujan, Amber merindukan seseorang. Rasa rindunya tidak pernah berbentuk. Ia memang tengah merindukan seseorang, namun ia tak pernah tahu siapa yang ia rindukan. Hatinya terasa kosong, seakan sebagian dirinya hilang.

“Apa kau sudah mengingatku?.”

Amber mengerutkan dahinya.

“Apa kita saling mengenal…..?”

Krystal memalingkan wajahnya. Tangannya terkepal, pundaknya bergetar.

Melihat Krystal yang bersikap aneh, Amber berjalan mendekati Krystal. Ia berhenti tepat di depan gadis bersurai pirang itu lalu memeluknya.

Krystal mendorong pelan tubuh Amber, manik hitamnya menatap Amber dengan ekspresi yang sulit untuk diartikan.

Lagi…

Keheningan tercipta di ruangan itu..

Perlahan, Amber menempatkan telapak tangannya di pipi Krystal. Lembut… pipinya begitu lembut. Namun, terasa begitu dingin.

Dingin?

Tubuhnya terasa begitu dingin, namun gadis itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia merasa kedinginan.

***

Sudah beberapa hari setelah insiden di ruang kesehatan, dan sejak keesokan harinya Amber tidak pernah melihat gadis berambut pirang itu lagi. Amber baru saja mengenal gadis itu, untuk apa ia begitu mengkhawatirkannya? Amber ingin sekali bersikap acuh dan tidak peduli. Namun ia tidak bisa, sejak hari itu gadis pirang itu mulai mengisi otak Amber. Entah sihir apa yang gadis pirang itu berikan padanya.

Ia merasa resah, namun ia tidak begitu yakin dengan apa yang membuatnya merasa resah. Ia bimbang, namun ia tidak mengerti apa yang membuatnya merasa bimbang. Yang ia yakini hanyalah satu hal. Semua perasaan aneh ini berasal dari gadis yang baru beberapa hari lalu ia temui. Krystal… Sebuah nama yang indah. Sebuah nama yang akhir-akhir ini memenuhi kepalanya.

Sudah cukup. Ia mulai merasa lelah dengan semua perasaan aneh yang ia rasakan. Ia memutuskan untuk mencari tahu perasaan apakah itu. kini ia berdiri di depan ruang guru, melangkah dengan ragu.

“Ah, Amber? Ada perlu apa? Tidak biasanya melihatmu ke sini.” ucap Seorang wanita paruh baya yang mengenakan kemeja putih yang dibalut blazer biru muda dan rok yang senada.

“Yoon Songsaengnim.. Bisakah aku melihat data siswi bernama Krystal?”

Wanita yang ia panggil Yoon Songsaengnim itu mengerutkan dahinya sejenak.

“Kau tahu kan jika data siswi di sini tidak bisa diperlihatkan ke sembarang orang, Amb.”

Amber terdiam..

“Bolehkah aku tahu alamatnya saja?”

***

Amber terkejut, gadis itu ternyata tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya. Mereka hanya berbeda lantai.

“Mengapa aku tidak pernah melihatnya di sini?”

Perlahan ia berjalan mendekati pintu apartemen gadis misterius itu. Dengan ragu, ia menekan bel.

Tak ada balasan dari dalam.

Ia menekan bel sekali lagi.

Dan masih tak ada tanda-tanda seseorang akan membukakan pintu apartemen itu.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

Amber menoleh ke arah sumber suara dan mendapati seorang wanita paruh baya yang tengah membawa tas belanjanya.

“Aku…”

“Apartemen ini sudah kosong semenjak 6 bulan yang lalu.”

Apa?

“Tapi beberapa hari yang lalu aku baru saja bertemu dengannya.”

Wanita paruh baya itu mengerutkan dahinya.

“Gadis yang sebelumnya tinggal di apartemen ini mengalami kecelakaan 6 bulan yang lalu. Dan ku dengar ia masih berada di rumah sakit.”

Tapi beberapa hari yang lalu aku baru saja bertemu dengannya.

“Ummm… Bibi, apa kau tahu dimana gadis itu dirawat?”

Wanita itu terdiam sejenak, terlihat tengah berfikir dan berusaha mengingat sesuatu .“Seoul International Hospital.”

“uh… Khamsahamnida.” Amber membungkukkan badannya kemudian bergegas pergi.

***

Amber menghentak-hentakkan kakinya tak sabar. Ia duduk di salah satu kursi di dekat meja resepsionis, Ia sudah menunggu selama 15 menit namun perawat yang ia mintai informasi belum juga datang.

Hilir mudik para pasien dan beberapa lelaki berpakaian serba putih membuat Amber merasa pusing. Ia memang benci rumah sakit.

Ia melirik jam tangannya lalu berdecak.

Seorang perawat ber-name tag Lee Soonkyu berjalan ke arah dimana Amber berada. “Maaf telah membuatmu menunggu lama.”

Amber memberikan senyuman yang dipaksakan. “Oh.. Tak masalah. Aku mengerti jika kau sibuk. Maaf.” Amber berdiri membuat perawat itu terlihat sangat pendek.

“Butuh waktu yang cukup lama untuk menemukan nama pasien yang kau tanyakan. Awalnya aku tak menemukan nama Jung Krystal namun setelah aku cari lebih detail ternyata pasien ini memiliki “dua” nama. Jung Soojung atau Jung Krystal. Dan kulihat ia memang berasal dari sekolahmu. Oh… dan ia berada di lantai 9 lebih tepatnya di kamar nomor 124.”

Entah mengapa jantung Amber berdetak tak karuan. Ia merasa begitu gelisah.

“um… Terima kasih. Dan maaf sudah merepotkanmu, Soonkyu noona.”

***

Amber menyandarkan tubuhnya pada dinding elevator yang ia naiki. Mencoba mengatur nafasnya, dadanya terasa sesak. Kepalanya terasa begitu berat.

“Aku mencintaimu, Amb.”

Kini ia mendengar sebuah suara dari kepalanya. Sepertinya ia mengenal suara itu.

“Aku mencintaimu, Amb.”

Suara itu terdengar semakin keras. Ia mencengkeram kepalanya, mencoba meredakan sakit kepala yang kian terasa.

TING!

Pintu elevator yang ia naiki terbuka, dengan langkah terhuyung Amber berusaha keluar dari dalam lift. Kepalanya masih terasa sakit, membuatnya sesekali terjatuh. Beberapa perawat yang lewat menghampirinya.

“Apa kau baik-baik saja?” Seorang perawat ber-name tag Victoria membantu Amber berdiri.

Amber tersenyum kecil. Lalu berjalan meninggalkan perawat itu tanpa sempat mengucapkan terima kasih.

Ia berhenti tepat di depan pintu bernomor 124.

Sakit kepalanya tiba-tiba saja menghilang. Nafasnya pun kini sudah kembali seperti semula.

Dengan ragu, ia membuka pintu kamar 124 itu. Jantungnya berdetak kencang.

Seorang gadis bersurai pirang terbaring lemah di dalam kamar itu. Terlihat banyak sekali alat-alat kedokteran yang Amber tak begitu tahu sebutannya tertempel pada tubuh gadis itu.

“Tidak mungkin….”

Ia mulai kehilangan keseimbangannya lagi, membuat dirinya jatuh berlutut.

Jika gadis ini adalah Jung Krystal yang sebenarnya, lalu siapa gadis yang ia temui beberapa hari yang lalu?

.

.

.

.

.

.

.

.

Bingung?

Sama….. Gue juga bingung bikin apaan ini… hahahaha….

Sebenernya draft ini udah lama banget ada di netbook.. sejak jaman Red Light… Gue suka banget rambut merahnya Amber…❤

Trus.. Buat FF Blood and Love chapter 1 sebenernya udah ada,,, Cuma nanti aja ya postnya kalo banyak yang kepo… hihihi… :3

BTW… Happy Birthday Princess Soojung~~~

-llamaunyu-

24 thoughts on “THE FADING MEMORIES

  1. Embhhhh.. ketika Krys ngacuhin Amb di insiden payung, gue udah tahu kalau itu bukan ‘manusia’ trs aja kek gtu, gue tahu Amb kehilangan ingatan dia, trs gue ngira Krys udah mati.. dan well dia cuma koma

  2. dari pas insiden payung gue udah nebak kalo krystal bukan orang(?) eh ternyata bener kan hoho…
    jadi kemungkinan krystal kecelakaan bareng amber.beda’a cuma kalo amber efek’a hilang ingatan nah kalo krystal koma.tapi ending’a kaya jemuran thor…ngegantung hehe ._.v

  3. OMG jdi sbner’y krystal koma..?? Waah ini hrus d pnjangin lgi kyak’y thor.hehehe.
    Gumawo sudah post,rsa kangen k kryber sdikit trobati.
    Semangat terus thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s