Mask of Smile

Sorry… Belum bisa post GBF… hihihi…

And I’m back with another sad story (AGAIN)…. Hahahah…

Nikmati aja dulu yang galau2 ini…

.

.

.

Author : Llamaunyu1809  a.k.a  Lee Eun Soo

Title     : Mask of Smile

Genre  : Angst

Cast    : Choi Sulli, Krystal Jung, Amber J. Liu, Bae Suzy

.

.

.

Kau begitu dekat namun begitu sulit kugapai..

Pelukanmu terasa hangat namun juga terasa menyakitkan di waktu yang bersamaan..

Kau… Yang begitu kucintai…

Kau… Yang tak akan pernah bisa kumiliki…

.

.

.

“Jinri-ah!”

Aku mendengar suara indahnya memanggilku dari kejauhan. Perlahan ia menghampiriku, memelukku dengan cukup erat. Namun sebelum aku sempat membalas pelukan hangat darinya, ia melepaskanku.

Aku merasa kecewa, namun aku tetap memperlihatkan senyumku untuknya.

“Sepulang sekolah nanti, apa kau mau menemaniku makan parfait?” aku masih bisa merasakan kehangatan dari tangannya yang masih menggenggam tanganku. Terasa begitu hangat…

“Kufikir kau akan pergi bersama Amber hyung.”

“Si bodoh itu.. Ia mendapatkan nilai jelek dalam beberapa mata kuliah di Ujian Akhir Semester kemarin. Dia harus melakukan ujian ulang dan mengikuti pelajaran tambahan.” Bibirnya mengerucut, membuatku ingin mengecupnya. Andai saja aku bisa…

Aku… Aku hanya pengganti dirinya. Saat orang itu tak bisa bersamanya. Karena aku hanya seorang sahabat, sahabat yang harus selalu ada disaat ia membutuhkanku.

Itulah alasanku untuk mengubur perasaan ini. Aku tak akan pernah bisa menjadi lebih dari sekedar sahabatnya. Dan aku yakin jika ia mengetahui persaanku ini, maka aku takkan bisa lagi menjadi sahabatnya.

***

Seperti hari-hari sebelumnya, aku menemaninya membaca buku-buku Manajemen yang begitu tebal di perpustakaan kampus. Aku hanya bisa memandangi wajah cantiknya dari samping, mengapa ia terasa begitu jauh untuk kugapai meski kini ia berada di sampingku?

Ia masih sibuk membaca buku, dan seperti biasa ia tidak akan menyadariku yang masih memandanginya. Aku lebih memilih memandangi wajahnya seharian daripada harus membaca buku tebal itu. Ia lebih menarik perhatianku, bagaimana raut wajahnya berganti di setiap paragraf yang ia baca. Ketika materi yang ia baca tidak terlalu jelas dan membuatnya bingung, ia akan mengerutkan dahinya lalu bibirnya akan mengerucut. Ia sangat lucu.

“Soojung-ahhh…” kulihat seorang gadis tampan datang dan langsung menghambur memeluknya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Soojung dengan begitu posesif.

“Aku lelah, Soojung-ah! Pelajaran tambahan itu benar-benar membuatku gila!” gadis tampan itu begitu manja padanya dan Soojung dengan senang hati memanjakannya.

Taukah mereka jika kemesraan mereka perlahan membunuhku? Aku ingin menangis namun wajahku hanya bisa tersenyum.

“Itu karena kau bodoh! Hingga kau harus mendapatkan pelajaran tambahan!” Soojung memukul pelan puncak kepalanya sambil terkikik. Mereka memang terlihat begitu serasi. “Ayo pulang dan aku akan mengajarimu.”

Gadis tampan itu melingkarkan tangannya di pundak Soojung, dan mereka berjalan begitu saja tanpa menghiraukanku. Mereka terlalu sibuk dengan dunia mereka. Soojung bahkan melupakan janjinya padaku untuk makan parfait bersama.

“Hei, Choi JinRi ayo pulang bersama!” entah datang darimana, tiba-tiba saja Suzy menarik tanganku dan kami berjalan mendahului mereka.

***

Hening… Sepanjang perjalanan di koridor kampus Suzy terus saja terdiam.

Aku memutuskan untuk menghilangkan keheningan ini. “Hey, ada apa? Tidak biasanya kau mengajakku pulang bersama.”

Suzy adalah teman masa kecilku, kami sudah saling mengenal sejak umur kami 4 tahun, dulu kami berada di Taman kanak-kanak yang sama dan kini kami bertemu kembali di kampus yang sama. Kami jarang pulang bersama karena memang arah rumah kami berbeda.

Aku memandangi Suzy yang masih berjalan membelakangiku, ada apa dengannya? Bukankah dia sendiri yang mengajakku pulang bersama? Tapi mengapa kini ia diam saja dan terus berjalan mendahuluiku.

“Hey… Apa kau menikmati semua ini?” ia berhenti tiba-tiba, membuatku menabraknya tanpa sengaja. “Akhir-akhir ini tingkahmu semakin aneh!”

“Aneh? Aneh bagaimana? Apa-”

“Jangan bertanya seperti kau tidak mengetahuinya! Dengan bodohnya kau tertawa dan tersenyum seperti itu. Seakan-akan kau memakai topeng. Keceriaanmu itu benar-benar palsu!” ia memotong ucapanku lalu membalikkan badannya.

“Apa kau ini bodoh? Terlihat seperti akan menangis tapi kau terus menahannya!”

Ia menatapku dengan tatapan yang sulit untuk kuartikan.

“Jika terasa sakit, katakan saja sakit! Jika ingin menangis, menangislah! Berhentilah berpura-pura. Dan menangislah!” kini ia memukul pelan pundakku. “Dasar Bodoh!!!” ia terus memukul pundakku.

Kuakui pukulannya memang sama sekali tidak terasa sakit. Tapi aku tahu apa maksudnya berkata seperti ini. Namun aku memutuskan untuk diam.

“Bodoh! Sampai kapan kau akan berpura-pura di depannya?!”

Aku menangkap tangan kanannya yang sepertinya masih akan terus memukuliku jika aku tidak menghentikannya.

“Kau… Begitu baik.. Kau bahkan begitu menghawatirkanku sampai seperti ini.” Aku memeluknya.

“Hey, jangan tiba-tiba memelukku seperti ini!” ia berusaha melepaskan pelukanku, namun aku semakin memeluknya dengan erat.

“Seperti yang kau bilang….” Aku melepaskannya dan mundur selangkah darinya. “Aku ingin menangis, karena ini memang terasa begitu sakit. Tapi… Apa yang bisa kulakukan? Karena aku begitu mencintainya. Aku mencintai Soojung.”

Aku berusaha untuk tersenyum di depannya. Dia memang benar, aku memang seorang gadis dengan topeng. Aku terluka tapi aku hanya bisa menyimpan luka itu sendiri. Menyembunyikan luka dengan sebuah senyuman.

“Jinri-ah….”

Jangan… Jangan buat nada bicara seperti itu! Itu hanya akan membuatku terlihat semakin menyedihkan.

***

“Apa yang kau lakukan di sini sendirian?”

Aku melihat Soojung yang tengah duduk sendirian di bawah sebuah pohon di taman kampus, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dan aku memutuskan untuk menghampirinya.

“Jinri-ah…” Ia terlihat sedikit terkejut saat melihatku.

“Hmm?” aku tersenyum kecil. “Kau terlihat sedang melamun saat aku memutuskan untuk menghampirimu ke sini. Apa ada yang mengganggu fikiranmu?”

“Jinri-ah.. Aku…”

“Ya?”

Ia terlihat kesulitan mengatakan apa yang ada di dalam fikirannya. Ia bahkan memejamkan matanya sambil mengerutkan alisnya.

Dan secara tiba-tiba ia berdiri. Aku hanya menatapnya penuh tanya.

Mianhae….” Ia membungkukkan badannya di hadapanku. Semakin membuatku bingung.

“Soojung-ah? Ada apa? Cepat angkat kepalamu dan berhentilah membungkuk!”

Ia berhenti membungkuk namun ia belum bisa menatap ke arahku.

“Aku… Aku mendengarnya.. Aku mendengar apa yang kau katakan pada Suzy kemarin.”

Apa??? Dia mendengarnya? Tidak… Ia tidak seharusnya mengetahui hal ini…

Ia menundukkan kepala, membuat poninya menutupi mata indahnya. “Aku memang bodoh.. Kau sudah begitu menderita namun aku sama sekali tidak menyadarinya. Aku benar-benar sudah gagal sebagai sahabatmu. Mianhae.. Jeongmal Mianhae!”

Apa yang harus kukatakan? Ia sudah mengetahui perasaanku padanya.

“Ahahahaha…” aku memaksakan diriku untuk tertawa. “Sepertinya aku sudah ketahuan yah. Hahahaha…”

Kulirik wajahnya yang terlihat penuh dengan rasa bersalah… Aku benci melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu.  Aku terus diam karena aku tidak ingin melihat ekspresi wajahnya yang seperti itu. Raut wajah yang penuh dengan perasaan bersalah. Karena aku tahu ini akan membuatnya merasa khawatir.

Aku tidak ingin mengambil resiko dan kehilangan dirinya. Sahabat terbaikku. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku. Dan itulah mengapa aku terus menyimpan rapat perasaan ini.

Tapi…

Aku merasakan bulir-bulir hangat mengalir begitu saja dari sudut mataku.

Apa yang kulakukan?  Aku tidak boleh menangis di depannya!

“Oh.. Ini aneh.. Sepertinya ada debu yang masuk ke dalam mataku.”

Dengan cepat aku menghapus air mataku.

“Aku tidak menangis. Sungguh…”

Tanpa kuduga, aku merasakan sepasang tangan hangat melingkar pada leherku. Ia memelukku. Kami terbiasa berpelukan, namun pelukan kali ini terasa begitu berbeda.

“Soojung-ah… Apa yang-“

Mianhae…” lirihnya dengan suara pelan.

“Aku… Aku sangat mencintai Amber. Aku tak bisa menghianatinya. Aku minta maaf karena telah menyakitimu. Tapi… Tapi aku benar-benar tidak bisa membalas perasaanmu, Jinri-ah.” Kurasakan ia semakin mempererat pelukannya.

Seperti tertusuk ribuan jarum, hatiku yang memang sudah terluka kini terasa semakin sakit.

Please.. Lets stay as best friend.”

Best friend, huh?

Aku memaksakan sebuah senyuman, namun air mata ini tak juga berhenti mengalir.

Geez, you’re so silly. Of course I know that! Aku minta maaf karena telah membuatmu khawatir. Dan terima kasih. Kuharap kau dan Amber hyung akan selalu bahagia!”

Aku sadar jika suaraku bergetar saat mengucapkan itu semua.

“Ah.. Kelas yang selanjutnya akan segera dimulai. Sebaiknya  kau segera ke kelas.”

Aku mendorong pelan pundaknya, melepaskan kehangatan yang ia berikan.

“Bukankah kau juga ikut kelas Manajemen?”

“Ah.. Kau duluan saja. Aku masih ingin di sini.”

Aku berbalik. Aku tak sanggup menatap wajahnya lagi. Terasa begitu sakit.

Kudengar derap langkahnya yang semakin jauh.

“Ah… So it’s a no, huh? Suzy-ah… kau di sana bukan?”

Kulihat Suzy keluar dari balik pohon. Aku memang sudah menyadari keberadaannya sejak tadi.

“Dengar, aku di sana karena tadi aku tertidur di sana dan bukan untuk menguping pembicaraan kalian.” Ia berbicara dengan sangat cepat.

You’re a terrible liar, Suzy-ah.

“Aku baru saja ditolak.”

“Aku tau..”

“Dia bilang bahwa dia sangat mencintai Amber hyung…”

“Aku dengar itu…”

Aku menengadahkan kepalaku. Menutup kedua mataku. Merasakan hembusan angin menerpa wajahku.

“Aku bilang aku akan menutup hatiku dan mengubur perasaan ini dalam-dalam. Aku tidak ingin membuat Soojung merasa khawatir. Aku terus meyakinkan diriku sendiri agar terus tersenyum…”

“Jinri-ah… Setidaknya dalam situasi seperti ini, kau harus mengeluarkan seluruh isi hatimu dan menangis. See? No body watching!

Suzy memutar badannya, lalu membelakangiku.

Dan seketika itu aku menangis, aku berteriak namun suaraku tertahan. Aku terisak, dadaku terasa begitu sakit.

Akhirnya, topeng yang selama ini kukenakan terbuka. Topeng itu pecah berkeping-keping. Pecah bersama aliran air mataku.

.

.

.

THE END

Please don’t kill me, guys!!! Hahahaha…

Kenapa gue dr kemaren bikin ff sad mulu? Ya karena gue lagi pengen aje.. dan karena kemaren gue abis baca Doujin yang berjudul sama dengan ff ini.. sumpah, gue nangis baca itu… hahahahah…

But, don’t worry… I’ll try to post GBF as soon as possible…😄

But not now…….. Or Tomorrow… Or The Day After Tomorrow… hahahah…

Btw, this fic was dedicated for all my readers who get friendzoned! Hahahaah…

16 thoughts on “Mask of Smile

  1. Friendzone…. Zona aman dimana kalau kita bertahan atau lepas sama aja tetep nyiksa batin-_- hahaha

    btw, thx yaaaa kaaa udah update nih ff heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s