7 Years of Love (Sequel part 2)

Title : 7 Years of Love (Sequel part 2)
Author : llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo
Genre : Yuri (Girl x Girl), drama
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im Yoona, Seo JooHyun

Hope you like it and…
Happy reading.. ^,^

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY
Don’t Like Don’t Read
Typo bertebaran

-I’M BACK-

Belum ada tanda-tanda bahwa Yuri akan segera siuman. Begitu banyak alat medis yang ditempelkan pada tubuh Yuri. Perban putih dengan noda merah di tengahnya melilit di kepalanya. Pipi kirinya terdapat memar dan beberapa goresan. Tangan kanannya dibalut gips. Yuri memang sudah dipindahkan dari emergency room ke ruang rawat biasa dan ini sudah hari ketiga ia berada di sana. Dokter mengatakan bahwa Yuri mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya dan juga tangan kanannya serta kehilangan banyak darah akibat kecelakaan itu. Belum bisa dipastikan kapan Yuri akan sadar.
Di depan kamar rawat Yuri, Jessica tertidur di bangku besi berwarna silver. Tiga hari sudah ia menunggu disana, meskipun ia tidak bisa menemani Yuri di sampingnya. Selama tiga hari itu pula Seohyun masih belum membiarkan Jessica masuk ke dalam kamar rawat Yuri. ia masih bersikeras bahwa ini semua adalah salah Jessica. Walaupun ia tahu menyalahkan Jessica bukanlah hal yang tepat. Ini semua memang sudah takdir. Tetapi Seohyun enggan menerima takdir ini sehingga mengkambing hitamkan seseorang atas kecelakaan yang menimpa Yuri.
Suasana rumah sakit hari itu tidak begitu ramai. Seorang gadis kurus berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil membawa 2 buah kotak makanan. Ia berhenti di depan kamar bernomor 125. Tatapannya tertuju pada seorang gadis yang kini tengah tertidur di bangku besi yang berada tepat di depan kamar rawat Yuri. Perlahan ia duduk di samping yeoja itu. Ia merapihkan anak-anak rambut gadis di sampingnya itu lalu merebahkan kepala gadis itu di pundaknya.
“Apa kau begitu mencintainya, eonni?” batin sang gadis kurus berwajah malaikat itu.
***
Seohyun duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Yuri. ia menggenggam tangan kiri gadis tanned yang sangat ia cintai itu. ia tahu bahwa ia telah bersikap egois dengan tidak membiarkan Jessica masuk karena sesungguhnya ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Jessica. Selama tiga hari ini juga Seohyun selalu memperhatikan Jessica. Memperhatikan Jessica yang tetap setia menunggu di luar.
Ia meletakkan telapak tangan Yuri yang masih ia genggam di pipinya. “Eonni… Eotthokae?” suaranya terdengar serak. Ia terlalu banyak menangis.
Tok tok tok…
Seohyun mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia melihat sesosok gadis kurus bermata rusa tengah berdiri di ambang pintu.
“Seo Joohyun-ssi.. Bisakah kita bicara sebentar?”
***
Jessica mengerjap-ngerjapkan matanya. Sebuah blazer putih menyelimuti tubuhnya. Ia mengenal aroma mint ini. aroma mint yang hampir sama dengan Yuri. aroma tubuh dari seseorang yang akhir-akhir ini selalu menemaninya. Gadis berwajah Barbie itu melihat dua buah kotak makanan di sampingnya.
“Yoong… Bisakah kau berhenti bersikap baik kepadaku?” lirih Jessica.
Ia meletakkan blazer putih yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya di bangku. Ia sama sekali tak berniat menyentuh kotak makanan itu.
Jessica bangkit dan menghampiri kamar 125. Ia hanya berdiri di depan pintu. Matanya menerawang dari kaca. Melihat sesosok gadis tanned yang kini masih terbaring lemah tak berdaya.
“Yuri-ah… Ireona…”
***
Yoona membawa dua gelas moccachino. Ia memberikan salah satunya kepada Seohyun yang sudah duduk di pojok kafeteria rumah sakit.
“Gomawo.” Seohyun menerimanya dan tersenyum tipis. Wajahnya masih terlihat sangat lelah. “Apa yang ingin kau bicarakan, Yoona-ssi?”
Yoona duduk di hadapan Seohyun. Menarik nafas sejenak sebelum memutuskan untuk berbicara.
“Bisakah kita akhiri saja semua ini?”
Seohyun mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu, Yoona-ssi?”
“Aku tahu kau adalah orang yang pandai, Joohyun-ssi. Aku yakin kau mengerti maksud perkataanku tadi.” Yoona menyesap moccachino-nya.
Seohyun bergeming. Ia memang sudah menebak ke arah mana percakapan ini berujung.
“Apa maksudmu dengan mengakhiri, Yoona-ssi?” Seohyun masih enggan untuk menunjukkan bahwa ia sudah mengerti akan maksud Yoona.
Yoona menghela nafas dalam. Ia meletakkan gelas moccachino-nya di meja. “Mereka itu saling mencintai, Joohyun-ssi. Kaupun tau itu. jadi, bisakah kita biarkan mereka untuk bersatu?”
Seohyun mengeratkan genggamannya pada gelas moccachino-nya lalu memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya.
“Mereka? Kurasa hanya Yuri eonni saja yang mencintai Sooyeon-ssi.” Ujar Seohyun dengan nada bicara menyindir.
“Tidak!!! Sica eonni sangat mencintai Yuri…..”
“Jika dia mencintai Yuri eonni lalu mengapa ia menikah denganmu, Yoona-ssi?”
“Dia… Sica eonni tak pernah menginginkan pernikahan ini.”
Seohyun terdiam. Ia menatap gadis di depannya yang tengah menundukkan kepalanya.
“Dia… Tidak pernah mencintaiku.” Yoona mengangkat kepalanya dan tersenyum miris.
Seohyun bisa melihat dari tatapan mata Yoona bahwa gadis kurus berwajah malaikat itu menyimpan luka. Luka yang sama sepertinya. Entah mengapa Seohyun merasa memiliki seorang teman sekarang. Ia dan Yoona… Memiliki nasib yang hampir sama.
“Kufikir setelah kami menikah, lambat laun ia akan mencintaiku. Tapi dugaanku salah. Kurasa sekeras apapun usahaku aku tak akan pernah bisa memenangkan hatinya.” Yoona menengadahkan kepalanya sedikit untuk mengantisipasi air mata yang hampir tak terbendung lagi.
Seohyun sadar. Terkadang dunia ini begitu tidak adil.
Saling mencintai tetapi tidak bisa bersatu atau cinta sepihak? Mana yang lebih menyakitkan?
“Joohyun-ssi…. Bisakah kita akhiri saja semua ini?” lirih Yoona.
***
Jessica duduk di samping ranjang Yuri. ia memutuskan untuk masuk karena ia merasa Seohyun sudah cukup lama meninggalkan Yuri. Ia khawatir jika akan terjadi sesuatu pada Yuri. oleh karena itu ia nekat masuk ke dalam. Ia tak peduli dengan apa yang akan terjadi jika Seohyun melihatnya berada di dalam. Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah Yuri.
“Kau sangat jelek saat menangis, Sooyeon-ah..”
Kalimat yang selalu keluar dari bibir gadis berkulit kecoklatan yang kini masih terbaring di dalam kamar itu terngiang di kepala Jessica. Ia mengingat jelas bagaimana Yuri memeluk erat dirinya saat ia sedang merasa sedih.
“Yuri-ah…. Ireona…..” Isak Jessica sambil meremas pelan telapak tangan kiri Yuri yang tengah ia genggam,
Belum ada respon dari gadis berkulit kecoklatan itu.
“Kau adalah malaikat hitamku, eoh? Apa kau pantas untuk tertidur disaat yeoja yang kau panggil princess tengah menangis?” Jessica tersenyum dalam tangisannya.
Jessica tersentak, kali ini ia merasakan gerakan lemah dari jari-jari tangan kiri Yuri yang tengah ia genggam.
“Yuri-ah…”
Jessica hendak bangkit untuk memanggil dokter namun gerakannya tertahan oleh genggaman lembut tangan Yuri.
***
“Dia… Yuri eonni adalah satu-satunya yang kumiliki sekarang. Aku tak akan sanggup jika dia meninggalkanku dan membiarkannya hidup bersama Sooyeon-ssi.”
Kini Yoona yang terdiam dan hanya bisa menatap Seohyun.
“Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku jika tanpanya. Jadi bisakah kau biarkan aku tetap bersamanya?”
“Jika begitu, kau benar-benar egois, Joohyun-ssi! Mereka tak akan pernah bahagia jika mereka terpisah seperti ini. Dan lagi kau hanya akan memperdalam luka di hatimu jika kau terus memaksanya bersamamu. ”
“Lalu, apakah hanya mereka yang boleh bahagia? Tak bisakah kita sedikit bersikap egois untuk kebahagiaan kita sendiri, Yoona-ssi?”
Yoona tidak menyangkal bahwa perkataan Seohyun membuat hatinya gentar. Bukankah setiap manusia berhak bahagia? Haruskah ia bersikap egois untuk mendapatkan kebahagiaan itu? tidak… keegoisan tidak akan pernah membawa kebahagiaan kepadamu. Begitulah prinsipnya.
***
Jessica kembali duduk di samping ranjang. Dengan berurai air mata, Jessica mencium punggung tangan Yuri.
“Yuri-ah…. Ireona~..”
Tidak ada gerakan tambahan dari Yuri. Matanya bahkan belum terbuka sama sekali. Satu-satunya yang bisa Yuri lakukan hanya menggenggam pelan tangan Jessica.
***
“Keegoisan tidak akan pernah membawamu kepada kebahagiaan, Joohyun-ssi.” Nada bicara Yoona terdengar agak kecewa dengan gadis di depannya itu.
“Aku tahu…” Seohyun menundukkan kepalanya. Ia terisak.
“Lalu, kau masih ingin melanjutkan keegoisanmu itu?”
“Tak bisakah?” ia semakin terisak. Pundaknya bergetar menahan isakannya.
Tanpa diduga Seohyun merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Aroma ini, aroma mint yang ia kenal. Ia sempat berfikir bahwa orang itu adalah orang yang selama ini ia cintai.
“Uljima…”
Seohyun tersadar. sosok yang tengah memeluknya kini bukanlah Yuri melainkan Yoona. Mereka memiliki aroma mint yang hampir sama. Ia ingin melepaskan pelukan itu, namun apa daya, kini tubuhnya berhianat. Tubuhnya bergeming. Entah mengapa Seohyun merasakan rasa nyaman dari pelukan itu.
Entah apa yang merasuki gadis bermata rusa itu hingga tanpa sadar ia memeluk Seohyun. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya.
“M-maafkan aku… Aku hanya tidak bisa melihat seorang yeoja menangis..” Yoona akhirnya melepaskan pelukannya pada Seohyun.
Seohyun terdiam. Bukannya ia merasa marah. Tetapi ia justru menginginkan pelukan hangat itu lagi. pelukan hangat dari orang asing yang baru saja ia kenal.
Kini suasana canggung tercipta diantara keduanya. Mereka terdiam dan larut dengan fikiran mereka masing-masing.
“Y-Yoona-ssi….” Dengan sedikit tergagap, akhirnya Seohyun memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Yoona menoleh ke arah Seohyun. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh Seohyun.
“Jika kita akhiri semua ini, lalu bagaimana denganku….. dan juga dirimu?”
Ponsel milik Seohyun berdering. Menginterupsi percakapan serius kedua gadis itu.
“Apakah ini nona Seo Joohyun? Bisakah anda ke ruang dokter sekarang?”
***
“Kemungkinan pasien akan mengalami koma. Dan kami belum bisa menyimpulkan berapa lama itu, melihat belum ada tanda-tanda pasien akan segera sadar. “ ucap dokter yang cukup berumur itu.
Seohyun terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi.
“Jika dalam waktu satu bulan pasien tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan dengan berat hati maka pihak kami akan mencabut alat-alat yang menempel pada tubuh pasien.” Suara dokter paruh baya itu terdengar lemah.
“A-apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuatnya sadar, dok?” ucap Seohyun bergetar. Ia menahan air matanya yang sudah menunggu untuk mengalir.
“Kita hanya bisa berdo’a agar Nona Kwon bisa segera melewati ini semua.”
Seohyun merasakan genggaman hangat di tangan kanannya. Ia menoleh ke samping dan mendapati senyuman hangat dari Yoona. “Semuanya akan baik-baik saja.” Kalimat yang seperti sebuah mantra penenang untuknya.
“Ah, Aku hampir saja lupa. Apa kalian mengenal seseorang bernama Sooyeon? Saat pertama kali Nona Kwon dibawa kemari ia terus menggumamkan nama itu. Mungkin saja dengan keberadaan orang itu di dekat nona Kwon akan mempercepat kesembuhannya.”
Yoona dan Seohyun bertukar pandang. Mereka kembali teringat dengan pembicaraan mereka sebelumnya.
***
Hening… Itulah yang terjadi ketika Seohyun yang diikuti Yoona kini telah sampai di kamar rawat Yuri. mereka berdiri mematung di dekat Sofa. Memandangi sesosok gadis berambut pirang tengah tertidur sambil menggenggam erat tangan Yuri.
Seohyun menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa kalah sekarang. Seberapa keraspun ia mencoba ia tak akan bisa menyentuh relung terdalam hati Yuri yang terkunci hanya untuk satu orang. Ia tersenyum pahit. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Yoona dengan ekspresi yang sulit ia mengerti. Tak ada lagi senyum hangat yang tadi sempat gadis kurus itu tampilkan. Dan Entah mengapa itu membuat Seohyun sedikit merasa kecewa.
“Yoona-ssi….” Yoona menoleh ke arah sumber suara. “Aku sudah memikirkan tawaranmu… Kurasa aku akan menerimanya.”
Perkataan Seohyun itu sedikit membuat ekspresi Yoona berubah. Membuat kedua sudut bibirnya tertarik ke arah yang berlawanan. Ia tersenyum… Yoona tersenyum karena ia akan membahagiakan orang yang ia cintai –Jessica- dan juga entah mengapa ia merasa bahagia karena Seohyun menerima tawarannya.
***
Hubungan Seohyun dan Jessica mulai membaik. Seohyun kini mulai menerima keberadaan Jessica. Kini di kamar rawat itu selalu ada Jessica, Seohyun dan Yoona. Ya, Yoona tetap berada di sana meskipun kini ia tidak memiliki hubungan yang terikat dengan Jessica. Ia sudah mengurus masalah perceraiannya dengan Jessica. Awalnya Jessica merasa sungkan karena Yoona terlalu baik kepadanya, bahkan suatu hari Jessica pernah meminta Yoona agar berhenti mengunjunginya di rumah sakit. Tetapi Jessica menyadari sesuatu ketika Jessica terbangun dari tidurnya dan Ia melihat Yoona dan Seohyun tidur berdampingan. Pemandangan itu cukup membuatnya terkejut namun tak dapat dipungkiri bahwa mereka terlihat sangat serasi. Jessica mulai menyadari bahwa ada sesuatu diantara mereka berdua.
Sudah seminggu sejak Yuri berada di kamar rawat itu. Perkembangan kesehatannya sangat lambat. Tidak ada kemajuan yang signifikan sejak hari dimana Jessica merasakan genggaman lembut dari Yuri.
Hari ini Jessica hanya sendiri menjaga Yuri. Ia mengelus pipi Yuri yang masih terdapat sedikit goresan dengan ibu jarinya.
“Cepatlah bangun!” Ia mengecup lembut kening Yuri, sebulir cairan bening meluncur mulus dari sudut mata indahnya.
Sepertinya Tuhan mendengar doa-doa Jessica. Jessica tertegun, Yuri telah membuka matanya.
“Yu-Yuri-ah….” Air mata Jessica semakin deras mengalir.
Namun ada yang aneh… Tatapan mata Yuri terlihat begitu kosong.
“Apa kau mengenaliku?”
“Soo……. Yeon…” suaranya begitu lemah.
“Tunggulah sebentar, aku akan memanggil dokter.” Dengan gerakan terburu-buru Jessica menekan tombol yang ada di samping ranjang Yuri.
Tak menunggu terlalu lama, seorang dokter dan dua orang perawat segera memasuki kamar rawat Yuri. Jessica mundur ke arah sofa, memberikan ruang agar dokter itu bisa memeriksa keadaan Yuri. sang dokter mengeluarkan stetoskop dari kantong jas sebelah kanannya. Ia memeriksa detak jantung Yuri, lalu memeriksa matanya dengan senter kecil.
“Apa kau bisa mendengarku, Nona Kwon? Jika bisa tolong anggukan kepalamu!” tak ada respon dari Yuri. tatapannya begitu kosong.
Dokter paruh baya terlihat menggelengkan kepalanya. Ia menghampiri Jessica. “Sepertinya nona Kwon belum sepenuhnya sadar.”
“Sebelumnya ia menjawabku, dok. Ia… ia mengenaliku.” Jessica mencuri pandang ke arah Yuri yang kini terlihat menutup matanya lagi.
“Dari hasil pemeriksaan saya, nona Kwon belum sepenuhnya sadar. Kemungkinan saat ia menjawab anda pun ia tidak secara sadar melakukan hal itu.”
***
Hari ini adalah hari kedua setelah Yuri membuka matanya. Semenjak itu ia sering membuka matanya akan tetapi tatapannya masih terlihat kosong. Ia tak pernah merespon jika dokter tengah memeriksanya.
“Kau harus istirahat, eonni.” Yoona mengelus lembut punggung Jessica yang tengah tidur dengan posisi duduk di samping ranjang Yuri.
Merasakan sentuhan lembut di punggungnya, Jessica membuka matanya. Ia mendapati Yoona tengah berdiri di sampingnya.
“Istirahatlah!!” ucap Yoona lembut.
“Aku baru saja istirahat, Yoong.”
“Istirahat di rumah maksudku, eonni.. Kau belum pulang ke rumah selama dua minggu ini.”
“Aku harus selalu ada di sisinya, Yoong. Lagipula kau selalu datang kesini dan membawakan baju ganti untukku.”
Yoona menghela nafas. “Hahh, kau tak pernah mendengarkanku.” Yoona sadar sekeras apapun ia membujuk Jessica ia tak akan mau mendengarkannya.
“Dimana Seohyun?” Jessica mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Hari ini ia ada jadwal pemotretan hingga malam. Kurasa ia tak bisa datang ke sini.” Ujar Yoona yang kini sudah mendaratkan tubuhnya di sofa empuk yang berada sudut kamar itu.
Ya, sejak hari keempat Yuri berada di kamar rawat itu Yoona menawarkan pekerjaan untuk Seohyun. ia menawarkan Seohyun untuk menjadi model produk yang akan segera diluncurkan oleh perusahaannya. Dan semenjak itu karir Seohyun sebagai seorang model mulai membaik dan terus bersinar.
***
“Sooyeon-ah?”
Pandangan Yuri masih terasa kabur karena matanya hanya terbuka setengah, ia merasa terkejut dan sedikit bingung mendapati Jessica tengah tertidur sambil menggenggam tangan kirinya. Yuri juga merasa heran karena mendapati dirinya bangun bukan di kamarnya melainkan di sebuah kamar rawat rumah sakit. Tetapi dari semua kebingungannya itu, keberadaan Jessica lah yang membuatnya semakin tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
Bukankah tidak masuk akal jika seseorang yang tidak peduli padamu datang dan bahkan menjagamu di rumah sakit?
“Yuri-ah….”
Jessica pun sebenarnya merasa sedikit takut dengan apa yang akan terjadi ketika Yuri sadar. Dia tidak akan sanggup mendapati Yuri melihatnya dengan tatapan yang sama saat dirinya mencium Yoona saat itu. tatapan penuh luka dan kekecewaan. Jessica tidak bisa menerima jika Yuri begitu membencinya.
Kini Yuri tengah duduk di ranjang rumah sakit itu setelah menghabiskan satu porsi besar makanan rumah sakit. Koma selama dua minggu lebih membuatnya merasa sangat lapar. Kini ia kembali memikirkan hal yang sejak ia tersadar dari koma-nya selalu menyita fikirkannya. Dia tidak mengerti mengapa Jessica berada di sana, saat pertama kali ia membuka matanya. Dan mungkin Jessica sudah berada di sana sebelum ia siuman.
Bukankah Jessica sendiri yang mengatakan kepadanya agar ia melupakan gadis berambut blonde itu? lalu mengapa Jessica ada di kamar rawatnya? Setelah semua yang telah terjadi dengan hubungan mereka. Bukankah keberadaan Jessica sekarang hanya membuat Yuri semakin merasa tersakiti?
Yuri memandang Jessica yang tengah duduk di sofa.
“Apa yang kau lakukan di sini?” suara Yuri terdengar dingin. Yuri berfikir bahwa Jessica hanya mempermainkannya sejak awal. Sejak awal Jessica tak pernah mencintainya.
Jessica terdiam. Sejak awal ia tahu, Yuri akan bersikap seperti ini ketika pertama kali melihatnya ada di sana. Ia adalah orang yang membuat Yuri seperti ini. Dengan sedikit keraguan dalam setiap langkahnya, ia berjalan mendekati ranjang Yuri.
Jessica menggenggam tangan Yuri. “Mianhae… Jeongmal mianhae..” Ia menundukkan kepalanya.
“Aku bertanya apa yang kau lakukan di sini. Aku tak pernah menyuruhmu untuk meminta maaf kepadaku.” Yuri mencoba melepaskan genggaman tangan Jessica namun gadis berambut pirang itu malah semakin mempererat genggamannya.
“Kumohon… Maafkan aku. Aku adalah gadis terbodoh yang ada di dunia ini. aku membohongi diriku sendiri dan orang yang aku cintai.” Kristal bening mulai bercucuran dari sudut mata indah Jessica.
Yuri terdiam. Bukankah seharusnya ia membenci gadis ini? Gadis yang meninggalkannya sendiri? Gadis yang menghancurkan semua impian mereka? Namun tak dapat dipungkiri, gadis ini adalah satu-satunya yang ia cintai. Satu-satunya yang dapat mengisi kekosongan hatinya. Satu-satunya yang dapat menyembuhkan luka hatinya.
“Uljima…” sejak dulu Yuri memang tidak pernah sanggup melihat Jessica menangis. Hal ini pun tak berubah bahkan hingga sekarang.
“Tentang Yoona… Aku tak pernah benar-benar mencintainya. Aku menikah dengannya karena perjodohan. Dan ciuman itu.. ciuman itu tak berarti apa-apa untukku.” Jessica terisak, membuat kata-katanya tersendat.
“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” Yuri bertanya dalam kebingungan.
Jessica melepaskan genggamannya pada tangan kiri Yuri lalu memejamkan matanya dan menarik nafas dalam.
“Aku masih mencintaimu. Aku tak pernah sekalipun melupakanmu. Aku tak benar-benar ingin kau melupakanku.“
Hening… Jessica menunggu beberapa saat sebelum ia membuka matanya secara perlahan. dan hal pertama yang ia lihat adalah senyuman lebar dari Yuri. Dan beberapa saat kemudian ia merasakan tangan kiri Yuri berada di pinggangnya, menariknya ke dalam sebuah pelukan.
Yuri mulai tertawa. Ia bahkan tidak benar-benar tahu mengapa ia tertawa. Ia terus tertawa sambil tetap memeluk Jessica bahkan lebih erat. Ia bahkan tak menghiraukan tangan kanannya yang dibalut gips harus terhimpit di tengah pelukan mereka.
“Mengapa kau malah tertawa? Kukira kau akan marah padaku.” Jessica merasa bingung dengan tingkah gadis berkulit kecokelatan itu.
“Aku menertawakan diriku sendiri.” Yuri masih terus tertawa. “Jadi, aku harus mengalami kecelakaan dan tangan kananku harus patah terlebih dahulu untuk membuatmu kembali kepadaku?”
Jessica memukul pelan punggung Yuri. “Aku tak suka kau mengatakan itu… aku benar-benar mengkhawatirkanmu..” ia hampir menangis lagi.
“Hey… Maafkan aku… Aku tak bermaksud seperti itu.. Jangan menangis lagi, Sooyeon-ah..”
“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu kepadamu…”
“Nyatanya memang sudah terjadi sesuatu kepadaku.” Yuri melepaskan pelukannya. “Kau lihat, tangan kananku patah.” Yuri mengerucutkan bibirnya.
“Maafkan aku… Harusnya aku tidak mencium Yoona saat itu.”
“Sudahlah… Aku tidak mau membahas itu lagi.”
“Jadi kau sudah memaafkanku?”
“Kurasa aku bisa memaafkanmu.” Yuri mengelus pelan pipi Jessica. “Jika aku mendapatkan sebuah ciuman tentunya.”
Perkataan Yuri sukses membuat wajah Jessica bersemu merah.
Dengan malu-malu Jessica mencondongkan tubuhnya, menutup jarak diantara mereka dengan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Yuri.
“Hanya itu yang aku dapatkan?” Yuri berpura-pura kecewa saat Jessica menarik diri.
“Aku tidak mau mengambil resiko, bagaimana jika ada yang memergoki kita?”
Jessica benar. Mereka memang sedang berada di rumah sakit, dimana mungkin saja akan ada perawat atau mungkin Yoona dan Seohyun yang masuk ke dalam kapan saja. Tetapi sebenarnya bukan hanya itu alasan Jessica yang hanya memberikan sebuah kecupan singkat untuk Yuri. alasan sebenarnya adalah ia tidak mau terlalu memaksakan keadaaan. Sekarang, ia sudah kembali bersama dengan Yuri saja sudah cukup untuknya.
“Jadi, kita akan memulai semuanya lagi dari awal? Tak akan ada rahasia ataupun kebohongan lagi kali ini?” Yuri menggenggam lembut tangan Jessica.
Mereka saling beradu pandang. Lalu saling melemparkan senyum.
“Aku mencintaimu…” ujar mereka berbarengan.
Sementara itu di luar kamar rawat 125 tengah berdiri seorang gadis. Ia melihat semua kejadian yang terjadi di dalam kamar rawat itu. ia menghela nafas dalam.
“Kalian memang pantas bahagia.” Gumam gadis itu sambil berjalan menjauh dari sana
.
.
.
FIN
……….
……..
…….
……
…..
….

..
.

-EPILOG-
Yuri tengah berdiri di altar. Ia mengenakan setelan berwarna putih, rambutnya diikat kebelakang. Ia terlihat begitu tampan sekaligus cantik disaat yang bersamaan. Jantungnya berdetak tak karuan sejak ia berdiri di sana. Menunggu pengantinnya yang akan segera datang.
Krieettt…
Pintu gereja itu terbuka secara perlahan. menampilkan seorang gadis cantik berambut pirang. Gaun putih yang sangat pas pada tubuh rampingnya membuatnya benar-benar menawan. Semua tamu undangan terlihat begitu terpesona akan kedatangan Jessica.
Yuri menatap Jessica yang berjalan pelan menuju altar ditemani oleh ayahnya. Senyum tak pernah absen dari wajah Yuri maupun Jessica.
“Kwon Yuri, Apakah kau bersedia untuk mencintai Jung Sooyeon saat senang maupun sedih, sehat maupun sakit, bahkan hingga maut memisahkan kalian?”
“Ya, saya bersedia..” Yuri menjawab mantap.
“Dan sekarang, Jung Sooyeon, Apakah kau bersedia menerima kelebihan maupun kekurangan serta mencintai Kwon Yuri saat senang maupun sedih, sehat maupun sakit, bahkan hingga maut memisahkan kalian?”
Jessica menatap gadis di depannya lalu tersenyum bahagia. “Ya, saya bersedia…”
Setelah mengucapkan janji suci mereka, sang pastur mempersilahkan kedua mempelai untuk berbagi ciuman.
Yuri mengelus pelan pipi Jessica dan dengan perlahan memperdekat jarak mereka. Ia menutup jarak diantara mereka dengan mendaratkan sebuah ciuman lembut. Ciuman itu tak berlangsung lama.
“Lemparkan bunganya, Jessi..” ujar salah satu tamu yang duduk paling depan yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Tiffany.
Jessica hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu. ia berbalik dan siap untuk melempar buket bunga yang ia pegang. Sementara di belakangnya para gadis yang belum menikah berdesakkan agar bisa mendapatkan buket itu.
Jessica melemparkan buket itu cukup jauh. Dan tanpa diduga buket itu jatuh di tangan seorang gadis cantik yang mengenakan gaun berwarna biru muda. Membuat gadis lain yang sudah bersiap untuk mendapatkan itu mengeluh kecewa.
“Hahhh… Kukira aku akan mendapatkan buket itu. kurasa Taeyeon memang belum siap untuk berkomitmen.” Gumam Tiffany.
“Kalian harus segera menyusul.” Yuri menepuk pelan gadis bermata rusa yang berdiri di samping sang gadis penerima buket.
Wajah sang gadis bergaun biru muda penerima buket yang ternyata adalah Seohyun itu bersemu merah mendengar perkataan Yuri.
Seohyun menatap gadis bermata rusa di sampingnya yang terlihat gugup.
“Ada apa, Yoong?”
Yoona berlutut di depan Seohyun lalu mengeluarkan sebuah kotak dari saku blazer-nya yang berwarna senada dengan gaun Seohyun.
“Do you wanna be my wife?”
………
…….
……
……
…..
….

..
.
THE END

Hai….. Apa kabar semua?
Oke gue hiatus cukup lama yak… wkwkwk….
Maklum.. kemaren2 gue sibuk pake banget. Dan sekarang sih udah agak lengang nih waktu gue.. udeh selesei sidang soalnya. Tinggal revisi aja dikit…. Hihihihi (malah curhat)..
Maaf banget yak… hiihihii… well… gue agak susah bikin ending sebuah cerita.. ya jadilah begini… How do you think?
Trus buat yang nunggu ff kryber… sori yak.. gue belum bisa apdet itu… hihihi
Leave a comment!!! ^.^

9 thoughts on “7 Years of Love (Sequel part 2)

  1. huftt,,,, ada sequel bulan madu nggak??? hihihihi
    aigoo,,,, sempat mau mewek sich,, waktu yul belum sadar,, apalagi katanya alat bantu mau dilepas,,,
    well,,,, akhirnya bahagia semua,,, tapi kurasa endingnya terlalu dipaksakan,,, mnenurut aku sich hahahahha
    well,,, selamat kembaly yaa,,,, hmm,, semoga aj ni wp nggak jamuran HAHAHAHAHHA

  2. Td agak lupa sma crita nii.. Setelh mikir keras baru ingt.. Huhuhu akhirnya happy ending.. Gue pikir yuri bnci2 gitu sma sica.. Trnyaata seorg kwon seobang ngk bisa bncii sma sica babynya..^^

  3. Kok aku baru tau sekarang kalo ini udh di lanjut… ah sebel sebel sebel!!! Padahal nungguin bgt..
    Eh eh, endingnya manis.. semuanya berakhir bahagia. Sempet kecewa juga sih krn ga berakhir YulHyun #dicekekSica
    Hahaha.. pokoknya keren lah!! Suerrr!! Good job!!! ★★★★★
    Ujung2nya YulSic 4evah ♥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s