SECRET LOVE (CHAPTER 4)

Title : Secret Love

Author : llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo

Genre : Shojou Ai (Girl x Girl)

Rated : T ( belum kuat buat yang M ^_^)

Cast :  Amber J. Liu, Krystal Jung, Bae Suzy, Choi Sulli, Jessica Jung and Kwon Yuri

 

Hope you like it and…

Happy reading.. ^,^

 

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY

Don’t Like Don’t Read

Typo dan EYD bertebaran

 

Chapter 4

 

“Amber-ah… Tunggu aku!” dengan langkah tergesa-gesa Suzy menghampiri Amber yang bahkan tidak menoleh ketika namanya dipanggil. “Kau berjalan cepat sekali!” Nafasnya memburu begitu ia berada di dekat Amber. Gadis itu berusaha mengejar Amber sejak dari kelas mereka yang berada di lantai 2.

“Apa yang kau inginkan? Kau ini sangat merepotkan.” Amber berhenti berjalan, ia menghela nafas ketika mendapati Suzy kini telah menggandeng tangannya.

“Aku ingin ke Lotte World. Kau mau temani aku kan?”

Shireo.. “

“Kau harus mau!”

Amber menghempaskan tangan Suzy dengan kasar. “Aku tidak punya waktu untuk bermain bersamamu!”

“Jika kau tidak mau menemaniku, kupastikan paman Liu akan memarahimu!” Suzy menyilangkan tangan di depan dadanya.

Geez… Kau ini benar-benar merepotkan. Baiklah.. baiklah..” Amber berjalan mendahului Suzy. Ia benar-benar kesal dengan kelakuan gadis itu, ia bahkan makin berani mendekatinya setelah kejadian di Hotel Z kemarin.

***

Krystal masih berdiri mematung di depan mobilnya, ia masih sangat terkejut dengan beberapa lembar foto di dalam amplop yang ia terima. Itu adalah foto ketika ia dan Amber berada di atap pagi tadi. Dalam foto itu tercetak jelas dirinya dan Amber yang tengah berpelukan dan berciuman.

Tangannya gemetar. Tubuhnya pun terasa begitu lemas. Seseorang telah mengetahui hubungannya dengan Amber.

Tablet-nya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak ia kenali. Dengan ragu-ragu ia menggeser Icon telepon berwarna hijau di tabletnya.

“Selamat sore, nona Jung!” Krystal tak begitu yakin siapakah penelpon misterius itu. suaranya disamarkan, ia tak bisa mengenali apakah itu suara perempuan ataupun laki-laki. Tapi nalurinya mengatakan itu adalah suara seorang gadis.

“Si-siapa kau?” suara Krystal terdengar bergetar.

“Kau sudah menerima foto-foto itu?”

“Kau yang mengirim amplop ini?”

Terdengar suara tawa di seberang sana. “Apakah itu penting, nona Jung?”

“Katakan, apa maumu?” Krystal meremas foto-foto di tangannya.

“Mauku? Hmmm.. Kurasa aku tak menginginkan apa-apa! Aku hanya merasa kasihan padamu. Apa kau begitu mempercayai kekasihmu itu? Apa kau begitu yakin dengan alasannya merahasiakan hubungan kalian dari orang lain?”

“Dengar, aku sama sekali tidak perlu menjawab semua pertanyaanmu itu. tentu saja aku mempercayai kekasihku. “

“Oh.. Begitukah? Bagaimana jika kau datang ke Lotte World sekarang?”

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?” ucap Krystal hampir berteriak.

Tuttt… Tuttt…. Tuttt…

Sambungan terputus begitu saja. Meninggalkan Krystal yang masih menggenggam –meremas- foto-foto itu dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.

***

Sepanjang perjalan menuju Lotte World, Suzy tak henti-hentinya berbicara. Bisa dibilang ia begitu Out of Character. Mengingat di dalam kelas Suzy merupakan salah satu murid yang cukup dingin, mungkin setara dengan Krystal. Suzy tak pernah segan untuk menolak mentah-mentah beberapa murid yang pernah mengutarakan perasaan cinta mereka kepadanya. Sejak awal gadis ini memang begitu tertarik pada Amber.

Sementara itu berbanding terbalik dengan Suzy, selama perjalanan Amber sendiri hanya terdiam dan fokus mengendarai jagoannya. Sebuah BMW berwarna hitam. Suzy memintanya agar Amber sendirilah yang mengendarai mobil itu. Gadis itu ingin berdua saja dengan Amber.

Setelah memarkirkan mobilnya, Amber dan Suzy segera memasuki arena taman bermain.

Suzy menarik Amber secara paksa untuk menaiki sebuah wahana. Wajah Amber memucat. Nafasnya tercekat. Sungguh, ia akan menaiki wahana apapun di tempat ini kecuali wanana yang satu ini. Papan di depan wahana itu jelas menampilkan nama dari wahana tersebut. “Giant Loop” sebuah wahana roller coaster dimana para pengunjung akan merasakan putaran 360 derajat pada saat melewati jalur yang dengan sengaja dibuat berbentuk bundar. Wahana itu akan berhenti sesekali saat sedang berada di atas.

“Bisakah kita naik wahana yang lain saja?” Amber mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya. Ia tidak ingin dicap sebagai penakut.

“Tapi aku hanya ingin menaiki wahana ini!”

“Kalau begitu kau naik saja sendiri! Aku…”

“Kau takut?” Suzy memicingkan matanya. Menatap Amber dengan penuh curiga.

Hell no…” Amber memalingkan wajahnya.

“Oh ayolah.. Temani aku!”

Amber berusaha mencari alasan yang logis untuk menolak permintaan gadis menyebalkan di depannya itu. matanya sesekali mengarah pada wahana “Giant Loop” itu yang kini tengah berhenti di atas, ia sempat menahan nafasnya saat melihat wahana itu berhenti dan menyebabkan posisi terbalik pada para pengunjung.

“Kau lihat? Antrian di sini panjang sekali. Aku tidak mau menunggu!”

“Ayolah! Ini adalah kencan pertama kita!” ucap Suzy dengan ceria. Wajahnya terlihat begitu berbinar seperti seorang anak kecil yang mendapatkan permen kesukaannya.

“Teruslah bermimpi, nona Bae! Dan perlu digaris bawahi, ini bukanlah sebuah kencan!” ketus Amber.

“Mengapa kau begitu ketus padaku, Amber-ah?”

“Karena aku tidak menyukaimu!”

“Tapi kau harus menyukaiku karena—“

“Diam!!!” Amber memotong kalimat Suzy. Ia mulai merasa geram dengan tingkah gadis ini. “Dengar, Aku tak pernah menyukaimu dan tidak akan pernah! Dan soal perjodohan yang dibuat oleh orang tua kita tidak akan merubah apapun. Apa kau mengerti?”

Mendengar Amber berteriak padanya, membuat hati gadis itu hancur. Ia menundukkan kepalanya, pundaknya mulai bergetar dan kini mulai terdengar isakan darinya.

Amber yang melihat Suzy mulai menangis pun merasa sedikit bersalah. Tak seharusnya ia berteriak pada Suzy. Dengan ragu-ragu, tangan kanannya menyentuh pundak Suzy.

Uljima…”

“Mengapa kau begitu tidak menyukaiku?” lirih Suzy. Pundaknya semakin bergetar dan tangisnya pun mulai tak terbendung.

“Hei… Hei… Maafkan aku. Aku tak bermaksud berteriak padamu.”

Gotcha

Mata Amber membulat, ia merasakan sepasang benda lembut mendarat di bibirnya. Sedetik kemudian ia baru menyadari jika Suzy mencuri sebuah ciuman darinya. Dengan gerakan cepat ia menarik dirinya menjauh dari Suzy.

***

Setelah berfikir cukup lama akhirnya Krystal memutuskan untuk pergi ke Lotte World. Ia begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya direncanakan oleh sosok misterius itu. apalagi setelah berkali-kali ia mencoba untuk menelpon kekasihnya namun ia tak bisa dihubungi. Ia merasakan sebuah firasat buruk untuk itu.

Setelah sampai di Lotte World, Krystal melihat begitu banyak orang di tempat itu membuatnya merasa pusing. Krystal bukanlah gadis yang suka dengan keramaian.

“Ramai sekali…” matanya menyusuri lautan manusia di depannya. Terlihat beberapa pasangan yang sepertinya tengah berkencan. Hal itu membuatnya teringat pada seseorang. Sudah lama ia begitu menginginkan sebuah kencan di tempat terbuka seperti ini.

Ia menghela nafas dalam, dan tiba-tiba saja tersadar, setelah ini apa yang akan ia lakukan? Kemana ia akan pergi?

Tabletnya bergetar. Menandakan ada sebuah pesan masuk.

Itu adalah nomor yang digunakan oleh sosok misterius tadi.

Ia segera membuka pesan itu.

From : xxx

Datanglah ke wahana Giant Loop

 

Krystal mengernyit. Apa yang sebenarnya sosok misterius itu inginkan?

Tanpa fikir panjang lagi, Krystal berjalan menuju wahana Giant Loop.

Setelah cukup dekat dengan wahana itu, matanya menangkap sosok yang begitu ia kenali. Apa yang Amber lakukan di sini? Bersama gadis itu? begitu banyak pertanyaan yang bergelayut di kepalanya.

Ia memutuskan untuk menjaga jarak dengan kedua orang tersebut. Matanya tak pernah lepas dari mereka berdua.

Ia melihat Amber yang berteriak pada gadis di depannya. Dan tak berselang lama gadis boyish itu berusaha untuk menenangkan Suzy.

Adegan yang paling membuatnya terkejut adalah ketika Suzy mendaratkan sebuah ciuman pada Amber. Nafasnya tercekat. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia merasakan dadanya terasa begitu sesak. Matanya terasa panas, dan iapun mulai mengeluarkan bulir-bulir cairan bening dari sudut matanya.

Waktu terasa berhenti saat ia menyaksikan adegan menyakitkan itu. hatinya hancur…

Ia membalikkan badannya, siap berlari dari sana. Ia mencengkeram kerah seragamnya, mencoba menghiraukan sesak di dadanya. Ia berlari tanpa peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Brukkk…

Karena tidak memperhatikan jalannya, Krystal menabrak seseorang.

“Apa yang kau lakukan disini, Soojung-ah?”

*

*

*

T B C

 

Wkwkwkwk… Hai hai… Apa kabar?

Terasa pendek kah? Ah Cuma perasaan kalian aja ah~ *mintaditabok

Okay… Ini emang pendek pake banget… Padahal gue lagi gabut banget sekarang2 ini, ya tapinya gt… Ide munculnya di saat yang aneh2 sih… Misal gue lagi di suruh nyokap belanja, atau saat gue lagi latian. Pokoknya tuh ide kadang muncul saat gue gak megang si Putih –Notebook- gue… hahahaha… mohon di maklumi yak!

Ini special buat yang request… Maaf kalo danshin yak! Hihihi…

 

GONE

Hihi… Sorry, belom bisa apdet FF KryBer yang laen… untuk sekarang yang ini aja dulu yak! Hihihi…

Author : Llamaunyu1809  a.k.a  Lee Eun Soo

Title : Gone

Cast : Krystal Jung and Amber J. Liu

*

*

*

Sesak di dalam dadanya telah hilang.

Jiwanya bahkan tidak bisa lagi merasakan apapun.

Ia merasa begitu kosong dan juga hampa.

Ia sudah berhenti menangis…

Bukan! Ia bahkan tidak bisa lagi menangis..

Krystal masih berdiri mematung, ia sudah berada di sana sejak beberapa jam yang lalu. Ia sama sekali tidak berniat untuk melangkahkan kakinya sedikitpun dari sana. Tidak juga saat hujan yang kini mulai turun dari awan hitam di atasnya. Setetes air hujan jatuh ke atas kepala gadis berusia 20 tahun tersebut. Ia hanya tersenyum pahit. Bibirnya terlihat begitu kering, matanya terlihat begitu lelah, wajah putihnya terlihat begitu pucat.

Gelap… Angin dingin yang menusuk… Hujan yang turun semakin deras…

“Kenapa?” sebuah pertanyaan yang bahkan ia sendiripun tak pernah tahu jawabannya. Sebuah pertanyaan yang begitu mengusiknya.

Guyuran hujan tak membuat gadis itu pergi dari tempat itu. Ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya, ia melihat hembusan nafasnya berubah menjadi kabut putih kemudian menghilang. Mengapa ia bahkan masih bisa bernafas?

Ia menarik nafas kembali, kali ini ia menahannya. Dadanya kini terisi penuh dengan udara. Paru-parunya bergetar karena kebutuhan untuk mengeluarkan udara  dan mengisinya kembali dengan oksigen yang baru dan melepaskan karbondioksida. Ia menghiraukan rasa sakit itu, menghiraukan paru-parunya yang terasa akan terbakar. Itu sama sekali tidak terasa seperti apapun. Ia bahkan tidak bisa merasakan rasa sakit itu.

Ia menghembuskan nafasnya, sekali lagi untuk melihat hembusan nafasnya tersebut berubah menjadi kabut putih lalu menghilang. Ia berharap bisa menjadi hembusan nafas itu. Ia berharap bisa menghilang.

Di sekitarnya kini terdengar suara bergemuruh, namun gemuruh itu tak terdengar di telinganya. Awan masih terlihat gelap, pertanda hujan masih akan berlangsung hingga beberapa waktu kedepan. Ia masih harus merasakan sensasi dari air yang turun dari langit itu jatuh di atas kulitnya yang dingin.

Dingin.. Tentu saja, di hari yang diguyur hujan seperti itu pasti akan terasa begitu dingin. Namun, Krystal bahkan tak bisa merasakan itu. ia tidak bisa merasakan angin yang kini membuat tubuhnya menggigil atau hujan deras yang kini telah membuat tubuhnya basah kuyup.

Hitam… Kemeja hitam dan blazer hitam serta rok yang senada, seperti biasanya…

Ia selalu ke sana dengan penampilan seperti itu. Ia akan terlihat seperti seorang eksekutif muda yang sukses jika saja tanpa tatapan kosong dan wajah yang terlihat begitu pucat.

Kenapa???

“Kenapa?” ia bertanya dengan suara yang cukup keras.

“Amber….” sebuah nama yang terus ia ucapkan, bahkan ketika ia bermimpi. Sebuah nama yang ingin sekali ia lupakan.

Tapi ia tidak bisa, ia takkan bisa lupa. Tidak untuk seseorang yang telah mencuri hatinya.

Ia takkan pernah lupa dengan tingkah laku gadis boyish yang konyol itu. Hampir setiap saat ia selalu dikerjai olehnya.

Ia takkan lupa dengan senyum khas gadis boyish itu.

Ia takkan lupa dengan suara husky yang selalu membuat kakinya lemas dan hatinya terasa begitu kacau.

Bagaimana bisa ia melupakan seseorang yang telah mencintainya lebih dari apapun di dunia ini?

“Kenapa ini semua harus terjadi?” nafasnya tercekat. Tenggorokannya terasa terbakar ketika mengatakan kalimat tersebut.

Tangan kanannya mencengkeram kerah kemeja hitamnya lalu ia jatuh berlutut. Ia memejamkan matanya dengan kasar. Mencoba untuk mengendalikan fikirannya agar terlepas dari kenangan mereka.

Gambaran ketika gadis boyish itu mengutarakan perasaan cinta untuknya. Gambaran ketika ia tak sanggup menahan tangis bahagianya karena hal itulah yang telah ia tunggu sejak lama. Ia juga menyukai gadis boyish itu sejak lama.

Ia ingin sekali membuang gambaran yang terlintas di kepalanya tentang saat dimana mereka berbagi ciuman pertama mereka. Singkat dan kikuk namun terasa begitu sempurna dan indah.

Ia ingin sekali menangis, namun air matanya tak dapat lagi keluar. Matanya terasa terbakar,  dibalik wajahnya yang cantik itu menyimpan penderitaan yang begitu mendalam. Krystal membiarkan air hujan menggantikan air matanya.

Ia menengadahkan kepalanya, tangannya masih mencengkeram kerah kemejanya. Ia mendesah penuh luka. Di depannya adalah sebuah batu nisan. Ia tengah berlutut di depannya. Bukan karena ingin, namun Ia bahkan tak sanggup berdiri. Kakinya terasa begitu berat, entah karena dingin ataupun karena perasaannya saja. Yang Krystal tau hanyalah kakinya terasa begitu berat.

“Kenapa?” ia bertanya lagi, tak sanggup menjawab pertanyaan yang ia tanyakan hampir setiap saat. Kenapa itu semua terjadi? Kenapa harus dia?

Kilatan petir memecah langit, menerangi lingkungan pemakaman itu sesaat. Menyadarkan Krystal dari dunianya yang dingin dan kosong. Ia tidak bisa berada di sana selamanya. Ia sudah cukup lama berada di tempat itu. Menghabiskan waktu di sana dengan menatap dan bertanya serta sesekali memohon.

Dengan nafas yang bergetar, Krystal berdiri dan menahan tubuhnya yang mengigil. Ia sudah hancur beberapa waktu yang lalu. Ya, tapi ia menolak untuk hancur berkeping-keping lagi. Tidak… Tidak di tempat itu.

Gadis boyish itu memang selalu menyebalkan untuknya. Namun ia juga tidak dapat memungkiri jika gadis itu sangatlah berharga untuknya. Jika saja waktu bisa ia putar kembali, ia rela menggantikan tempatnya. Ia akan mencegahnya untuk menyelamatkannya. Ia rela tertusuk pisau perampok itu jika itu bisa mencegah malaikatnya ini pergi meninggalkannya. Bahkan sampai akhirpun gadis boyish itu tersenyum konyol padanya. Membuatnya semakin terluka.

Ia mengelus lembut batu nisan di depannya. Jari-jari lentiknya menyusuri ukiran nama di atas batu nisan itu.

I love you, stupid.” Krystal berbisik lirih. Tenggorokannya terasa terbakar bersama kalimat itu. ia sudah lama tidak mengatakan kalimat itu. satu hal yang ia rasakan sekarang hanyalah jantungnya berdenyut penuh dengan penderitaan. “I miss you, llama.”

Ia berhenti mengelus batu nisan itu. Ia ingin berada di tempat itu selamanya, namun ia tidak bisa. Tempat itu bukanlah tempat untuk makhluk yang masih bernafas sepertinya.

Sulit… Memang sangat sulit untuk pergi setiap kali ia mengunjungi tempat itu. Setelah itu ia akan merasa sendirian, lebih tepatnya kesepian.

Jika saja ia yang mati. Ia tidak akan pernah mengalami semua ini.

“Maafkan aku, Amber.” Krystal bergumam lirih lalu melangkah pergi. “Semua ini memang salahku.”

Amber telah pergi. Pergi ke tempat yang entah berada di mana. Surga? Mungkinkah ada tempat seperti itu?  Amber tak akan pernah bisa mendengar semua keluh kesah yang tersimpan di dalam hati Krystal lagi ketika Amber telah mati.

Krystal menertawakan dirinya sendiri lalu membalikkan badannya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong blazer-nya. Menghiraukan angin yang menerpa tubuhnya semakin kencang dan hujan yang masih turun dengan derasnya. Tatapannya kosong.

Mungkin suatu saat nanti Krystal akan berada di tempat itu, berbaring selamanya di samping orang yang sangat ia cintai itu. Tapi bukan sekarang. Ia masih harus menunggu hal itu. Menunggu hal yang pasti akan datang padanya… Suatu saat nanti..

*

*

*

T H E   E N D

Gak… Gue gak lagi galao koq.. ciyus deh.. ciyus…

Jangan hajar gue.. jangan…..       Wkwkwkwk…

Oh iya… Special for my llama… Happy Birthday!!! ^.^

Semoga makin ganteng *eh.. Makin Sukses… pokoknya… WYATB lah… hahaha
Love uuuuuuuuuuuuuuuu… :*

#HappyBersDay

1526240_577903955662700_8319629862735579184_n

7 Years of Love (Sequel part 2)

Title : 7 Years of Love (Sequel part 2)
Author : llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo
Genre : Yuri (Girl x Girl), drama
Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im Yoona, Seo JooHyun

Hope you like it and…
Happy reading.. ^,^

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY
Don’t Like Don’t Read
Typo bertebaran

-I’M BACK-

Belum ada tanda-tanda bahwa Yuri akan segera siuman. Begitu banyak alat medis yang ditempelkan pada tubuh Yuri. Perban putih dengan noda merah di tengahnya melilit di kepalanya. Pipi kirinya terdapat memar dan beberapa goresan. Tangan kanannya dibalut gips. Yuri memang sudah dipindahkan dari emergency room ke ruang rawat biasa dan ini sudah hari ketiga ia berada di sana. Dokter mengatakan bahwa Yuri mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya dan juga tangan kanannya serta kehilangan banyak darah akibat kecelakaan itu. Belum bisa dipastikan kapan Yuri akan sadar.
Di depan kamar rawat Yuri, Jessica tertidur di bangku besi berwarna silver. Tiga hari sudah ia menunggu disana, meskipun ia tidak bisa menemani Yuri di sampingnya. Selama tiga hari itu pula Seohyun masih belum membiarkan Jessica masuk ke dalam kamar rawat Yuri. ia masih bersikeras bahwa ini semua adalah salah Jessica. Walaupun ia tahu menyalahkan Jessica bukanlah hal yang tepat. Ini semua memang sudah takdir. Tetapi Seohyun enggan menerima takdir ini sehingga mengkambing hitamkan seseorang atas kecelakaan yang menimpa Yuri.
Suasana rumah sakit hari itu tidak begitu ramai. Seorang gadis kurus berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil membawa 2 buah kotak makanan. Ia berhenti di depan kamar bernomor 125. Tatapannya tertuju pada seorang gadis yang kini tengah tertidur di bangku besi yang berada tepat di depan kamar rawat Yuri. Perlahan ia duduk di samping yeoja itu. Ia merapihkan anak-anak rambut gadis di sampingnya itu lalu merebahkan kepala gadis itu di pundaknya.
“Apa kau begitu mencintainya, eonni?” batin sang gadis kurus berwajah malaikat itu.
***
Seohyun duduk di kursi yang terletak di samping ranjang Yuri. ia menggenggam tangan kiri gadis tanned yang sangat ia cintai itu. ia tahu bahwa ia telah bersikap egois dengan tidak membiarkan Jessica masuk karena sesungguhnya ini semua bukan sepenuhnya kesalahan Jessica. Selama tiga hari ini juga Seohyun selalu memperhatikan Jessica. Memperhatikan Jessica yang tetap setia menunggu di luar.
Ia meletakkan telapak tangan Yuri yang masih ia genggam di pipinya. “Eonni… Eotthokae?” suaranya terdengar serak. Ia terlalu banyak menangis.
Tok tok tok…
Seohyun mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia melihat sesosok gadis kurus bermata rusa tengah berdiri di ambang pintu.
“Seo Joohyun-ssi.. Bisakah kita bicara sebentar?”
***
Jessica mengerjap-ngerjapkan matanya. Sebuah blazer putih menyelimuti tubuhnya. Ia mengenal aroma mint ini. aroma mint yang hampir sama dengan Yuri. aroma tubuh dari seseorang yang akhir-akhir ini selalu menemaninya. Gadis berwajah Barbie itu melihat dua buah kotak makanan di sampingnya.
“Yoong… Bisakah kau berhenti bersikap baik kepadaku?” lirih Jessica.
Ia meletakkan blazer putih yang sejak tadi menyelimuti tubuhnya di bangku. Ia sama sekali tak berniat menyentuh kotak makanan itu.
Jessica bangkit dan menghampiri kamar 125. Ia hanya berdiri di depan pintu. Matanya menerawang dari kaca. Melihat sesosok gadis tanned yang kini masih terbaring lemah tak berdaya.
“Yuri-ah… Ireona…”
***
Yoona membawa dua gelas moccachino. Ia memberikan salah satunya kepada Seohyun yang sudah duduk di pojok kafeteria rumah sakit.
“Gomawo.” Seohyun menerimanya dan tersenyum tipis. Wajahnya masih terlihat sangat lelah. “Apa yang ingin kau bicarakan, Yoona-ssi?”
Yoona duduk di hadapan Seohyun. Menarik nafas sejenak sebelum memutuskan untuk berbicara.
“Bisakah kita akhiri saja semua ini?”
Seohyun mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu, Yoona-ssi?”
“Aku tahu kau adalah orang yang pandai, Joohyun-ssi. Aku yakin kau mengerti maksud perkataanku tadi.” Yoona menyesap moccachino-nya.
Seohyun bergeming. Ia memang sudah menebak ke arah mana percakapan ini berujung.
“Apa maksudmu dengan mengakhiri, Yoona-ssi?” Seohyun masih enggan untuk menunjukkan bahwa ia sudah mengerti akan maksud Yoona.
Yoona menghela nafas dalam. Ia meletakkan gelas moccachino-nya di meja. “Mereka itu saling mencintai, Joohyun-ssi. Kaupun tau itu. jadi, bisakah kita biarkan mereka untuk bersatu?”
Seohyun mengeratkan genggamannya pada gelas moccachino-nya lalu memejamkan matanya sambil mengatur nafasnya.
“Mereka? Kurasa hanya Yuri eonni saja yang mencintai Sooyeon-ssi.” Ujar Seohyun dengan nada bicara menyindir.
“Tidak!!! Sica eonni sangat mencintai Yuri…..”
“Jika dia mencintai Yuri eonni lalu mengapa ia menikah denganmu, Yoona-ssi?”
“Dia… Sica eonni tak pernah menginginkan pernikahan ini.”
Seohyun terdiam. Ia menatap gadis di depannya yang tengah menundukkan kepalanya.
“Dia… Tidak pernah mencintaiku.” Yoona mengangkat kepalanya dan tersenyum miris.
Seohyun bisa melihat dari tatapan mata Yoona bahwa gadis kurus berwajah malaikat itu menyimpan luka. Luka yang sama sepertinya. Entah mengapa Seohyun merasa memiliki seorang teman sekarang. Ia dan Yoona… Memiliki nasib yang hampir sama.
“Kufikir setelah kami menikah, lambat laun ia akan mencintaiku. Tapi dugaanku salah. Kurasa sekeras apapun usahaku aku tak akan pernah bisa memenangkan hatinya.” Yoona menengadahkan kepalanya sedikit untuk mengantisipasi air mata yang hampir tak terbendung lagi.
Seohyun sadar. Terkadang dunia ini begitu tidak adil.
Saling mencintai tetapi tidak bisa bersatu atau cinta sepihak? Mana yang lebih menyakitkan?
“Joohyun-ssi…. Bisakah kita akhiri saja semua ini?” lirih Yoona.
***
Jessica duduk di samping ranjang Yuri. ia memutuskan untuk masuk karena ia merasa Seohyun sudah cukup lama meninggalkan Yuri. Ia khawatir jika akan terjadi sesuatu pada Yuri. oleh karena itu ia nekat masuk ke dalam. Ia tak peduli dengan apa yang akan terjadi jika Seohyun melihatnya berada di dalam. Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah Yuri.
“Kau sangat jelek saat menangis, Sooyeon-ah..”
Kalimat yang selalu keluar dari bibir gadis berkulit kecoklatan yang kini masih terbaring di dalam kamar itu terngiang di kepala Jessica. Ia mengingat jelas bagaimana Yuri memeluk erat dirinya saat ia sedang merasa sedih.
“Yuri-ah…. Ireona…..” Isak Jessica sambil meremas pelan telapak tangan kiri Yuri yang tengah ia genggam,
Belum ada respon dari gadis berkulit kecoklatan itu.
“Kau adalah malaikat hitamku, eoh? Apa kau pantas untuk tertidur disaat yeoja yang kau panggil princess tengah menangis?” Jessica tersenyum dalam tangisannya.
Jessica tersentak, kali ini ia merasakan gerakan lemah dari jari-jari tangan kiri Yuri yang tengah ia genggam.
“Yuri-ah…”
Jessica hendak bangkit untuk memanggil dokter namun gerakannya tertahan oleh genggaman lembut tangan Yuri.
***
“Dia… Yuri eonni adalah satu-satunya yang kumiliki sekarang. Aku tak akan sanggup jika dia meninggalkanku dan membiarkannya hidup bersama Sooyeon-ssi.”
Kini Yoona yang terdiam dan hanya bisa menatap Seohyun.
“Aku tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku jika tanpanya. Jadi bisakah kau biarkan aku tetap bersamanya?”
“Jika begitu, kau benar-benar egois, Joohyun-ssi! Mereka tak akan pernah bahagia jika mereka terpisah seperti ini. Dan lagi kau hanya akan memperdalam luka di hatimu jika kau terus memaksanya bersamamu. ”
“Lalu, apakah hanya mereka yang boleh bahagia? Tak bisakah kita sedikit bersikap egois untuk kebahagiaan kita sendiri, Yoona-ssi?”
Yoona tidak menyangkal bahwa perkataan Seohyun membuat hatinya gentar. Bukankah setiap manusia berhak bahagia? Haruskah ia bersikap egois untuk mendapatkan kebahagiaan itu? tidak… keegoisan tidak akan pernah membawa kebahagiaan kepadamu. Begitulah prinsipnya.
***
Jessica kembali duduk di samping ranjang. Dengan berurai air mata, Jessica mencium punggung tangan Yuri.
“Yuri-ah…. Ireona~..”
Tidak ada gerakan tambahan dari Yuri. Matanya bahkan belum terbuka sama sekali. Satu-satunya yang bisa Yuri lakukan hanya menggenggam pelan tangan Jessica.
***
“Keegoisan tidak akan pernah membawamu kepada kebahagiaan, Joohyun-ssi.” Nada bicara Yoona terdengar agak kecewa dengan gadis di depannya itu.
“Aku tahu…” Seohyun menundukkan kepalanya. Ia terisak.
“Lalu, kau masih ingin melanjutkan keegoisanmu itu?”
“Tak bisakah?” ia semakin terisak. Pundaknya bergetar menahan isakannya.
Tanpa diduga Seohyun merasakan sepasang tangan memeluknya dari belakang. Aroma ini, aroma mint yang ia kenal. Ia sempat berfikir bahwa orang itu adalah orang yang selama ini ia cintai.
“Uljima…”
Seohyun tersadar. sosok yang tengah memeluknya kini bukanlah Yuri melainkan Yoona. Mereka memiliki aroma mint yang hampir sama. Ia ingin melepaskan pelukan itu, namun apa daya, kini tubuhnya berhianat. Tubuhnya bergeming. Entah mengapa Seohyun merasakan rasa nyaman dari pelukan itu.
Entah apa yang merasuki gadis bermata rusa itu hingga tanpa sadar ia memeluk Seohyun. Tubuhnya bergerak dengan sendirinya.
“M-maafkan aku… Aku hanya tidak bisa melihat seorang yeoja menangis..” Yoona akhirnya melepaskan pelukannya pada Seohyun.
Seohyun terdiam. Bukannya ia merasa marah. Tetapi ia justru menginginkan pelukan hangat itu lagi. pelukan hangat dari orang asing yang baru saja ia kenal.
Kini suasana canggung tercipta diantara keduanya. Mereka terdiam dan larut dengan fikiran mereka masing-masing.
“Y-Yoona-ssi….” Dengan sedikit tergagap, akhirnya Seohyun memilih untuk membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Yoona menoleh ke arah Seohyun. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan oleh Seohyun.
“Jika kita akhiri semua ini, lalu bagaimana denganku….. dan juga dirimu?”
Ponsel milik Seohyun berdering. Menginterupsi percakapan serius kedua gadis itu.
“Apakah ini nona Seo Joohyun? Bisakah anda ke ruang dokter sekarang?”
***
“Kemungkinan pasien akan mengalami koma. Dan kami belum bisa menyimpulkan berapa lama itu, melihat belum ada tanda-tanda pasien akan segera sadar. “ ucap dokter yang cukup berumur itu.
Seohyun terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa lagi.
“Jika dalam waktu satu bulan pasien tidak menunjukkan kemajuan yang signifikan dengan berat hati maka pihak kami akan mencabut alat-alat yang menempel pada tubuh pasien.” Suara dokter paruh baya itu terdengar lemah.
“A-apa tidak ada yang bisa kita lakukan untuk membuatnya sadar, dok?” ucap Seohyun bergetar. Ia menahan air matanya yang sudah menunggu untuk mengalir.
“Kita hanya bisa berdo’a agar Nona Kwon bisa segera melewati ini semua.”
Seohyun merasakan genggaman hangat di tangan kanannya. Ia menoleh ke samping dan mendapati senyuman hangat dari Yoona. “Semuanya akan baik-baik saja.” Kalimat yang seperti sebuah mantra penenang untuknya.
“Ah, Aku hampir saja lupa. Apa kalian mengenal seseorang bernama Sooyeon? Saat pertama kali Nona Kwon dibawa kemari ia terus menggumamkan nama itu. Mungkin saja dengan keberadaan orang itu di dekat nona Kwon akan mempercepat kesembuhannya.”
Yoona dan Seohyun bertukar pandang. Mereka kembali teringat dengan pembicaraan mereka sebelumnya.
***
Hening… Itulah yang terjadi ketika Seohyun yang diikuti Yoona kini telah sampai di kamar rawat Yuri. mereka berdiri mematung di dekat Sofa. Memandangi sesosok gadis berambut pirang tengah tertidur sambil menggenggam erat tangan Yuri.
Seohyun menundukkan kepalanya. Ia benar-benar merasa kalah sekarang. Seberapa keraspun ia mencoba ia tak akan bisa menyentuh relung terdalam hati Yuri yang terkunci hanya untuk satu orang. Ia tersenyum pahit. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Yoona dengan ekspresi yang sulit ia mengerti. Tak ada lagi senyum hangat yang tadi sempat gadis kurus itu tampilkan. Dan Entah mengapa itu membuat Seohyun sedikit merasa kecewa.
“Yoona-ssi….” Yoona menoleh ke arah sumber suara. “Aku sudah memikirkan tawaranmu… Kurasa aku akan menerimanya.”
Perkataan Seohyun itu sedikit membuat ekspresi Yoona berubah. Membuat kedua sudut bibirnya tertarik ke arah yang berlawanan. Ia tersenyum… Yoona tersenyum karena ia akan membahagiakan orang yang ia cintai –Jessica- dan juga entah mengapa ia merasa bahagia karena Seohyun menerima tawarannya.
***
Hubungan Seohyun dan Jessica mulai membaik. Seohyun kini mulai menerima keberadaan Jessica. Kini di kamar rawat itu selalu ada Jessica, Seohyun dan Yoona. Ya, Yoona tetap berada di sana meskipun kini ia tidak memiliki hubungan yang terikat dengan Jessica. Ia sudah mengurus masalah perceraiannya dengan Jessica. Awalnya Jessica merasa sungkan karena Yoona terlalu baik kepadanya, bahkan suatu hari Jessica pernah meminta Yoona agar berhenti mengunjunginya di rumah sakit. Tetapi Jessica menyadari sesuatu ketika Jessica terbangun dari tidurnya dan Ia melihat Yoona dan Seohyun tidur berdampingan. Pemandangan itu cukup membuatnya terkejut namun tak dapat dipungkiri bahwa mereka terlihat sangat serasi. Jessica mulai menyadari bahwa ada sesuatu diantara mereka berdua.
Sudah seminggu sejak Yuri berada di kamar rawat itu. Perkembangan kesehatannya sangat lambat. Tidak ada kemajuan yang signifikan sejak hari dimana Jessica merasakan genggaman lembut dari Yuri.
Hari ini Jessica hanya sendiri menjaga Yuri. Ia mengelus pipi Yuri yang masih terdapat sedikit goresan dengan ibu jarinya.
“Cepatlah bangun!” Ia mengecup lembut kening Yuri, sebulir cairan bening meluncur mulus dari sudut mata indahnya.
Sepertinya Tuhan mendengar doa-doa Jessica. Jessica tertegun, Yuri telah membuka matanya.
“Yu-Yuri-ah….” Air mata Jessica semakin deras mengalir.
Namun ada yang aneh… Tatapan mata Yuri terlihat begitu kosong.
“Apa kau mengenaliku?”
“Soo……. Yeon…” suaranya begitu lemah.
“Tunggulah sebentar, aku akan memanggil dokter.” Dengan gerakan terburu-buru Jessica menekan tombol yang ada di samping ranjang Yuri.
Tak menunggu terlalu lama, seorang dokter dan dua orang perawat segera memasuki kamar rawat Yuri. Jessica mundur ke arah sofa, memberikan ruang agar dokter itu bisa memeriksa keadaan Yuri. sang dokter mengeluarkan stetoskop dari kantong jas sebelah kanannya. Ia memeriksa detak jantung Yuri, lalu memeriksa matanya dengan senter kecil.
“Apa kau bisa mendengarku, Nona Kwon? Jika bisa tolong anggukan kepalamu!” tak ada respon dari Yuri. tatapannya begitu kosong.
Dokter paruh baya terlihat menggelengkan kepalanya. Ia menghampiri Jessica. “Sepertinya nona Kwon belum sepenuhnya sadar.”
“Sebelumnya ia menjawabku, dok. Ia… ia mengenaliku.” Jessica mencuri pandang ke arah Yuri yang kini terlihat menutup matanya lagi.
“Dari hasil pemeriksaan saya, nona Kwon belum sepenuhnya sadar. Kemungkinan saat ia menjawab anda pun ia tidak secara sadar melakukan hal itu.”
***
Hari ini adalah hari kedua setelah Yuri membuka matanya. Semenjak itu ia sering membuka matanya akan tetapi tatapannya masih terlihat kosong. Ia tak pernah merespon jika dokter tengah memeriksanya.
“Kau harus istirahat, eonni.” Yoona mengelus lembut punggung Jessica yang tengah tidur dengan posisi duduk di samping ranjang Yuri.
Merasakan sentuhan lembut di punggungnya, Jessica membuka matanya. Ia mendapati Yoona tengah berdiri di sampingnya.
“Istirahatlah!!” ucap Yoona lembut.
“Aku baru saja istirahat, Yoong.”
“Istirahat di rumah maksudku, eonni.. Kau belum pulang ke rumah selama dua minggu ini.”
“Aku harus selalu ada di sisinya, Yoong. Lagipula kau selalu datang kesini dan membawakan baju ganti untukku.”
Yoona menghela nafas. “Hahh, kau tak pernah mendengarkanku.” Yoona sadar sekeras apapun ia membujuk Jessica ia tak akan mau mendengarkannya.
“Dimana Seohyun?” Jessica mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Hari ini ia ada jadwal pemotretan hingga malam. Kurasa ia tak bisa datang ke sini.” Ujar Yoona yang kini sudah mendaratkan tubuhnya di sofa empuk yang berada sudut kamar itu.
Ya, sejak hari keempat Yuri berada di kamar rawat itu Yoona menawarkan pekerjaan untuk Seohyun. ia menawarkan Seohyun untuk menjadi model produk yang akan segera diluncurkan oleh perusahaannya. Dan semenjak itu karir Seohyun sebagai seorang model mulai membaik dan terus bersinar.
***
“Sooyeon-ah?”
Pandangan Yuri masih terasa kabur karena matanya hanya terbuka setengah, ia merasa terkejut dan sedikit bingung mendapati Jessica tengah tertidur sambil menggenggam tangan kirinya. Yuri juga merasa heran karena mendapati dirinya bangun bukan di kamarnya melainkan di sebuah kamar rawat rumah sakit. Tetapi dari semua kebingungannya itu, keberadaan Jessica lah yang membuatnya semakin tidak mengerti apa yang tengah terjadi.
Bukankah tidak masuk akal jika seseorang yang tidak peduli padamu datang dan bahkan menjagamu di rumah sakit?
“Yuri-ah….”
Jessica pun sebenarnya merasa sedikit takut dengan apa yang akan terjadi ketika Yuri sadar. Dia tidak akan sanggup mendapati Yuri melihatnya dengan tatapan yang sama saat dirinya mencium Yoona saat itu. tatapan penuh luka dan kekecewaan. Jessica tidak bisa menerima jika Yuri begitu membencinya.
Kini Yuri tengah duduk di ranjang rumah sakit itu setelah menghabiskan satu porsi besar makanan rumah sakit. Koma selama dua minggu lebih membuatnya merasa sangat lapar. Kini ia kembali memikirkan hal yang sejak ia tersadar dari koma-nya selalu menyita fikirkannya. Dia tidak mengerti mengapa Jessica berada di sana, saat pertama kali ia membuka matanya. Dan mungkin Jessica sudah berada di sana sebelum ia siuman.
Bukankah Jessica sendiri yang mengatakan kepadanya agar ia melupakan gadis berambut blonde itu? lalu mengapa Jessica ada di kamar rawatnya? Setelah semua yang telah terjadi dengan hubungan mereka. Bukankah keberadaan Jessica sekarang hanya membuat Yuri semakin merasa tersakiti?
Yuri memandang Jessica yang tengah duduk di sofa.
“Apa yang kau lakukan di sini?” suara Yuri terdengar dingin. Yuri berfikir bahwa Jessica hanya mempermainkannya sejak awal. Sejak awal Jessica tak pernah mencintainya.
Jessica terdiam. Sejak awal ia tahu, Yuri akan bersikap seperti ini ketika pertama kali melihatnya ada di sana. Ia adalah orang yang membuat Yuri seperti ini. Dengan sedikit keraguan dalam setiap langkahnya, ia berjalan mendekati ranjang Yuri.
Jessica menggenggam tangan Yuri. “Mianhae… Jeongmal mianhae..” Ia menundukkan kepalanya.
“Aku bertanya apa yang kau lakukan di sini. Aku tak pernah menyuruhmu untuk meminta maaf kepadaku.” Yuri mencoba melepaskan genggaman tangan Jessica namun gadis berambut pirang itu malah semakin mempererat genggamannya.
“Kumohon… Maafkan aku. Aku adalah gadis terbodoh yang ada di dunia ini. aku membohongi diriku sendiri dan orang yang aku cintai.” Kristal bening mulai bercucuran dari sudut mata indah Jessica.
Yuri terdiam. Bukankah seharusnya ia membenci gadis ini? Gadis yang meninggalkannya sendiri? Gadis yang menghancurkan semua impian mereka? Namun tak dapat dipungkiri, gadis ini adalah satu-satunya yang ia cintai. Satu-satunya yang dapat mengisi kekosongan hatinya. Satu-satunya yang dapat menyembuhkan luka hatinya.
“Uljima…” sejak dulu Yuri memang tidak pernah sanggup melihat Jessica menangis. Hal ini pun tak berubah bahkan hingga sekarang.
“Tentang Yoona… Aku tak pernah benar-benar mencintainya. Aku menikah dengannya karena perjodohan. Dan ciuman itu.. ciuman itu tak berarti apa-apa untukku.” Jessica terisak, membuat kata-katanya tersendat.
“Apa yang sebenarnya ingin kau katakan?” Yuri bertanya dalam kebingungan.
Jessica melepaskan genggamannya pada tangan kiri Yuri lalu memejamkan matanya dan menarik nafas dalam.
“Aku masih mencintaimu. Aku tak pernah sekalipun melupakanmu. Aku tak benar-benar ingin kau melupakanku.“
Hening… Jessica menunggu beberapa saat sebelum ia membuka matanya secara perlahan. dan hal pertama yang ia lihat adalah senyuman lebar dari Yuri. Dan beberapa saat kemudian ia merasakan tangan kiri Yuri berada di pinggangnya, menariknya ke dalam sebuah pelukan.
Yuri mulai tertawa. Ia bahkan tidak benar-benar tahu mengapa ia tertawa. Ia terus tertawa sambil tetap memeluk Jessica bahkan lebih erat. Ia bahkan tak menghiraukan tangan kanannya yang dibalut gips harus terhimpit di tengah pelukan mereka.
“Mengapa kau malah tertawa? Kukira kau akan marah padaku.” Jessica merasa bingung dengan tingkah gadis berkulit kecokelatan itu.
“Aku menertawakan diriku sendiri.” Yuri masih terus tertawa. “Jadi, aku harus mengalami kecelakaan dan tangan kananku harus patah terlebih dahulu untuk membuatmu kembali kepadaku?”
Jessica memukul pelan punggung Yuri. “Aku tak suka kau mengatakan itu… aku benar-benar mengkhawatirkanmu..” ia hampir menangis lagi.
“Hey… Maafkan aku… Aku tak bermaksud seperti itu.. Jangan menangis lagi, Sooyeon-ah..”
“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu kepadamu…”
“Nyatanya memang sudah terjadi sesuatu kepadaku.” Yuri melepaskan pelukannya. “Kau lihat, tangan kananku patah.” Yuri mengerucutkan bibirnya.
“Maafkan aku… Harusnya aku tidak mencium Yoona saat itu.”
“Sudahlah… Aku tidak mau membahas itu lagi.”
“Jadi kau sudah memaafkanku?”
“Kurasa aku bisa memaafkanmu.” Yuri mengelus pelan pipi Jessica. “Jika aku mendapatkan sebuah ciuman tentunya.”
Perkataan Yuri sukses membuat wajah Jessica bersemu merah.
Dengan malu-malu Jessica mencondongkan tubuhnya, menutup jarak diantara mereka dengan mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir Yuri.
“Hanya itu yang aku dapatkan?” Yuri berpura-pura kecewa saat Jessica menarik diri.
“Aku tidak mau mengambil resiko, bagaimana jika ada yang memergoki kita?”
Jessica benar. Mereka memang sedang berada di rumah sakit, dimana mungkin saja akan ada perawat atau mungkin Yoona dan Seohyun yang masuk ke dalam kapan saja. Tetapi sebenarnya bukan hanya itu alasan Jessica yang hanya memberikan sebuah kecupan singkat untuk Yuri. alasan sebenarnya adalah ia tidak mau terlalu memaksakan keadaaan. Sekarang, ia sudah kembali bersama dengan Yuri saja sudah cukup untuknya.
“Jadi, kita akan memulai semuanya lagi dari awal? Tak akan ada rahasia ataupun kebohongan lagi kali ini?” Yuri menggenggam lembut tangan Jessica.
Mereka saling beradu pandang. Lalu saling melemparkan senyum.
“Aku mencintaimu…” ujar mereka berbarengan.
Sementara itu di luar kamar rawat 125 tengah berdiri seorang gadis. Ia melihat semua kejadian yang terjadi di dalam kamar rawat itu. ia menghela nafas dalam.
“Kalian memang pantas bahagia.” Gumam gadis itu sambil berjalan menjauh dari sana
.
.
.
FIN
……….
……..
…….
……
…..
….

..
.

-EPILOG-
Yuri tengah berdiri di altar. Ia mengenakan setelan berwarna putih, rambutnya diikat kebelakang. Ia terlihat begitu tampan sekaligus cantik disaat yang bersamaan. Jantungnya berdetak tak karuan sejak ia berdiri di sana. Menunggu pengantinnya yang akan segera datang.
Krieettt…
Pintu gereja itu terbuka secara perlahan. menampilkan seorang gadis cantik berambut pirang. Gaun putih yang sangat pas pada tubuh rampingnya membuatnya benar-benar menawan. Semua tamu undangan terlihat begitu terpesona akan kedatangan Jessica.
Yuri menatap Jessica yang berjalan pelan menuju altar ditemani oleh ayahnya. Senyum tak pernah absen dari wajah Yuri maupun Jessica.
“Kwon Yuri, Apakah kau bersedia untuk mencintai Jung Sooyeon saat senang maupun sedih, sehat maupun sakit, bahkan hingga maut memisahkan kalian?”
“Ya, saya bersedia..” Yuri menjawab mantap.
“Dan sekarang, Jung Sooyeon, Apakah kau bersedia menerima kelebihan maupun kekurangan serta mencintai Kwon Yuri saat senang maupun sedih, sehat maupun sakit, bahkan hingga maut memisahkan kalian?”
Jessica menatap gadis di depannya lalu tersenyum bahagia. “Ya, saya bersedia…”
Setelah mengucapkan janji suci mereka, sang pastur mempersilahkan kedua mempelai untuk berbagi ciuman.
Yuri mengelus pelan pipi Jessica dan dengan perlahan memperdekat jarak mereka. Ia menutup jarak diantara mereka dengan mendaratkan sebuah ciuman lembut. Ciuman itu tak berlangsung lama.
“Lemparkan bunganya, Jessi..” ujar salah satu tamu yang duduk paling depan yang ternyata tak lain dan tak bukan adalah Tiffany.
Jessica hanya tersenyum mendengar perkataan sahabatnya itu. ia berbalik dan siap untuk melempar buket bunga yang ia pegang. Sementara di belakangnya para gadis yang belum menikah berdesakkan agar bisa mendapatkan buket itu.
Jessica melemparkan buket itu cukup jauh. Dan tanpa diduga buket itu jatuh di tangan seorang gadis cantik yang mengenakan gaun berwarna biru muda. Membuat gadis lain yang sudah bersiap untuk mendapatkan itu mengeluh kecewa.
“Hahhh… Kukira aku akan mendapatkan buket itu. kurasa Taeyeon memang belum siap untuk berkomitmen.” Gumam Tiffany.
“Kalian harus segera menyusul.” Yuri menepuk pelan gadis bermata rusa yang berdiri di samping sang gadis penerima buket.
Wajah sang gadis bergaun biru muda penerima buket yang ternyata adalah Seohyun itu bersemu merah mendengar perkataan Yuri.
Seohyun menatap gadis bermata rusa di sampingnya yang terlihat gugup.
“Ada apa, Yoong?”
Yoona berlutut di depan Seohyun lalu mengeluarkan sebuah kotak dari saku blazer-nya yang berwarna senada dengan gaun Seohyun.
“Do you wanna be my wife?”
………
…….
……
……
…..
….

..
.
THE END

Hai….. Apa kabar semua?
Oke gue hiatus cukup lama yak… wkwkwk….
Maklum.. kemaren2 gue sibuk pake banget. Dan sekarang sih udah agak lengang nih waktu gue.. udeh selesei sidang soalnya. Tinggal revisi aja dikit…. Hihihihi (malah curhat)..
Maaf banget yak… hiihihii… well… gue agak susah bikin ending sebuah cerita.. ya jadilah begini… How do you think?
Trus buat yang nunggu ff kryber… sori yak.. gue belum bisa apdet itu… hihihi
Leave a comment!!! ^.^

Secret Love 3

Title : Secret Love
Author : llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo
Genre : Shojou Ai (Girl x Girl)
Rated : T ( belum kuat buat yang M ^_^)
Cast : Amber J. Liu, Krystal Jung, Bae Suzy, Choi Sulli, Jessica Jung and Kwon Yuri

Hope you like it and…
Happy reading.. ^,^

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY
Don’t Like Don’t Read
Typo dan EYD bertebaran

Chapter 3

Krystal POV
Kami melanjutkan makan malam tanpa kehadiran Amber. ia pergi begitu saja, membuatku khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kini Yuri dan Sica eonni kembali memamerkan kemesraan mereka. Yang benar saja! Aku bisa benar-benar gila jika terus berada di dekat kedua sejoli ini.
Aku kehilangan nafsu makanku. Aku hanya mengaduk-aduk makanan yang tersaji di depanku. Aku mengambil tabletku, berharap Amber mengirimiku pesan. Dan ternyata tak ada satupun pesan dari llama menyebalkan itu. hanya ada beberapa pesan dari JinRi. dia ini…. sudah kukatakan bahwa aku sudah memiliki kekasih, tetapi dia tidak juga mau percaya dan terus saja menggangguku. Aku menaruh kembali tabletku di atas meja. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini?
“Apa yang sedang kau fikirkan, Soojungie?” suara Sica eonni menyadarkanku. Hey? Mereka masih menyadari keberadaanku? Kukira mereka sudah melupakan keberadaanku. -_-
“Kau tidak suka dengan makanannya. Soojung-ah?” Yuri eonni menatapku khawatir.
“Bukan begitu… Hanya saja tiba-tiba aku tidak merasa lapar lagi, eonni!” Bisakah kita pulang sekarang?”
Sica eonni terlihat agak kecewa. Dia pasti ingin berlama-lama dengan Yuri eonni. Benar, siapapun pasti ingin berlama-lama dengan kekasihnya. Begitu juga aku……
“Aku akan menelpon Park Ahjussi untuk menjemputku. Kalian berdua bisa pulang bersama.”
Kulihat mereka saling menatap.
“Kalian tidak perlu khawatir!” Aku tersenyum, mencoba meyakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja.
End of Krystal POV
***
“Apa yang kau lakukan di sini, Nona Bae?”
“Apa urusanmu, Nona Choi?” Suzy berpura-pura menatap sinis yeoja jangkung di depannya itu.
“Kau tak perlu sesinis itu kepadaku, Suzy-ah.” Sulli mengelus pelan puncak kepala Suzy.
“Yah!!! Kau membuat rambutku berantakan!” Suzy memukul pelan lengan yeoja jangkung di depannya. Lalu mengerucutkan bibirnya.
“Hahahahah… Kau dan Soojung memiliki beberapa kemiripan!”
“Jangan samakan aku dengan yeoja dingin itu!” Suzy menyilangkan tangannya di dada.
“Hei, kau harus bercermin sebelum mengatai seseorang!”
“Kau saja yang terlalu membanggakannya. Dia tak sesempurna bayanganmu, JinRi-ah!”
“Tidak seorangpun di dunia ini yang sempurna, Suzy-ah.”
“Aishhh, Jinjja!!! Kau benar-benar telah dibutakan oleh cinta!” Suzy memukul pelan kepala yeoja jangkung nan imut itu. “ Kau bahkan lebih membela orang lain daripada Sahabatmu sendiri!” cibir Suzy.
“Hahahahah… Apa kau cemburu?” Sulli mengelus-elus kepalanya yang baru saja mendapatkan hadiah dari Suzy.
“Aku? Cemburu padamu? Apa kau sudah gila?”
“Hahahaha… Kita sudah bersama sejak kecil jadi mungkin saja kau menyimpan perasaan kepadaku.” Sulli menaik-naikkan sebelah alisnya.
“Benar, aku memang menyimpan perasaan kepadamu! Perasaan dendam lebih tepatnya!”
Sulli mengerucutkan bibirnya. “Kau benar-benar jahat!”
“Aishhh, jinjja… Kau membuang waktuku yang berharga! Aku harus segera pergi!”
“Hei, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di hotel keluargaku?”
***
Amber turun dari mobil dan segera memasuki hotel Z. seorang pria berjas hitam menghampirinya dan membawanya ke sebuah ruangan yang sepertinya sudah di booking oleh daddy-nya. Amber mengerutkan dahinya setelah melihat siapa yang ada disana. Ia melihat daddy-nya dan juga seorang pria yang terlihat seumuran dengan daddy-nya, serta seorang wanita yang bisa diperkirakan sebagai istri pria itu melihat bagaimana mereka saling berinteraksi.
“Beri salam!!! Titah Tuan Liu.
Amber membungkukkan badannya.
“Wah, kau benar-benar tumbuh menjadi anak yang tampan, Amber-ah.” Puji wanita paruh baya itu.
Amber hanya tersenyum canggung.
“Dad, Ada apa sebenarnya?” amber berbisik kepada pria paruh baya di sampingnya.
Tuan Liu tersenyum. “Tunggulah hingga pemeran utamanya telah berkumpul semua.”

Amber POV
Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Pria tua ini. Aku benar-benar gelisah. Aku mengambil tabletku. Ada beberapa pesan masuk.
From : My Princess
Apa yang terjadi? Mengapa kau belum mengirimiku sms?

From : My Princess
Hey, llama… Cepat kabari aku!

Aku tersenyum melihat pesan darinya.
Sebelum aku sempat membalas pesan darinya, aku mendengar suara pintu dibuka. Refleks aku menoleh.
Dia?
Apa yang dia lakukan disini?
“Maaf aku datang terlambat!” yeoja itu membungkukkan badannya beberapa kali.
“Ahahahah.. tidak apa-apa. Lagipula kita tidak akan memulai acara ini tanpa kau!” ucap daddy dengan riang.
End of Amber POV
***
“Apa yang terjadi kemarin? Mengapa kau tidak membalas pesan ataupun panggilan dariku?” Krystal menatap Amber yang kini tengah memejamkan matanya dan merebahkan kepalanya di pangkuannya.
“Hmm…” Amber berdeham sebelum melanjutkan kata-katanya. “Ada banyak hal yang terjadi kemarin, baby.”
“So? Mind to tell me?” Amber yang kini sudah membuka matanya lalu menatap dalam ke mata indah Krystal yang berwana hitam. Mata yang selalu sukses membuatnya tenggelam di dalamnya.
Dalam beberapa saat, Amber masih terdiam. Ia bimbang apakah harus mengatakan kepada Krystal mengenai kejadian kemarin ataukah lebih baik jika Krystal tidak mengetahuinya terlebih dahulu. Ia sadar bahwa pada akhirnya Krystal juga akan mengetahuinya. Namun ia belum siap mengatakannya sekarang.
“Chagi? Mengapa kau hanya menatapku? Ceritakanlah!” Krystal merapihkan anak-anak rambut Amber yang agak sedikit berantakan.
Tanpa aba-aba Amber meraih tengkuk Krystal lalu menyatukan bibir mereka. Awalnya Krystal merasa kaget namun akhirnya ia menyerah juga, ia juga merindukan kekasihnya ini.
“Emmm.. Mungkin tidak sekarang, baby.” Ujar Amber setelah melepaskan ciuman mereka.
“Yah!!! Aku memintamu menceritakannya sekarang, lalu mengapa kau malah menciumku!” Krystal hendak memukul kepala Amber namun dengan cepat Amber menahan tangan Krystal.
“Tapi kurasa tadi kau menikmati ciuman itu.” Amber mengerling nakal.
“Yah!!!” Krystal berdiri secara tiba-tiba sehingga membuat Amber yang tengah merebahkan kepalanya pada pangkuan Krystal sukses mencium lantai.
“Auchh… Appo…” Amber mengelus-elus bagian belakang kepalanya yang baru saja mencium dinginnya lantai atap sekolah mereka. “Kurasa aku akan kehilangan ketampananku jika aku terus menjadi kekasihmu, nona Jung.”
“Kalau begitu berhentilah menjadi kekasihku.” Jawab Krystal angkuh. Ia menyilangkan tangannya di depan dada.
“Can I? hahahahaha”
Krystal menatap sadis Amber. Ia menghentakkan kakinya karena merasa kesal dengan kelakuan kekasihnya itu. Ketika Krystal hendak meninggalkan Amber, yeoja tampan itu memelukknya dari belakang.
“Percayalah padaku, Aku hanya mencintaimu. Apa pun yang terjadi.” Amber membenamkan wajahnya pada ceruk leher putih Krystal. Ia dapat menghirup aroma cherry blossom dari tubuh kekasihnya. Aroma kesukaannya.
Krystal terdiam. Selain karena menikmati pelukan itu, tapi Krystal juga sedang berfikir. Ada yang mengganjal dari pernyataan dan sikap Amber itu. Meskipun selama ini Amber sering mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu tetapi kali ini terasa sangat berbeda.
***
Krystal POV
Aku menyanggah daguku dengan tangan kananku. Memutar-mutar bolpoint yang sejak tadi belum aku buka penutupnya. Buku tuliskupun masih kosong. Tak ada satupun penjelasan dari Han Songsaengnim yang masuk ke dalam otakku.
Dari tadi aku hanya memikirkan Amber. Ada yang aneh dengan sikap Amber saat di atap. Aku tak menyalahkannya jika ia belum siap mengatakan apa yang terjadi kemarin. Hanya saja perasaanku mengatakan bahwa akan ada hal buruk yang terjadi pada kami. Entahlah, kuharap itu hanya perasaanku saja.
Tuk
Sebuah kertas merah muda mendarat di mejaku. Aku memandang sekeliling, mencari siapa pelaku pelemparan kertas ini. Aku menghela nafas melihat sesosok yeoja jangkung yang duduk di samping Amber. JinRi… Apa maunya kali ini? Ia mengisyaratkan untuk membuka gumpalan kertas merah muda itu.
“I Love you, Please be mine~”
Sudah kuduga, ia pasti menuliskan kalimat seperti itu. Aku menoleh ke belakang. Sekilas pandanganku dan Amber bertemu. Ia bertanya dalam diam.
Tuk
Sebuah kertas merah muda lain mendarat di mejaku lagi.
“Jawablah…”
Aku membuka tutup pulpenku.
“Berhentilah.. “ aku menulis kalimat itu di bawah tulisannya.
Hup… Aku melempar kertas itu ke belakang.
“Ehem… Nona Jung dan Nona Choi? Apa yang sedang kalian lakukan?” suara berat Han Songsaengnim mengagetkanku. “Jika kalian sebegitu tidak tertariknya dengan mata pelajaranku, kalian bisa berdiri di luar.”
Sial… Ini semua karena yeoja itu.
Aku berjalan lunglai menuju pintu diikuti oleh yeoja itu. kulirik ia sekilas, tak tampak perasaan bersalah sama sekali di wajahnya. Ia malah tersenyum.
Haaaahhhh… hari ini benar-benar bukan hariku.
Kini kami sudah berdiri di luar kelas. Aku menatap dingin yeoja yang selama ini selalu berusaha mendekatiku. Aku tak mengerti mengapa ia begitu gigih meski telah beberapa kali aku tolak. Dia benar-benar merepotkan.
“So, Soojung-ah.. is it Yes or No?”
“Absolutely NO..”
“Khhhaaaahhh… Aku bingung mengapa kau selalu menolakku… Padahal aku ini kan sangat imut.” Ia mengerucutkan bibirnya. Err… Kuakui ia memang imut. “Katakan padaku apa alasanmu?” ia memegang pundakku memaksaku menatap bola matanya.
“……..”
“Kenapa kau hanya diam? Katakanlah! Apa aku kurang imut? Aku kurang tinggi?” oh god… yeoja ini benar-benar merepotkan…
“Berhentilah mengejarku…”
“Dan jika tidak, apa yang akan terjadi padaku?” ia menaikkan sebelah alisnya.
“Aku mencintai orang lain, jadi bisakah kau berhenti menggangguku?”
Ia terdiam… pegangannya pada pundakku melemah dan akhirnya ia melepaskan pegangannya pada pundakku.
End of Krystal POV
***
“Nona, seseorang menitipkan amplop ini kepada saya..”
“Siapa yang menitipkannya, ahjussi?” Krystal mengambil selembar Amplop yang diberikan oleh supirnya atau lebih sering ia panggil Kim ahjussi.
Lelaki paruh baya itu mencoba mengingat siapa yang menitipkan surat itu. “Saya fikir ia adalah teman sekolah anda, nona. Ia memakai seragam yang sama dengan anda.”
“Ah…” Krystal hanya menggangguk dan membolak balikkan amplop itu. berharap ada petunjuk tentang siapa pengirimnya. Namun nihil.. ia tak menemukan petunjuk apa-apa.
Dengan penasaran ia membuka amplop itu.
Deg…
Tangan yeoja cantik itu gemetar melihat apa yang ada di amplop itu.
“Ah-ju-ssi… Apa kau yakin jika dia adalah murid sekolah ini juga?
……..
…….
……
…..
….

..
.
T B C

Hai readersdeul tercintah~
Miss me????? Hahahahah….
Sorry baru bisa post SL dulu… buat GBF ato 7YoL-nya nyusul yak… hihihii…
Okey…. Pokoknya jangan lupa komen… karena komen kalian tuh obat paling mujarab saat gue lagi males nulis… wkwkwkwk…
See ya~

 

7 Years of Love (Sequel part 1)

Title : 7 Years of Love (Sequel part 1)

Author : llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo

Genre : Shojou Ai (Girl x Girl), drama

Cast : Kwon Yuri, Jessica Jung, Im Yoona and Seo JooHyun

 

Hope you like it and…

Happy reading.. ^,^

 

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY

Don’t Like Don’t Read

Typo dan EYD bertebaran

 

 

-PLEASE COMEBACK TO ME-

 

Dalam benakku masih tertanam sejuta bayanganmu..

Redup terasa cahaya hati ini mengingat apa yang telah kau lakukan kepadaku…

Waktu berjalan begitu lambat mengiringi takdir hidupku..

Cukup lama aku tertahan dalam persimpangan masa silam..

Mencoba untuk melawan getir yang terus kukecap..

Mencoba untuk singkirkan aroma nafas tubuhmu yang mengalir mengisi laju darahku..

Semua tak sama.. tak pernah sama..

Apa yang ku sentuh.. apa yang ku kecup..

Sehangat pelukmu.. selembut belaimu..

Tak ada satupun yang mampu menjadi sepertimu..

Apalah arti hidupku ini? mengapa semua terasa sepi?

Segalanya luluh lemah tak bertumpu, hanya bersandar pada dirimu..

Tak bisa.. sungguh tak bisa…

Mengganti dirimu dengan dirinya…

.

.

.

.

.

.

.

.

Jessica duduk di ranjang dengan sprai putih yang sudah ditaburi kelopak bunga mawar merah diatasnya. Ia masih menggunakan gaun pengantinnya. Menatap kosong ke arah jendela.

Cklek..

Pintu kamar itu terbuka. Menampilkan sesosok yeoja berwajah malaikat yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya itu. Im Yoona, ia juga masih mengenakan setelan putih yang membuatnya terlihat tampan meskipun sebenarnya ia adalah seorang yeoja.

Yoona membuka jas putihnya. Meletakkannya di sofa dan kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa putih di sudut kamar.

“Ternyata ini melelahkan juga….” Yoona memecahkan keheningan yang tercipta di ruangan itu.

Tak ada jawaban dari Jessica. Ia masih menatap kosong ke arah jendela.

“B-baiklah… ini sudah cukup malam dan kau pasti kelelahan, eonni. Aku akan tidur di kamar sebelah. Jaljayo.”

“Bukankah sekarang aku sudah menjadi istrimu?” belum sempat Yoona membuka knop pintu, ia terhenti karena perkataan Jessica. “Mengapa kau harus tidur di kamar lain?”

“Kufikir kau…”

Jessica tiba-tiba memeluk yeoja yang lebih tinggi darinya itu.

 

#Di tempat lain#

Eonni… Kau sudah terlalu banyak minum. Ayo kita pulang sekarang!” teriak yeoja berwajah polos yang duduk disamping yeoja berkulit kecoklatan yang masih terus meneguk gelas demi gelas berisi minuman beralkohol itu.

“Aku belum mabuk, Sooyeon-ah. Aku… aku belum mabuk.”

“Kau bilang kau belum mabuk? Kau bahkan salah mengenaliku, eonni. Aku Joohyun. Bukan Sooyeon eonni.” Batin yeoja berwajah polos yang sejak tadi setia menemani yeoja berkulit kecoklatan itu yang sekarang sudah benar-benar mabuk berat.

Merasa kesal dengan kelakuan yeoja berkulit kecoklatan itu, Seohyun menarik paksa Yuri untuk keluar dari klub malam itu.

“Mengapa kau menyiksa dirimu seperti ini, eonni? Aku benci melihatmu seperti ini.” Seohyun memapah Yuri yang kini masih bergumam tidak jelas.

“Kau yang menyiksaku, Sooyeon-ah. Kau jahat Jessica Jung Sooyeon. Aku harusnya membencimu. Tapi.. kenapa aku bahkan tidak bisa melupakanmu?” Yuri berteriak dengan gaya khas orang mabuk.

Eonni…”

“Lihat aku, Sooyeon-ah. Apa kau benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi, huh?” Yuri yang sudah mabuk berat memegang pundak Seohyun dan membuat mereka saling berhadapan.

Chuuu

Yuri mencium Seohyun dengan kasar. Ciuman yang basah. Basah karena air mata kedua yeoja itu.

Plakkk

Seohyun menampar pipi Yuri setelah ia melepaskan ciuman mereka. Membuat yeoja berkulit kecoklatan itu kehilangan keseimbangan dan tersungkur.

“Kau benar-benar menyedihkan, eonni.”

***

Jessica POV

Ketukan pintu membuatku terpaksa bangun dari tidur lelapku. Sebenarnya mataku masih terasa amat berat untuk dibuka.

“Nona, Tuan dan Nyonya sudah menunggu untuk sarapan bersama.” Suara pelayan Kim terdengar dari balik pintu kamar ini.

Aku bangkit dari tempat tidur dan mendapati Yoona tertidur di sofa. Ia terlihat sangat menikmati mimpinya, terbukti karena ia tak bergeming mendengar suara pelayan Kim.

Aku membuka knop pintu.

“Yoong masih tertidur, aku akan membangunkannya. Setelah itu kami akan segera kebawah.” Aku berbisik pelan kepada pelayan yang sudah cukup berumur itu. Ia menganggukkan kepalanya dan berlalu dari hadapanku.

Aku menghampiri Yoona. Menepuk pelan pundaknya .

“Yoong, Ireona~”

Ia membuka matanya lalu menyunggingkan sebuah senyuman.

Good morning, eonni.” Ia bangkit dan duduk untuk meregangkan tubuhnya.

“Woah… Pengantin baru memang selalu bangun terlambat sehabis malam pertama.” Tuan Im atau sekarang harus ku panggil Appa menyeringai, ia meletakkan Koran yang tengah ia baca.

Kulihat wajah Yoona merona merah.

“Apa malam pertama kalian menyenangkan anak-anak?” kali ini giliran ibu mertuaku yang ikut bersuara.

“Yah!!! Appa! Eomma!” Yoona mengerucutkan bibirnya. “ Kapan kita mulai sarapannya jika kalian terus bertanya?”

Yoona menarikkan kursi untukku. Kami duduk bersebelahan.

“Apa Yoona melakukannya dengan kasar? Kau terlihat sangat lelah dan matamu juga sembab.”

A-ani.” Aku menundukkan kepalaku.

“Yah!! Eomma…. Kumohon jangan menanyakan hal semacam itu lagi kepada kami!”

Berbicara tentang malam pertama.. malam pertamaku dan Yoona dipenuhi dengan air mata dan isak tangisku. Jika kalian berfikir kami melakukan “itu” maka kalian salah. Bukan, bukan karena itu aku menangis. Sekarang aku merasa bersalah kepadanya. Sungguh, ia benar-benar yeoja yang baik. Bahkan ia tak marah sama sekali setelah aku mengungkapkan seluruh isi hatiku.

Flashback

Mianhae, Yoong. Aku.. Aku tidak bisa melakukannya sekarang.” Jessica semakin mempererat pelukannya pada Yoona. Air matanya sudah membasahi kemeja putih yang dikenakan Yoona.

Yoona hanya bisa memeluk balik Jessica dan mengelus punggungnya, mencoba menenangkan yeoja berambut blonde itu.

Gwaenchana…. Aku juga tidak akan memaksamu, eonni.” Yoona mempererat dekapannya.

“Aku…Aku masih mencintainya. Aku sudah berusaha untuk melupakannya dengan meninggalkannya dan mengabaikannya. Berpura-pura sudah tidak mencintainya. Tetapi itu semua tidak juga membuatku berhenti mencintainya. Hatiku benar-benar terasa kosong tanpanya di sisiku. Kau tahu Yoong? Nafasku tercekat ketika memberikan undangan pernikahan kita kepadanya. Ia terlihat sangat terluka, begitupun aku sebenarnya. Puncak penderitaanku ketika ia datang ke pernikahan kita , meski aku mencoba berpura-pura tegar didepannya, berpura-pura tersenyum bahagia didepannya, tetapi sesungguhnya akupun merasa sakit. Aku mungkin bisa membohonginya tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri. Aku… Aku benar-benar membutuhkannya, Yoong. Eottokhae? Eottokhae?” Jessica masih menangis dalam dekapan Yoona, menumpahkan seluruh isi hatinya yang selama ini ia pendam sendiri.

Flashback end

Setelah sarapan pertama bersama keluarga baruku. Aku dan Yoona bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sebenarnya appa menawarkan untuk mengambil cuti dan pergi berbulan madu, tetapi aku dan Yoona menolaknya. Kami lebih memilih untuk tetap bekerja.

“Nanti kita makan siang bersama, ne?” ucap Yoona sambil memakaikanku seat belt. Sungguh, dia benar-benar yeoja yang sangat baik.

“Tapi sepertinya akan ada banyak hal yang harus ku kerjakan, Yoong. Nanti kau makan siang saja duluan.”

“Kau tidak boleh telat makan, eonni. Kalau kau sakit pasti aku juga yang akan repot.” Ia memandangku sejenak dan memasang wajah khawatir.

Gwaenchana, Yoong. Aku akan baik-baik saja.”

End of Jessica POV

***

Eonni, Ireona~” Seohyun mengguncang pelan tubuh yeoja berkulit kecoklatan yang masih tertidur setelah semalam ia mabuk berat. “Aishhh.. Jinja…”

Yeoja berkulit kecoklatan itu menggeliat di tempat tidur dan malah menarik Seohyun, membuat yeoja penyuka Keroro itu terjatuh ke pelukannya.

“Aku masih mengantuk, Sicababy.” Setengah sadar Yuri menggumamkan kata-katanya.

Eonni…. Aku Joohyun….”

Yuri membuka matanya. Menatap yeoja dipelukannya.

“Joohyun-ah….” Suara yuri terdengar serak.

Eonni… Kau harus bisa melupakan Sooyeon eonni.. Dia sudah menjadi milik orang lain.” Seohyun menatap sendu yeoja yang lebih tua darinya itu.

“Aku…. Aku tidak bisa, Joohyun-ah…” Yuri kembali menitikan air matanya untuk yang kesekian kalinya. “Aku sudah berusaha tapi aku… Aku…”

Gwaenchana. Eonni… Pelan-pelan saja.” Seohyun memeluk Yuri, menenangkan yeoja berkulit kecoklatan itu seperti yang biasa ia lakukan.

 

Yuri POV

Setelah Seohyun menenangkanku, perasaanku agak lebih tenang sekarang. Tetapi kepalaku masih terasa pusing, ini pasti sisa mabuk semalam. Sebenarnya aku tidak ingin berangkat kerja. Sungguh, aku benar-benar berantakan sekarang ini. Kalau bukan Seohyun yang memaksaku, aku mungkin akan mengurung diriku lagi seharian.

Aku berjalan ke ruang makan, kulihat Seohyun sudah menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan kami. Ia tersenyum melihatku.

“Kau harus makan yang banyak, eonni. Kau terlihat sangat kurus.”

“Aku tidak lapar, Joohyun-ah.”

“Ya!!! Kau bahkan belum makan apa-apa sejak pulang dari pesta pernikahan Sooyeon eonni.” Seohyun menepuk pelan tanganku. Ia terlihat sangat khawatir.

Arra… Arra… aku akan makan.”

Seohyun memang yeoja yang baik. Tapi entah mengapa aku tidak bisa mencintainya seperti mencintai Jessica. Aku benar-benar tidak bisa menggantikan Jessica dengan yeoja manapun.

“Aku akan pulang terlambat, Joohyun-ah. Kau tak usah menungguku, arraseo?”

“Aku akan ikut denganmu, eonni. Sekarang ini kau benar-benar membuatku khawatir.”

“Tidak perlu.. aku akan baik-baik saja.” Aku berusaha menampilkan senyuman terbaikku.

“Tidak… Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Apanya yang akan baik-baik saja jika nanti kau akan ke klub malam itu lagi untuk minum.”

Hey, dari mana ia tahu bahwa aku akan kesana lagi? apa sekarang dia bisa membaca pikiranku?

“Kau itu sangat mudah ditebak, eonni.”

End of Yuri POV

***

Flashback

“Sooyeon-ah. Kau harus melakukannya. Ini untuk kebaikan kita semua.”

“Aku tidak bisa, appa. Aku mencintai orang lain. Aku tidak bisa menikah dengan orang itu.” Jessica menahan air matanya.

“Sooyeon-ah… appa mohon.. Jika pernikahan itu tidak terlaksana mungkin Jung Corp. akan bangkrut.”

Appa… Aku…” yeoja berambut blonde itu tak bisa lagi membendung air matanya.

Seobang. Jika suatu saat nanti aku meninggalkanmu apa yang akan kau lakukan?” ucap Jessica yang tengah berbaring di pangkuan Yuri.

Yuri yang sedari tadi mengelus kepala Jessica menghentikan aktifitasnya. “Apa yang kau katakan? Aku tak mau menjawabnya.”

“Aku kan hanya bilang “Jika”. Tapi jika saat itu datang, kumohon kau berjanji padaku…”

“Aku tidak mau…”

Seobang….”

“Sudah kubilang aku tidak mau. Aku tidak akan melepaskanmu.” Yuri mengelus lembut pipi yeoja yang sangat dicintainya itu.

Mianhae, Seobang.” Batin yeoja berwajah Barbie tersebut.

Flashback end

 

Jessica POV

Aku kembali teringat tentang malam itu. malam dimana semuanya berubah. Ketika appa memintaku untuk menikahi seseorang yang bahkan belum pernah kutemui. Beliau mengatakan bahwa itu semua untuk kebaikan semuanya. Tidak.. kurasa itu hanya untuk kelangsungan perusahaan ini. malam itu adalah terakhir kalinya aku berada dipelukan Yuri. aku menangis seharian setelah memutuskan hubungan kami. Itu adalah kali kedua aku menangis seperti itu setelah sebelumnya aku kehilangan Eomma.

Suara ketukan pintu sekretarisku membuyarkan lamunanku.

Miss… ah maksudku Mrs. Im.. Ini adalah laporan keuangan kita bulan ini. silahkan diperiksa kembali.” Ia meletakkan sebuah map berisi berkas laporan keuangan yang harus ku periksa di meja kerjaku.

“Hm…”

“Apa kau baik-baik saja, Jess? Kurasa kau tidak seharusnya masuk kantor sekarang. Kau baru saja menikah, apa kau tidak ingin berbulan madu?” Sekretarisku yang satu ini memang bukan sekretaris biasa. Ia adalah temanku sejak SMA. Tiffany Hwang.

“Aku baik-baik saja, Tiff.”

“Oh yeah, aku bisa melihatnya.” Ia mencibir perkataanku. “Kau terlihat sangat lelah, Jess. Kau butuh istirahat.” Sekarang ia menatapku khawatir.

Ne… Kurasa aku memang butuh istirahat, Tiff. Aku benar-benar lelah dengan semua ini.” Aku merebahkan kepalaku di meja.

“Semalam aku melihat Yuri di salah satu klub malam. Kebetulan aku dan TaeTae sedang ada disana. Kurasa dia mabuk berat. Seorang yeoja membawanya pulang. Apa dia kekasihnya?”

Deg..

Perkataan Tiffany membuat jantungku hampir lupa caranya berdetak.

Molla….” Aku berpura-pura tidak peduli pada topik pembicaraan ini.

“Tidak seharusnya aku mengatakan ini, mianhae.”

Gwaenchana…”

“Apa aku menganggu kalian?” Yoona tiba-tiba muncul di dalam ruanganku. Entahlah, aku tak tahu kapan ia datang.

“Tidak..” ucapku dan Tiffany berbarengan.

“Ahahaha.. baguslah…”

“Sebaiknya aku pergi. Permisi.” Tiffany mengerlingkan sebelah matanya sebelum meninggalkan ruanganku.

“Ada apa Yoong?” kulihat Yoona mengelus tengkuknya. Apa dia sedang merasa gugup?

“Bukankah tadi pagi aku bilang akan makan siang bersama?” Ia terlihat gugup. Seperti Anak SMA yang akan mengajak kencan orang yang ia suka.

”Aku sudah bilang, Yoong. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.”

Mendengar jawabanku ia tampak sangat kecewa.

End of Jessica POV

***

“Joohyun-ah… Sudah kubilang aku tidak lapar.” Yuri menghela nafas karena yeoja disampingnya itu menarik paksa dirinya di tengah-tengah pemotretan.

“Kau boleh saja bekerja, tapi kau juga harus makan, eonni.”

“Aishhh… Jinjja.”

Seohyun menepikan mobil Yuri di sebuah restoran.

“Kenapa harus disini?” wajah Yuri berubah melihat dimana ia berada sekarang.

“Memangnya kenapa?” dengan wajah polosnya Seohyun menatap Yuri.

Aniya… Kita cari tempat lain saja.” Yuri menarik pelan tangan Seohyun.

“Tapi aku ingin makan disini, eonni..”

“Kenapa harus disini, Yoong?” Jessica menatap yeoja disampingnya itu dengan tatapan penuh tanya.

“Temanku bilang makanan disini enak jadi aku ingin mencobanya bersamamu, eonni.” Yoona menampilkan senyuman andalannya. Berbeda dengan Jessica yang kini terlihat murung.

***

Yuri POV

“Kau mau pesan apa, eonni?” kulihat Seohyun tengah membolak-balikan buku menu yang ada di atas meja.

“Aku tidak lapar, Joohyun-ah.”

Ia memasang wajah marahnya. Ia bangkit dari kursi dan berjalan meninggalkanku.

“Yah!!! Seo Joohyun.. Kau mau kemana?”

“Ke toilet…” Ia menjawab tanpa menoleh ke arahku. Apa dia marah?

Aku menatap ke luar jendela dan sebuah pemandangan yang tak pernah kuinginkan untuk ku lihat terpampang nyata.

Sooyeon dan yeoja itu…..

Mereka memasuki restoran yang sama denganku. Pandanganku dan Sooyeon bertemu. Tatapannya seperti… Merindukanku? Tidak… itu tidak mungkin.

Mereka berjalan medekatiku.

Annyeong, Yuri-ah.” Sooyeon menyapaku. Tangannya melingkar mesra di lengan yeoja bernama Im Yoona itu.

A-Annyeong.

Sial. mengapa mereka harus muncul disini? Apa mereka tahu bahwa kemesraan mereka perlahan-lahan membunuhku?

“Apa kau sendirian, Yuri-ah?”

“Aku bersama Joohyun.”

“Apa kami boleh bergabung?” Yoona, yeoja yang telah merebut Sooyeon-ku tersenyum ke arahku. Cih, aku benci melihat senyumannya itu.

“Jika kau keberatan kami akan cari tempat lain saja.”

“Tidak… Kalian boleh bergabung.” Bodoh… kenapa aku mengatakan itu?

Yeoja itu menarikkan kursi di depanku untuk Sooyeon-ku. Cih, aku benar-benar muak.

“Apa yang kalian lakukan disini?”

“Untuk makan siang.” Jawab mereka berbarengan.

“Bukankah kalian tidak seharusnya berada di sini? Maksudku, apa kalian tidak…… berbulan madu?” kulihat raut wajah Sooyeon berubah, seperti merasa tidak tenang.

“Masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan disini. Jadi kami memutuskan untuk menunda bulan madu kami.” Yeoja itu menjawab.

“Ohhh.” Aku tersenyum canggung.

“Ah, aku permisi ke toilet sebentar.” Yeoja itu berdiri dan mulai beranjak meninggalkanku dan Sooyeon.

End of Yuri POV

 

Jessica POV

“Apa dia sudah gila?” Aku menyipitkan mataku dan memandangnya dengan penuh tanya. ”Maksudku, dia meninggalkan istrinya bersama mantan kekasihnya. Apa dia tidak takut jika aku akan menculikmu?” aku terkekeh mendengar ucapannya.

Aku… merindukannya. Merindukan semua yang ada pada dirinya.

“Kurasa kau tak akan melakukannya, Yuri-ah.”

“Aku bisa saja melakukannya… Jika saja kau masih ingin bersamaku.”

Deg….

Apa yang harus kulakukan?

“Yuri-ah. Kau terlihat sangat kurus.” Aku mencoba mengalihkan topik pembicaraan yang mungkin saja tiba-tiba merubah pikiranku. “Apa kau makan dengan baik?”

Kulihat Ia menghela nafas sejenak. Sebelum tangan hangatnya menggenggam tanganku. Kehangatan yang sudah lama aku rindukan kini menjalar ke seluruh tubuhku meski ia hanya menggenggam tanganku.

“Apa aku benar-benar sudah tidak ada di hatimu, Sooyeon-ah?” tatapan sendunya membuat pertahananku hampir hancur.

Aku terdiam sejenak.

“Aku tau kau masih mencintaiku, Sooyeon-ah. Kau selalu datang di dalam mimpiku. Aku….”

“Yuri-ah…” akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutku.

Ia menatapku. Menunggu kalimat selanjutnya yang akan aku katakan.

Jessica POV end

***

“Aishhh… Kenapa noda ini tidak mau hilang?” Seohyun tengah membersihkan pakaiannya yang tadi secara tidak sengaja terkena tumpahan makanan yang dibawa seorang pelayan.

Cklek

Pintu toilet terbuka membuat Seohyun refleks melihat ke arah pintu. Matanya membulat melihat siapa yeoja yang baru saja masuk.

“Im Yoona? Apa yang dia lakukan disini?” batin Seohyun.

Yoona yang mungkin tidak begitu mengingat wajah Seohyun kini hanya berjalan tanpa tahu apa-apa menuju wastafel. Kini Ia berdiri di samping Seohyun.

“Apa yang kau lakukan disini, Yoona-ssi?”

Ne?” dengan wajah kebingungan Yoona menatap Seohyun. “Apa kita saling mengenal?”

“Aku Seo Joohyun, Kekasih Kwon Yuri.” dengan rasa percaya diri yang entah ia dapat dari mana itu, Seohyun mengucapkan apa yang biasanya sangat sulit untuk ia ucapkan. Kekasih seorang Kwon Yuri? tidak… itu tidak benar. Hanya dia yang mencintai Yuri. cinta bertepuk sebelah tangan?

Yoona terkejut dengan pernyataan yeoja disampingnya itu. ia mulai mengingat yeoja ini. yeoja yang datang ke acara pernikahannya bersama Yuri.

“Apa kau kesini bersama Sooyeon eonni?”

N-ne..

“Sooyeon-ah…. Kumohon.. kembalilah kepadaku.” Yuri masih menggenggam tangan yang sudah lama ia rindukan.

“Aku… Tidak bisa, Yuri-ah. Aku tidak…..”

“Tidak mencintaiku lagi? itukah yang ingin kau katakan? Jung Sooyeon, kita sudah bersama sejak kita kecil. Semudah itukah kau melupakanku?” tatapan sendu Yuri membuat yeoja di depannya itu memalingkan wajahnya.

Jessica tidak sanggup melihat wajah Yuri. wajah orang yang paling ia cintai. Wajah orang yang paling ia rindukan.

“Tatap aku, Sooyeon-ah.”

“Kau tidak mengerti, Yuri-ah.”

“Kau yang tidak mengerti, Sooyeon-ah!!!” Jessica tersentak. Ini adalah pertama kalinya Yuri membentaknya membuat setetes air mata mengalir tanpa permisi dari mata indah Jessica.

“Cukup Kwon Yuri-ssi!!!” Yoona mucul secara tiba-tiba. Di sampingnya berdiri seorang Seohyun.

“Ini bukan urusanmu!!” Yuri menatap tajam yeoja bermata rusa itu.

“Tentu saja ini menjadi urusanku, nona Kwon. Dia.. Yeoja ini adalah istriku.”

Yuri hanya tersenyum sinis setelah mendengar perkataan Yoona.

“Sooyeon-ah… Kau bilang bahwa kau sudah tidak mencintaiku bukan? Maka buktikanlah sekali lagi agar aku semakin yakin!” Jessica terkejut dengan apa yang baru saja Yuri katakan. “Aku yakin kau masih mencintaiku. Sooyeon-ah.”

“Baiklah..” Jessica menghempaskan tangan Yuri lalu menghampiri Yoona. Ia menarik tengkuk Yoona dan menempelkan bibirnya dan bibir Yoona. Jessica melumat bibir Yoona seakan-akan menikmati ciuman tersebut.

Yuri dan Seohyun membelalakkan mata mereka. Begitu pula dengan Yoona, ia terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Jessica itu.

Jessica melepaskan ciumannya. Menatap Yuri dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.

“Lupakan aku, Yuri-ah.” Jessica menarik paksa Yoona meninggalkan Yuri dan Seohyun di dalam restoran.

“Dia… Benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi, Joohyun-ah.” Yuri menundukkan kepalanya.

Eonni…” Seohyun mencoba mendekati Yuri.

Tanpa diduga, Yuri berjalan meninggalkan Seohyun.

Eonni… Yuri eonni!!! Tunggu!!!” Seohyun berusaha mengejar Yuri namun ia terlambat karena dengan cepat Yuri sudah mengendarai mobil BMW Z4-nya meninggalkan pelataran parkir restoran itu.

***

Suara isak tangis yang tertahan terdengar dari kamar pengatin baru itu. Yeoja yang lebih tinggi masih memeluk dan mencoba menenangkan yeoja dipelukannya yang belum berhenti menangis.

“A-ku me-rindu-kan-nya, Yoong.” Jessica masih terisak membuat perkataannya tersendat-sendat.

Eonni.. Kita sudahi saja pernikahan ini!”

Mwo?” Jessica menghapus air matanya lalu menatap yeoja bermata rusa itu.

Eonni… Aku tahu kau pasti sangat menderita. Aku sudah tidak sanggup melihatmu menderita, eonni.” Yoona menarik nafas sejenak. “Aku yang akan mengurus semuanya, eonni. Kau sebaiknya segera menemui Yuri!”

“Tapi appa tidak akan membiarkannya, Yoong.”

“Sudahlah, eonni. Aku yang akan mengurus semuanya. Jika yang kau khawatirkan adalah proyek Im Corp yang sekarang tengah dijalankan oleh perusahaanmu maka tak perlu kau fikirkan. Aku tidak akan membatalkan kontrak antara perusahaan kita. Kau tidak perlu khawatir!”

***

Perkataan Jessica masih terus berputar di kepala Yuri. kata-katanya seperti sebuah kaset rusak yang terus saja berputar. Sejak siang tadi Yuri memutuskan untuk berkeliling kota tanpa tentu tujuannya. Ia hanya terus memacu BMW Z4-nya hingga kini malam mulai menampakkan dirinya. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab di handphone-nya tak dihiraukan oleh yeoja berkulit kecokelatan itu.

Brak…

Yuri memukul setir mobilnya. Melampiaskan semua kekesalan dan rasa kecewanya.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Seohyun, dia memang tak seharusnya bertemu lagi dengan Jessica karena itu hanya akan memperburuk segalanya. Tapi pertemuannya tadi siang bukanlah keinginannya. Itu adalah takdir. Dan sepertinya takdir begitu senang mempermainkannya.

Ia menginjak pedal gas hingga membuat kecepatan mobilnya sudah melampaui kecepatan aman berkendara. Emosi begitu menguasainya sekarang ini. bayangan orang yang begitu ia cintai dan sekaligus orang yang telah membuat hidupnya hancur selalu menghiasi pikirannya. Tak sedetikpun ia bisa melupakan yeoja bernama Jessica Jung itu.

BRAKKKK

Terjadi benturan yang sangat hebat antara sebuah mobil BMW Z4 dengan sebuah Truk yang datang dari arah yang berlawanan.

CKIITTTT

BMW Z4 itu berputar sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menabrak pembatas jalan.

Sang pengemudi BMW Z4 itu terlihat tak sadarkan diri di dalam mobilnya. Di kepalanya yang terbentur setir mobil mengalir cairan kental berwarna merah.

 

Jessica POV

Aku tidak tahu apakah keputusanku dan Yoona untuk menyudahi pernikahan kami ini adalah keputusan yang baik atau tidak, mengingat pernikahan ini menyangkut perusahaan Appa dan Appa mertuaku. Aku yakin mereka tidak akan menyetujuinya. Tapi ini memang yang aku inginkan. Aku sudah tidak sanggup lagi untuk bersandiwara. Aku sudah tidak sanggup lagi membohongi perasaanku. Aku mencintai Yuri. hanya dia seorang. Bukan Yoona atau siapapun itu.

Tidak seperti biasanya, jalanan menuju apartemen Yuri cukup padat. Aku bahkan sudah terjebak di jalanan sejak tiga puluh menit yang lalu.

Kulihat sebuah ambulan dari arah berlawanan. Entah mengapa aku melihat ambulan itu berjalan dengan gerak lambat seperti yang ada di drama-drama picisan yang dulu sering Yuri tonton.

Deg…

Ada apa ini?

Bukankah seharusnya aku merasa bahagia karena sebentar lagi aku dan Yuri bisa bersatu kembali?

Tetapi… Perasaan tidak nyaman apa ini?

Sepertinya di depan baru saja terjadi kecelakaan. Aku melihat sebuah mobil BMW Z4 yang bagian depannya rusak parah kini sedang coba diangkut oleh para petugas.

Tunggu… BMW Z4?

Bukankah mobil Yuri juga…..

Tidak… Tidak mungkin… aku tidak boleh berfikiran seperti itu. Yuri-ku pasti baik-baik saja.

Setelah sampai di apartemennya, aku segera menuju ke lantai 9.

Ting…

Pintu lift terbuka.

Kulihat sosok yang akhir-akhir ini menemani Yuri –Seohyun- baru saja keluar dari apartemen Yuri dengan wajah yang panik.

Pandangan kami bertemu.

“Seo Joohyun-ssi. Ada apa?”

Ia Menundukkan kepalanya.

“Apa yang kau lakukan disini?” suaranya terdengar bergetar. Ada apa sebenarnya?

“A-aku ingin bertemu Yuri. Apa dia ada di dalam?” ia mengangkat kepalanya dan menatap tajam ke arahku.

“Ini semua salahmu, eonni. Jika saja tadi siang kalian tidak pernah bertemu maka semua ini tidak akan terjadi!”

Dia menangis.. Tetapi karena apa?

“Apa kau belum puas menyakiti Yuri eonni?”

“Seo Joohyun-ssi… Ada apa sebenarnya?”

“Sudahlah, tidak ada gunanya kita berdebat disini.” Ia berjalan meninggalkanku dan hampir memasuki lift.

“Tunggu!!! Kau mau kemana?”

“Seoul International Hospital..”

Jessica POV end

***

Beberapa lelaki dan wanita berseragam putih tengah mendorong sebuah brangkar yang baru saja di keluarkan dari mobil ambulan. Seorang yeoja terbaring lemas diatas brangkar itu. kepalanya masih mengeluarkan cairan kental berwarna merah. Mereka segera membawa brangkar itu ke dalam ruangan betuliskan “Emergency Room”.

Tak berselang lama setelah brangkar itu masuk ke dalam emergency room, dengan setengah berlari Seohyun menghampiri meja resepsionis.

“Apakah ada pasien bernama Kwon Yuri? Ia baru saja dibawa kesini. Ia korban kecelakaan yang terjadi di dekat apartemen Cheondamdong.” Ucap Seohyun tanpa jeda dan nafas yang masih memburu.

“Tenanglah nona. Akan saya cek terlebih dahulu. Anda bisa menunggu disana!”

Sambil mengambil nafas sejenak akhirnya Seohyun menuruti perkataan sang perawat. Ia menunggu di kursi yang disediakan.

“Nona, pasien yang anda maksud sedang dalam penanganan di emergency room. Anda bisa ikut dengan saya.”

Seohyun mengikuti perawat itu hingga di depan sebuah ruangan bertuliskan “Emergency Room

“Anda bisa tunggu disini, nona.” Setelah mengantar Seohyun, perawat itu meninggalkannya Seohyun sendiri.

Seohyun duduk dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia benar-benar khawatir terhadap orang yang bisa dibilang adalah orang yang paling berharga dalam hidupnya sekarang.

Selain karena Seohyun sebatang kara, Yuri merupakan satu-satunya yang menerimanya saat semua orang meninggalkannya. Ketika karir Seohyun sebagai seorang model hancur hanya karena sebuah skandal murahan. Ketika ia dibuang begitu saja oleh agency-nya. Ketika itulah Yuri datang sebagai penolongnya. Membawanya ke dalam kehidupan barunya dan juga membawa separuh hatinya….. meskipun Yuri tak pernah bisa membalas perasaannya.

Suara derap langkah tergesa menghampiri ruang emergency room itu. dua orang yeoja tiba di depan Seohyun. Membangunkan Seohyun dari penelusuran masa lalunya.

Wajah Seohyun memerah, menahan amarahnya melihat siapa yang kini tengah berdiri di depannya. Seohyun bukanlah yeoja yang temperamental, ia jarang sekali menunjukkan emosinya. Tapi untuk kali ini ia tidak bisa menahannya.

“Apa yang kau lakukan disini?” Seohyun bangkit menatap garang yeoja di depannya.

“Bagaimana keadaaan Yuri?” Jessica menghiraukan tatapan mengintimidasi dari Seohyun. Yang ada di fikirannya sekarang hanyalah Yuri seorang.

“Apa urusanmu, eonni? Bukankah kalian tidak memiliki hubungan lagi?”

Memang benar, sekarang Jessica dan Yuri sudah tak memiliki hubungan apa-apa. Mengingat bahwa Jessica lah yang memutuskan hubungan mereka.

“Sudahlah, bisakah kalian berhenti berdebat? Ini di rumah sakit!” Yoona yang sedari tadi hanya diam menonton kedua yeoja di depannya itu merasa geram. “Bukankah sekarang yang terpenting adalah keadaan Kwon Yuri?”

Baik Seohyun maupun Jessica terdiam. Mereka sadar bahwa tak seharusnya mereka berdebat.

Mereka bertiga menoleh ketika pintu emergency room itu terbuka menampilkan seorang pria paruh baya yang mengenakan jas putih.

“Siapa diantara kalian yang merupakan keluarga pasien?” dokter itu berjalan sambil membenarkan jasnya.

“Aku kekasihnya.” Seohyun angkat bicara terlebih dahulu. Membuat jantung Jessica hampir lupa caranya berdetak.

“Baiklah… nona..” Pria paruh baya itu memberikan jeda pada kalimatnya.

“Seo JooHyun.” Jawab Seohyun tegas.

“Baiklah, Nona Seo Joohyun. Anda bisa ikut saya ke ruang dokter. Ada yang perlu saya bicarakan dengan anda.”

“Bisakah aku ikut, dok?” Jessica mengucapkannya dengan ragu. Ia tahu bahwa Seohyun tidak akan mungkin membiarkannya, mengingat reaksi awal Seohyun saat melihat kehadirannya disini.

“Untuk apa?” nada dingin Seohyun membuat Jessica merasa terintimidasi. Ini kali pertama ada orang lain yang bisa melebihi sikap Icy-nya.

Seohyun masih menatap garang Jessica. Ia benar-benar tak mengerti apa maksud yeoja blonde itu. satu yang tertanam di otaknya. Jangan biarkan yeoja blonde itu berada di dekat Yuri.

……….

……..

…….

……

…..

….

..

.

T B C

 

Halo readersdeul-ku yang manis2, kece2, dan unyu2…. Apa kabar semuanya?

Hihihihihihi…… karena kemaren banyak yang galau gegara ff ini. termasuk llama sih. Wakakakaakak… Jadi llama memutuskan untuk bikin Sequel-nya. Tadinya Cuma mau dibikin 1 part aja, tapi kepanjangan ternyata. Jadi kemungkinan bakal ada part 2-nya. Tapi llama gak janji bisa apdet secepatnya yak! Hihihihihihi….

 

7 Years of Love

Title: 7 Years of Love

Author: Llamaunyu1809 a.k.a Lee Eun Soo

Length: oneshoot

Cast: cari sendiri aja deh! >,<

 oke.. langsung saja…

Cekidot~

.

.

.

.

7 tahun yang telah kita lalui bersama…

Tak seorang pun menyangka kita akan berpisah semudah ini..

Namun. Kita sudah berakhir…

Semua kenangan lama kini telah pergi..

Kau masuk ke dalam hidupku..

Menguasai relung hatiku yang paling dalam..

Perlahan tapi pasti kau telah mencuri hatiku..

Awalnya kita hanya berteman lalu kita menjadi sepasang kekasih…

Mereka bilang akan terasa sangat sakit ketika mengatakan selamat tinggal..

Tetapi aku bahkan tak bisa merasakan sakit ini..

Aku hanya bisa menangis….

Ketika waktu terus saja berlalu….

Satu kalimat yang sukses membuat hatiku hancur berkeping-keping…

“Aku tak bisa bersamamu lagi.”

Sangat sulit menjaga persahabatan kita setelah kita berpisah… Kata-kata itu memang benar..

Hari demi hari berlalu setelah kau meninggalkanku…

Kau masih disampingku, tetapi rasanya sangat berbeda.

Kau begitu dekat namun tak dapat kugapai.

Walaupun sekarang aku sudah menemukan orang lain dalam hidupku..

Bahkan aku sudah menemukan cinta yang lain..

Tetapi mengapa ini terasa sangat berbeda?

Aku masih memanggilmu saat sedih dan menangis dalam diam…

Aku memintamu  agar kau juga harus menemukan orang yang tepat

Tetapi sejujurnya jauh dilubuk hatiku yang paling dalam aku tak pernah menginginkan itu terjadi.

Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa mungkin kau masih mencintaiku.

Aku tahu…

Kau masih menyimpan kenangan kita…

Tetapi aku tahu juga bahwa tak ada yang bisa aku lakukan sekarang ini..

Kudengar kau akan segera menikah..

Aku tak bisa mengatakan apapun dan aku tak bisa bernafas untuk waktu yang cukup lama..

 Aku hanya bisa menangis sebanyak yang aku inginkan..

Aku Mencintaimu..

Aku benar-benar ingin mendengarmu mengatakan satu kalimat terakhir ini.. katakanlah bahwa kau masih mencintaiku juga..

Satu kalimat yang tidak akan pernah mungkin kudengar lagi.

 

 “Lihat, anak baru ini. dia berambut pirang. Dia pasti anak orang kaya. Ayo kita minta sedikit uang jajannya.” Beberapa namja kecil menjegat yeoja kecil berambut blonde.

“A-apa yang kalian inginkan?” ucap yeoja kecil berambut blonde itu ketakutan.

“Berikanlah kami sedikit uang jajanmu.” Seorang namja kecil memegang pundak yeoja kecil berambut blonde itu. sontak itu membuat yeoja kecil berambut blonde itu semakin gemetar.

“Kalian… berhenti mengganggunya.” Seorang yeoja kecil berkulit kecoklatan datang dengan gaya pahlawannya.

“Cih, Kau mau jadi pahlawan kesiangan?” seorang namja kecil berjalan mendekati yeoja kecil berkulit kecoklatan itu. namja itu melayangkan sebuah pukulan ke arah wajah yeoja itu.

Namun, dengan mudah yeoja itu menghindari pukulan itu dan balas menendang perut namja itu. namja itu sukses mendarat di atas lantai.

Melihat temannya terjatuh oleh seorang yeoja, tiga orang namja kecil lainnya maju berbarengan menyerang yeoja berkulit kecoklatan itu.

Bug..

1 orang namja terjatuh.

Bug..

1 orang lagi terjatuh.

Melihat teman-temannya kalah. Seorang namja kecil yang terakhir mengambil sebuah sapu yang berada di dekatnya dan mencoba melayangkan sapu itu ke arah yeoja berkulit kecoklatan itu.

Crak..

Yeoja itu menahan sapu itu dengan lengannya. Membuat sapu itu patah. Dengan satu gerakan cepat ia menendang namja itu.

 “Gwaenchana?” yeoja berkulit kecoklatan itu menghampiri yeoja berambut blonde yang masih berdiri mematung di tempatnya tadi.

“A-aku tidak apa-apa. Harusnya aku yang menanyakannya. Gwaenchana?” yeoja kecil berambut blonde itu menunjuk lengan kanan yeoja berkulit kecoklatan itu.

“Oh, hahahah.. Aku baik-baik saja. Ini tidak sakit sama sekali.” Yeoja berkulit kecoklatan itu menggerak-gerakkan tangannya menandakan bahwa tangannya tidak apa-apa. “Aku Yuri, Kwon Yuri.” ia mengulurkan tangannya yang sepertinya tidak benar-benar baik-baik saja. Terlihat dari tangannya yang gemetar ketika mengulurkan tangannya itu.

“A-aku Jessica.” Yeoja kecil berambut blonde itu menyambut uluran tangan yeoja berkulit kecoklatan itu. mereka saling tersenyum.

***

“Yuri-ah… Aku lelah..” seorang yeoja berambut blonde berjalan pelan karena sudah hampir tak sanggup melanjutkan perjalanannya. Ia meletakkan tasnya begitu saja di tanah lalu menjatuhkan dirinya sendiri. Dia duduk sambil mengatur nafasnya.

“Ayolah, Sooyeon-ah. Ini sudah hampir sampai diatas. Tidak lucu kalau kita kembali tanpa melihat pemandangan dari atas sana.” Yeoja berkulit kecoklatan yang berjalan didepannya berhenti dan berkacak pinggang.

yeoja berambut blonde itu mengatur nafasnya yang masih memburu. “Tapi aku sangat lelah, lagipula idemu ini benar-benar….”

“Ayo naik ke punggungku.”  Yeoja berkulit kecoklatan itu mengedepankan tas ranselnya agar bisa menggendong yeoja blonde itu.

“Tapi..”

“Sudahlah, ayo naik.”

Yeoja berambut blonde itu akhirnya menaiki punggung yeoja berkulit kecoklatan itu.

“Kau memang lemah, Sooyeon-ah.” Yeoja berkulit kecoklatan itu sukses medapatkan sebuah pukulan pelan di kepalanya.

Mereka sampai diatas gunung itu dengan selamat.

“Ini benar-benar indah, Yuri-ah.” Yeoja berambut blonde itu merentangkan kedua tangannya dan merasakan tiupan angin menerpa wajahnya.

“Sudah kubilang pemandangan disini memang indah.” yeoja berkulit kecoklatan itu tersenyum dan terus memandangi yeoja disampingnya itu.

 

***

 “Yuri-ah, bagaimana dengan yang ini?” yeoja berambut blonde membawa sepiring makanan yang bisa dibilang tak berbentuk itu kepada yeoja berkulit kecokelatan yang sudah menunggu di meja makan.

“Ya ampun, Sooyeon-ah. Apa kau ingin membunuhku dengan ini?” yeoja berkulit kecokelatan itu menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Biarkan aku saja yang memasak. Oke?” yeoja berkulit kecoklatan itu mengambil celemek yang dipakai yeoja berambut blonde itu.

“Apa yang bisa ku bantu?” yeoja berambut blonde itu mendekati yeoja berkulit kecoklatan yang tengah memotong-motong beberapa bahan makanan.

“Kau tak perlu membantu apa-apa. Cukup tunggu disana, arra?” yeoja berkulit kecoklatan itu mengelus pelan puncak kepala yeoja berambut blonde itu.

 “Ini enak sekali, Yuri-ah.” Yeoja berambut blonde itu begitu lahap menyantap omurice buatan yeoja berkulit kecoklatan itu.

 

***

“Sooyeon-ah, maukah kau menjadi kekasihku?” seorang yeoja berkulit kecoklatan berdiri di depan seorang yeoja berambut blonde.. “Jika kau bersedia, maka ambilah kalung ini.” Ia memegang sebuah kalung berinisial KYR.

Mian…” yeoja berambut blonde itu mendekati yeoja berkulit kecoklatan itu. ia menundukkan kepalanya.

“G-gwaenchana…” yeoja berkulit kecoklatan memaksakan sebuah senyuman. “Kita masih bersahabat bukan?” ia mengelus pelan puncak kepala yeoja yang ia cintai itu.

“Maafkan aku.. karena aku tak bisa menolakmu.” Tanpa diduga yeoja berambut blonde itu mengambil kalung ditangan yeoja berkulit kecoklatan itu lalu memeluknya.

Mereka bergandengan tangan sepanjang jalan. Mereka masing-masing mengenakan kalung dengan inisial KYR dan JSY. saling tersenyum satu sama lain.

“Aku mau kue coklat.” Yeoja berambut blonde itu merengek menunjuk sebuah kue coklat yang terpampang di etalase sebuah toko kue.

“Baiklah”

Mereka memesan sebuah kue cokelat. Sebenarnya hanya yeoja berambut blonde saja yang menikmati kue itu. sedangkan yeoja berkulit kecoklatan itu hanya memandangi yeoja didepannya itu sambil sesekali tersenyum melihat tingkah yeoja berambut blonde itu.

“Apa kau mau, Seobang?” yeoja berambut blonde itu menawarkan kue yang tersisa sedikit di piringnya.

Yeoja berkulit kecoklatan menggelengkan kepalanya. Ia bangkit dari kursinya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah yeoja berambut blonde itu.

Chuuu

Yeoja berkulit kecoklatan itu sukses medaratkan sebuah kecupan singkat di bibir yeoja berambut blonde itu.

Ia melepaskan kecupannya dan tersenyum. “Ada sedikit krim di sudut bibirmu.”

Untuk beberapa saat yeoja berambut blonde itu hanya terdiam. Masih memproses apa yang baru saja terjadi.

“Yah!!! Kwon Yuri, ini di tempat umum.” Yeoja berambut blonde itu tersadar dan memukul lengan yeoja di depannya itu beberapa kali.

“Aww… awww.. sakit, baby.”

“Rasakan ini..” yeoja berambut blonde itu terus memukuli lengan yeoja berkulit kecoklatan itu.

Setelah merasa cukup lelah memukuli yeoja di depannya itu. kini yeoja berambut blonde itu duduk dan menarik nafas beberapa kali.

“Jadi kalau bukan di tempat umum aku boleh melakukannya lagi? Hahahahah…”

 

***

Seobang. Jika suatu saat nanti aku meninggalkanmu apa yang akan kau lakukan?” ucap Jessica yang tengah berbaring dipangkuan Yuri.

Yuri yang sedari tadi mengelus kepala Jessica menghentikan aktifitasnya tersebut. “Apa yang kau katakan? Aku tak mau menjawabnya.”

“Aku kan hanya bilang “Jika”. Tapi jika saat itu datang, kumohon kau berjanji padaku…”

“Aku tidak mau…”

Seobang….”

“sudah kubilang aku tidak mau. Aku tidak akan melepaskanmu.” Yuri mengelus lembut pipi yeoja yang sangat dicintainya itu.

Mianhae, Seobang.” Batin yeoja berwajah Barbie tersebut.

***

“Sooyeon-ah, mengapa kau lakukan ini? aku benar-benar mencintaimu..”

“Maafkan aku, Yuri-ah. Aku.. aku tak bisa meneruskan hubungan ini.” Jessica menundukkan wajahnya. Tak kuasa menatap yeoja yang tengah menahan tangis didepannya.

“Ini hanya lelucon bukan? Katakan kau tidak benar-benar akan meninggalkanku.” Tangis yeoja berkulit kecoklatan itupun akhirnya pecah.

“Aku tak bisa bersamamu lagi..” yeoja berambut blonde itu melepaskan kalung berinisial KYR-nya lalu memberikan kalung itu kepada yeoja di depannya.

“Tidak… kau tidak boleh pergi.” Yeoja berkulit kecokelatan itu memeluk erat yeoja berambut blonde itu. “Aku tidak bisa melepaskanmu, Sooyeon-ah.”

“Maafkan aku, Yuri-ah.”

***

“Sooyeon-ah…”

“Aku mencintaimu, Sooyeon-ah”

“Kembalilah… Sooyeon-ah…”

Yeoja berkulit kecokelatan itu masih mengurung dirinya dikamar. Hari-harinya sudah cukup kelam setelah ditinggal oleh Jessica. Setiap malam ia selalu menangis dalam diam.  Memanggil yeoja berambut blonde itu ketika ia terlelap.

 “Eonni…” sebuah suara lembut menginterupsi yeoja berkulit kecoklatan itu. ia menoleh dan mendapati yeoja cantik yang akhir-akhir ini menemaninya.

“Aku… Aku tidak bisa melupakannya, Juhyun-an. Aku terlalu mencintainya.”

 

***

“jadi ini kekasihmu? Dia sangat cantik, Yuri-ah.” Seorang yeoja berambut blonde memperhatikan yeoja berwajah polos yang baru saja datang.

“Namaku Seo Juhyun.” yeoja berwajah polos itu membungkukkan badannya di depan dua yeoja lainnya.

“Baiklah, aku masih ada rapat setelah ini. aku duluan yah!” sang yeoja berambut blonde bergegas meninggalkan tempat itu. meninggalkan yeoja berkulit kecoklatan yang terus memperhatikannya meski dia terus berjalan menjauh.

***

“Ini undangan pernikahanku, Yuri-ah. Kau harus datang.” Yeoja berambut blonde itu tersenyum lembut ke arah yeoja berkulit kecokelatan itu.

Dengan ragu-ragu yeoja berkulit kecokelatan itu mengambil undangan pernikahan orang yang masih ia cintai itu.

“Kenapa ini semakin membuatku sesak, Juhyun-ah.” Yuri menangis sejadi-jadinya di pelukan yeoja berwajah polos itu.

“Gwaenchana, eonni.” Seohyun semakin mempererat pelukannya pada Yuri. mencoba membuat Yuri lebih tenang.

***

Yuri POV

Aku berdiri seperti orang bodoh disini. Melihatmu menggandeng yeoja lain disana. Yeoja bernama Im Yoona itu telah berhasil merebut hatimu.Kau terlihat sangat bahagia bersanding dengan yeoja itu.

“Kau harus segera menyusulku, Yul.” Dengan balutan gaun pengantin yang sangat indah itu kau tersenyum kepadaku.  Senyuman yang menyayat hati. Membuat lukaku yang masih menganga semakin terasa nyeri.

Akulah yang seharusnya berada disampingmu. Akulah yang seharusnya menggandengmu dengan mesra disana. Aku… harusnya aku.

Aku masih mengingat kata-katamu tiga tahun yang lalu..

Kau selalu Menjagaku.. karena aku sangat lemah..

Aku mencintaimu apa adanya..

Sangat menyenangkan bisa bersamamu..

Jadi kumohon jangan pernah berubah..

Aku mencintaimu Yuri-ah…

Apa kau benar-benar sudah tidak mencintaiku, Sooyeon-ah?

..

.

FIN

 or

TBC?

 

Wakakakakakakakak…. Ff macam apa ini??? XD

Okay.. ini emg absurd banget… tiba-tiba dapet ide buat bikin beginian..  ini terinspirasi dari FMV YulSic yang judul lagunya itu sama dengan judul ff ini… XD

jangan lupa komen yah… ^.^

See yah… :*

Girls Before Flower (Chap 6)

Author : Llamaunyu1809  a.k.a  Lee Eun Soo

Title : Girls Before Flower

Genre : Shojou Ai (Girl x Girl), Comedy, Romance

Rated : T ( belum kuat buat yang M ^_^)

Cast : Krystal Jung, Amber J. Liu as Lee EunYoung, Choi Sulli, Kwon Yuri, Im Yoon Ah, Jessica Jung, Park Luna, Seo JooHyun

Sub cast: Find it by your self!!!

 

Hope you like it and…

Happy reading.. ^,^

 

WARNING!!! GIRLS LOVE STORY

Don’t Like Don’t Read

Typo dan EYD bertebaran

Chapter 6

 

Krystal POV

Hari ini tepat seminggu setelah kepergian Luna eonni ke Perancis. Dan tentu saja akhirnya Sulli menyusul Luna eonni ke Perancis. Di sekolah tak ada yang berubah. Hanya saja akhir-akhir ini aku jarang melihat si bodoh itu. tunggu…

hey, apa aku merindukannya?

Tidak…

Tidak mungkin aku merindukan si bodoh itu. aku hanya merasa aneh karena si bodoh itu tidak melakukan hal-hal menyebalkan seperti biasanya. Ya, hanya sebatas itu saja. Tidak lebih.

Deg…

Baru saja aku memikirkannya dan si bodoh itu kini tengah berjalan ke arahku yang masih duduk santai di kursi taman. apa yang dia inginkan kali ini?

Aku memalingkan wajahku dan berpura-pura tak melihatnya. Berharap dia tidak benar-benar menghampiriku.

“Maafkan aku.”

Dan ternyata harapanku tak dikabulkan. Kini ia berdiri di samping kursi taman yang tengah kududuki sambil menundukkan kepalanya.

“Untuk?” aku masih tak mau menoleh ke arahnya.

“Untuk semuanya.” Aku meliriknya sekilas, ia masih menundukkan kepalanya.

Aku terdiam sejenak. Memikirkan apa yang harus ku katakan selanjutnya. Aneh bukan? Ia meminta maaf? Seseorang yang baru-baru ini kukenal sebagai orang paling angkuh di sekolah ini meminta maaf kepada seorang gadis biasa sepertiku yang pernah menjadi bahan lelucon untukknya? Atau… ini juga merupakan lelucon untuknya?

“Taman kota jam 2 siang. Aku akan menunggumu disana. Apa pun yang terjadi.” Setelah mengatakan itu kulihat ia beranjak pergi.

Apa-apaan dia? aku bahkan belum mengatakan bahwa aku sudah memaafkannya. Dan dia pergi begitu saja dengan sebuah pernyataan yang masih belum kumengerti.

Ia mengajakku berkencan?

Tidak…

Kurasa dia hanya akan mengerjaiku seperti biasa.

Sudahlah. Aku tak perlu memikirkannya.

Aku segera beranjak dari taman menuju kelasku karena pelajaran akan segera dimulai.

 End of Krystal POV

 

Miss Jung, Apa kau sudah sarapan?” tanya seorang yeoja tanned kepada yeoja yang lebih tua darinya itu.

Kini di the roses’ room hanya ada mereka berdua.

Jessica atau lebih sering dipanggil Miss Jung ini tak menjawab pertanyaan sang yeoja tanned itu.

Merasa tak digubris. Yuri berjalan mendekati  Jessica yang masih sibuk dengan buku tebalnya itu.

“ini.” Yuri menaruh sebuah kotak makanan berwarna pink di meja Jessica.

“Aku sudah sarapan, nona Kwon. Jadi kau tidak perlu repot-repot.” Ucap yeoja berwajah Barbie itu tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebalnya.

 

Jessica POV

“ini.” yeoja tanned itu menaruh sebuah kotak makanan berwarna pink di mejaku.

“Aku sudah sarapan, nona Kwon. Jadi kau tidak perlu repot-repot.” Ucapku tanpa mengalihkan pandanganku dari buku yang tengah ku baca ini.

You’re so mean, miss. Aku rela bangun lebih pagi hanya untuk menyiapkan ini.” kulihat ia mengerucutkan bibirnya.

Deg…

Ada apa dengan jantungku?

Mengapa jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya?

Aku berdiri dari kursiku karena kulihat dia semakin mendekat kepadaku.

“Ada apa miss?” ia menyeringai dan membuatku refleks berjalan mundur. Sial.. Mengapa aku  menjadi salah tingkah di depan seorang murid SMA.

“K-kemana Nona Im dan Nona Lee?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Tapi sepertinya itu sia-sia. Ia tak menjawab. Aku terus berjalan mundur hingga terhenti oleh tembok. Sial.

Kini ia tepat berdiri di depanku. Jarak kami hanya beberapa jengkal.

Miss Jung…” Ia semakin mempersempit jarak diantara kami. “Mau kah kau menjadi kekasihku?” ia meletakkan tangannya di dekat telingaku.

Apa-apaan dia? aku ini seorang guru dan dia adalah muridku. Dan dia memintaku menjadi kekasihnya? Yang benar saja…

Aku menarik nafas. Mengumpulkan semua keberanian yang tadi sempat menghilang entah kemana karena yeoja ini.

“Kau tak sepantasnya mengatakan itu kepada gurumu, nona Kwon.” Aku menepis tangannya. Dan mencoba berjalan menjauh darinya. Tiba-tiba ia menarik tanganku dan itu membuatku kehilangan keseimbangan.

Brukkk…

Aku terjatuh tepat diatas yeoja ini. ia hanya memberikan senyum konyolnya. Aku mencoba bangkit tapi kedua tangannya melingkari pinggangku dan menahanku.

“Bagaimana dengan permintaanku tadi, miss?” ia menatapku dengan tatapan yang membuatku masuk kedalamnya. Aku… Terperangkap di dalamnya…

Oh god…

Apa yang harus ku lakukan?

Deg..

Deg..

Deg..

“A-aku tidak bisa. Aku ini gurumu jadi mana bisa menjadi kekasihmu?” Aku memalingkan wajahku darinya. Aku tak mau terlalu jauh terperangkap di dalam matanya.

“Hm, jadi itu satu-satunya alasanmu menolakku? Baiklah…” Ia tersenyum lalu tiba-tiba mengecup singkat bibirku.

Sial. anak ini benar-benar. Itu adalah ciuman pertamaku.  Aku ingin sekali menamparnya tetapi sekarang aku tak bisa melakukannya karena kedua tanganku tengah menopang tubuhku agar tak sepenuhnya menempel dengan yeoja ini.

Ceklek…

Kudengar suara pintu dibuka. Oh tidak…

“Uppsss… Maaf mengganggu.” Refleks aku menoleh kearah pintu dan kulihat Yoona dan Amber sudah berdiri disana dan bersiap menutup pintu lagi. sebelum itu terjadi aku memaksa untuk bangun dan untungnya yeoja ini langsung melepaskan tangannya yang melingkar di pinggangku.

“Apa yang kalian lihat barusan tidak seperti yang kalian fikirkan.” Aku membereskan blazer-ku yang sedikit berantakan. “ Sebaiknya kalian duduk di kursi masing-masing. Pelajaran akan segera dimulai.” Aku duduk di kursiku dan kulihat yeoja itu tengah duduk dilantai. “Kau.. Nona Kwon, cepat kembali ke tempatmu.” Ia hanya tersenyum dan mengerlingkan sebelah matanya lalu bangkit dan menuju kursinya.

 End of Jessica POV

***

Seorang yeoja tampan tengah duduk manis di sebuah kursi taman kota. Cuaca yang cukup mendung tak mengganggunya. Dia tetap duduk disana meskipun orang-orang mulai meninggalkan taman karena dirasa akan segera turun hujan.

Dan benar saja. Tak berselang lama rintik hujan satu persatu turun.

Yeoja tampan itu menengadahkan kepalanya. Merasakan satu persatu rintik hujan turun mengenai wajah tampannya.

***

Yoona POV

Berkumpul bersama keluarga adalah hal yang paling di dambakan oleh semua orang. Keluarga yang harmonis tentunya. Tak seperti keluargaku yang diluar terlihat baik-baik saja tetapi didalam terlalu banyak rahasia yang memuakkan. Sandiwara… itulah kata yang tepat untuk mendeskripsikan keluargaku. Keluarga ini hanyalah sebuah sandiwara. Dimana lelaki paruh baya di depanku ini berperan sebagai seorang “ayah yang baik”. Dan wanita ini menjadi “ibu yang baik”. Dan aku? Aku juga seharusnya berperan sebagai anak yang baik.

Aku bangkit dari kursi, hendak meninggalkan ruang makan yang terasa sepi ini. Aku merasa asing disini. Di keluargaku sendiri.

“Kau mau kemana, Yoong?” suara berat pria paruh baya itu menghentikan langkahku sejenak.

“Bukan urusanmu, Appa.” Aku berbicara santai dan memberikan penekanan pada kata “Appa”.

“Berhentilah berbuat onar, kau adalah penerus keluarga ini. mulai sekarang kau harus menjaga sikapmu.”

Cih, Keluarga… Keluarga macam apa yang dia maksud?

“Keluarga… Apa kau benar-benar menganggapku sebagai keluargamu, Appa?” Aku menoleh ke arahnya. “Kau.. ah.. Kalian bahkan tak pernah menginginkan keluarga ini bukan?”

“Tutup mulutmu!” ia bangkit dari kursi dan menggebrak meja makan.

“Sudahlah Appa.. Berhentilah bersandiwara… Aku sudah tau semuanya, Appa. Appa dan eomma tak pernah saling mencintai. Dan pernikahan kalian pun semata-mata hanya karena urusan bisnis. Aku bahkan tahu bahwa eomma…..” 

Plakkk

Pipiku terasa panas..

Cih, Aku hanya bisa tersenyum miris.

Aku segera meninggalkan ruang makan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Brakkkk

Aku membanting pintu mobilku. Menghempaskan tubuhku di kursi pengemudi. Menarik nafas dalam sebelum menyalakan mobilku.

Suasana kota siang ini agak tidak bersahabat. Hujan turun cukup deras. Kulihat banyak orang yang tengah berteduh di toko-toko pinggir jalan.

Aku memperlambat laju mobilku di depan sebuah toko roti. Toko roti ini… mengingatkanku akan yeoja itu.

“Selamat datang.” Sebuah suara lembut menyapa indera pendengaranku ketika membuka pintu toko ini.

Deg..

Yeoja ini……

End of Yoona POV

***

Krystal POV

Aku menopang daguku dengan tangan kananku, memandangi air yang turun kian banyak dari jendela kamarku.

“Apa yang sedang kau fikirkan, baby?” suara lembut Sica eonni membuyarkan lamunanku tentang si bodoh itu.

Benarkah si bodoh itu akan menungguku disana? Sejak kemarin aku tak bisa berhenti memikirkan ini.

“Bukan apa-apa, eonni.” Aku menoleh singkat ke arahnya dan memberikan senyuman andalanku untuk menyakinkannya.

 “Kau bahkan tak menjawab panggilanku yang pertama, Soojung-ah.” ia berjalan mendekatiku. “Dan kau bilang kau tidak memikirkan apa-apa?” ia mengelus pelan puncak kepalaku.

“Aku hanya memikirkan……” perkataanku terpotong karena getaran handphone Sica eonni.

Drrt drrt…

Kulihat wajah Sica eonni terlihat tegang setelah membuka pesan yang baru saja masuk ke handphone-nya.

“Soojung-ah. Eonni harus pergi.” Ia segera bergegas mengambil mantel cokelat kesukaannya dan berlari meninggalkanku sendiri di kamar.

Hhhhhh…

Aku kembali memandangi jendelaku yang kini sudah mulai berembun. Kembali memikirkan si bodoh itu lagi?

 “Taman kota jam 2 siang. Aku akan menunggumu disana. Apa pun yang terjadi.”

 Kata-katanya kembali terlintas di kepalaku.

Apa mungkin dia akan tetap menungguku? mustahil… Mana ada orang yang mau melakukannya. Kecuali dia cukup bodoh untuk menunggu seseorang dibawah guyuran hujan seperti ini. Tunggu…

Dia kan memang bodoh…

Aku segera bangkit dari kursi dan mengambil mantel putih yang tergantung di belakang pintu kamarku.

“Kau mau kemana, Soojung-ah?” eomma yang tengah duduk di ruang tamu memandangku bingung.

Aku mengambil payung yang tergeletak di lantai.

“Aku akan segera kembali eomma.”

End of Krystal POV

 

“Kau akan sakit jika tetap disana.” Seorang yeoja berteriak kepada yeoja tampan yang masih setia duduk di kursi taman di tengah guyuran hujan yang kian lebat.

Yeoja itu berniat memberikan payungnya kepada yeoja tampan di depannya itu.

Brakkk

“Aku tak membutuhkan itu.” yeoja tampan itu menepis payung yang hendak diberikan kepadanya itu.

***

“Jadi kau pemilik toko ini?” Yoona terlihat agak kaget mendengar pernyataan yeoja berwajah polos di depannya itu.

Yeoja berwajah polos di depannya hanya menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.

“Lalu.. Bagaimana hubunganmu dengan namja itu? apa namja itu pernah menghubungimu lagi? atau dia benar-benar meninggalkanmu?” Yoona menyesap susu coklat hangat yang baru saja dia pesan.

Yeoja berwajah polos itu terdiam.

 Melihat perubahan raut wajah dari yeoja di depannya Yoona merasa bersalah karena menanyakan hal yang mungkin tak ingin lagi dibahas olehnya itu.

M-Mian… Aku tak seharusnya menanyakan hal itu.”

Gwaenchana…” yeoja berwajah innocent itu tersenyum.

“Sebagai permintaan maafku, Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”

“Tapi aku harus menjaga toko ini…”

“Aku akan membeli semua kue yang ada disini. Jadi kau bisa menutup toko ini lebih cepat dari biasanya.” Yeoja bermata rusa itu mengeluarkan sebuah ATM dari dompetnya.

***

Keheningan cukup lama menyelimuti Jessica dan seorang yeoja tanned yang kini tengah duduk berhadapan di sebuah restoran mewah. Alunan musik romantis tak membuat Jessica terhanyut dalam suasana romantis yang yeoja tanned itu coba ciptakan.

“Yang benar saja.. Apa maksud dari semua ini, nona Kwon?” Jessica berdiri dan menggebrak meja, membuat pengunjung lain menoleh ke arah mereka.

“Tenanglah miss, banyak yang melihat ke arah kita.” yeoja berkulit kecoklatan itu tersenyum, berlagak tak mengetahui apapun walaupun sebenarnya ini semua adalah rencananya. “Memangnya ada apa, miss?”

“Cukup bermain-mainnya, nona Kwon. Apa yang sebenarnya kau inginkan?” Jessica mengeluarkan Icy glare andalannya.

“Aku ingin Kau menjadi kekasihku dan berhenti menjadi guru di SM International School.”

Jessica menggertakkan giginya. Ia sudah cukup kesal dengan muridnya yang satu ini. ia hendak meninggalkan tempat itu namun sepasang tangan melingkari pinggangnya.

“Kau belum menjawabnya, miss.” Yuri meletakkan dagunya di pundak Jessica dan makin mempererat pelukannya di pinggang Jessica.

***

“Bodoh… Dia memang bodoh.” Krystal mendekati seorang yeoja tampan yang masih duduk di tengah guyuran hujan. “Hey, bodoh. Apa yang kau lakukan disini?”

Yeoja tampan itu menoleh ke arah sumber suara. seseorang yang dia tunggu akhirnya datang.  

“Kau ini benar-benar bodoh. Apa yang membuatmu begitu yakin jika aku akan datang kesini?”

“Aku tahu kau pasti datang.”  dengan Wajah yang terlihat pucat yeoja tampan itu masih bisa tersenyum. Senyum yang membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.

.

.

.

T B C

 

Danshin? Pendek? Kayak Taeyeon ato Luna? Ah sudahlah.. yang penting llama apdet.. :3

pokoknya jangan lupa komen yah… ^.^

See yah!!! :*